Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta, Buku ke-2 Maman Suratman

Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta, Buku ke-2 Maman Suratman
Maman & buku keduanya: "Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta" (Philosophia Press, 2018).

Nalar PolitikTiga tahun setelah terbitnya Kesaksian, Kisah Perlawanan Mahasiswa (Philosophia Press, 2015), terbit kembali buku ke-2 Maman Suratman berjudul Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta dengan penerbit yang sama di tahun 2018.

Di buku pertama, Maman menceritakan pengalaman hidupnya terkait dunia pendidikan. Kala itu, ia berbenturan iklim pendidikan yang tak mendidik di salah satu universitas swasta Yogyakarta, hingga drop-out menjadi hilir perjuangannya.

“Buku Kesaksian itu sebenarnya berawal dari kegelisahan pribadi yang ternyata menjadi kegelisahan beberapa rekan mahasiswa juga waktu itu. Saya merasa kebebasan berpikir dan berkumpul saat itu tidak diberikan kampus dengan adanya pelarangan membentuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Karena itu, segala bentuk perjuangan kami, bernaung dalam Alinasi Perjuangan Demokrasi Kampus (APDU), saya tuangkan dalam buku itu,” ucap Maman saat ditemui di Yogyakarta, Kamis (25/1/2018).

Adapun di buku ke-2 Maman Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta, Maman Suratman menjelaskan bahwa keduanya memiliki semangat yang serupa: sama-sama berangkat dari realitas yang bobrok, yang kali ini berarus dalam dunia politik.

“Semangat penulisan buku pertama saya dengan buku terbaru ini sebenarnya sama. Kalau buku yang dulu realitasnya adalah dunia pendidikan, maka yang ini realitasnya dunia politik. Jadi, semacam curhat politik. Kira-kira begitu,” terangnya kembali.

Lebih lanjut, buku ke-2 Maman ini adalah kumpulan tulisan mengenai sejumlah kontroversi Ahok dalam konteks Pilkada DKI Jakarta 2017. Mulai dari kasus penistaan agama, debat kandidat, survei-survei elektabilitas, hingga patahan perjuangan Ahok yang berhilir di jeruji besi, Maman tuangkan dalam buku setebal 200 halaman lebih.

“Ini adalah kumpulan tulisan saya di berbagai media massa dan tulisan lepas lainnya yang menyoal perpolitikan Pilkada Jakarta tahun lalu. Banyak kejadian yang saya sorot di dalamnya, tidak melulu soal Pilkada, tapi juga kasus-kasus lain yang menyertainya seperti kasus penistaan agama,” tambah editor Qureta ini.

Lihat juga: Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta

Ketika ditanya mengapa dirinya sangat concern di dunia tulis-menulis, penjelasannya meminjam penekanan dari novelis Pramoedya Ananta Toer. Bahwa kerja kepenulisan adalah konsekuensi logis dari keber-ada-annya sebagai manusia yang harus menuliskan sejarah, terlebih sebagai mahasiswa yang dituntut peka pada realitas.

“Inspirasi menulis saya itu Pram. Kalau kau tidak menulis, maka akan hilang dalam sejarah. Karena aktivitas saya di dunia literasi, maka saya menulis. Pun ini salah satu cara saya mendedikasikan diri sebagai seorang mahasiswa yang orang sebut punya peran selaku agen perubahan,” pungkasnya.

Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini juga berpesan kepada kaum muda lainnya agar tak lemah syahwat dalam mencatatkan semua bentuk ketidakadilan yang terjadi di sekitar.

“Setiap dari kita harus berani mengambil peran untuk mencatatkan sejarah, sekalipun terkadang menjadi terasing. Jangan sampai kita menjadi mahasiswa munafik, tahu masalah tapi tak berani bersuara,” lanjut Maman.

“Meskipun harus terasing di lingkungan terdekat, ya begitulah konsekuensinya jika tak ingin menjadi manusia munafik. Soe Hok Gie juga telah mengatakan itu, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Tapi, sekarang kalimat itu seperti dijungkirbalikkan menjadi lebih baik munafik daripada terasing,” sambungnya.

Buku Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta rencananya akan launching di Yogyakarta awal Februari. Buku ini telah masuk dapur percetakan, yang dalam bulan ini akan segera rampung.

“Nantikan saja. Bulan depan akan saya launching,” tutupnya. (ra)

___________________

Artikel Terkait:
Redaksi NP
Reporter Nalar Politik