Agama untuk Orang Miskin

Agama untuk Orang Miskin
©Amazon

Nalar WargaAgama untuk Orang Miskin. Begitu Luthfi Assyaukanie menjuduli postingannya hari ini di media sosial Facebook, 13 Februari 2022.

Luthfi mengaku kesimpulan “agama untuk orang miskin” tersebut datang setelah dia membaca buku terbaru Ronald Inglehart, Religion’s Sudden Decline, yang terbit tahun lalu.

“Buku ini mengulas hasil penelitian dia tentang pertumbuhan agama-agama di dunia. Kesimpulannya: agama tumbuh subur di negara-negara insecure (gak aman) dan terjadi penurunan di negara-negara aman (secure),” tulisnya mengawali.

18 tahun lalu, kenang Luthfi, Inglehart bersama Pippa Norris, dosen Universitas Harvard, menerbitkan buku Sacred and Secular. Buku ini menunjukkan gejala naiknya agama-agama di dunia.

“Buku terbarunya semacam kelanjutan dan revisi dari buku itu dengan hasil yang mencengangkan. Di buku lama, dia menegaskan bahwa pengetahuan (pintar) tidak menjamin orang meninggalkan agama. Faktor terkuat mengapa orang menjadi tak religius adalah karena semua kebutuhan material dan mentalnya terpenuhi (secure).”

Dia pun menegaskan bahwa teori Inglehart sangat cocok untuk menjelaskan negara-negara paling religius sedunia: negara muslim.

“Sebagian besar kaum muslim hidup dalam kemiskinan. Sebagian lainnya hidup dalam ketakutan karena perang atau karena hidup di bawah rezim otoriter.”

Lebih detail, Luthfi memaparkan data bahwa 43 dari 50 negara berpenduduk mayoritas muslim hidup dengan pendapatan per kapita di bawah rata-rata dunia. Tujuh sisanya adalah negara kaya minyak yang dipimpin secara otoriter.

Baca juga:

“Temuan Inglehart ini cocok dengan teori-teori kemunculan agama. Agama muncul untuk menanggulangi penderitaan dan rasa cemas manusia.”

Dia lalu menunjukkan gejala agama pertama kali muncul sekitar 70 ribu tahun silam, ketika kemampuan kognisi manusia makin menguat.

“Bahasa juga mulai berkembang pada masa-masa ini. Dengan bahasa, manusia tak hanya bisa berkomunikasi, tetapi juga memunculkan ide-ide yang lahir dari khayalan mereka.”

Ide-ide tersebut, bagi Luthfi Assyaukanie, mengurangi penderitaan manusia dan bisa mengatasi problem hidupnya.

“Orang yang merasa hancur karena tiba-tiba ditinggal mati ibunya akan terhibur dengan ide kehidupan setelah kematian. Dengan begitu, dia punya harapan akan bertemu ibunya kembali. Orang yang seumur hidupnya miskin akan merasa terhibur dengan ide tentang surga dan kemewahan hidup setelah mati.”

Dia kemudian memberi perbandingan di negara-negara maju, di mana ide-ide khayali seperti itu tidak jadi kebutuhan warganya. Mereka mampu mengatasi semua problem kehidupan, di mana negara secara bertanggung jawab memberikan jaminan kesehatan, pendidikan, hari tua, keluarga, dan hidup enak dengan berbagai macam fasilitas.

“Tak heran,” kata Luthfi mengutip Inglehart, “agama makin tak laku di negara-negara itu.”

Rujukannya adalah negara-negara Nordik dan beberapa negara Barat lainnya, termasuk Amerika, yang dalam 10 tahun terakhir mengalami gelombang hijrah ke ateisme.

Baca juga:

Karena itu, Luthfi mengimbau khusus kepada para pengelola negara agar mengurus negara dengan benar tanpa korupsi. Kerja keras, genjot pertumbuhan ekonomi, dan berdayakan masyarakat adalah kunci.

“Jika negara kita maju, otomatis rakyat akan meninggalkan kisah-kisah fiktif yang sejatinya tak berguna itu.” [fb]