Ahok, Kamu Benar

Ahok, Kamu Benar
Ilustrasi; Ahok (ist.)

Setahun sudah berlalu. Ahok, kamu benar.

Nalar WargaSelamat pagi, sahabatku. Mungkin pagi ini sekadar ungkapan isi hatiku pribadi atas apa yang saya ketahui dan apa yang saya rasakan tentang Basuki Tjahaja Purnama.

Ahok, kamu benar, kawan. Benar tidak mau mengecewakan orang-orang yang mengecewakan kamu. Entah bagaimana kisah hidupmu bisa seperti ini. Aku banyak belajar darimu.

Ahok, kamu benar! Orang-orang yang membenci dia sekarang ada di sekitar dia, bahkan menjadi sahabat akrab dia di Istana-nya. Kamu mungkin sudah tahu, yang mendesak dia agar memenjarakan kamu di aksi demo 414 sekarang menjadi kepala staf kepresidenan bidang juru bicara pemerintahan loh.

Ahok, kamu benar. Yang disalahkan hanya karena kamu seorang Suku Tionghoa. Karena kamu seorang umat Kristen. Dan karena kamu seorang yang jujur berintegritas.

Ahok, kamu benar! TIDAK akan mungkin TRIPLE MINORITY menjadi PRESIDEN di negeri ini. Sejak kamu dipenjarakan, saya sampaikan kepada tujuh juta orang pertanyaan yang saya ciptakan dari hasil perjalananku, yaitu:

  • Apakah Abraham yang beragama Katholik dari tanah Papua bisa menjadi Presiden di negeri ini?
  • Apakah Made yang beragama Hindu dari Bali bisa menjadi Presiden di negeri ini?
  • Apakah Kristin Manawan yang beragama Kristen dari Minahasa bisa menjadi Presiden di negeri ini?
  • Apakah Memey Liem dari Singkawang yang beragama Budhha bisa menjadi Presiden di negeri ini?
  • Apakah Changyi yang beragama Konghucu dari Medan bisa menjadi Presiden di negeri ini?

Tujuh juta menjawab TIDAK, dan 250 juta lainnya menjawab dengan diplomasi bahasa dan keraguan berdasarkan ketakutan yang bermuara pada kata tidak juga.

Ahok, kamu benar, bertahan dalam penganiayaan. Kalau kamu sudah keluar dari penjara, apakah mereka akan memelukmu seperti memeluk wanita bercadar yang ingin dipeluk? Aku ragu, sudah setahun pun kamu di dalam sel tahanan, tak sedikit pun kepedulian mereka.

Ahok, kamu benar. Lebih baik mati seperti yang diinginkan tujuh juta kaum ngamukan-ngafirin, karena manusia seperti kamu tidak perlu ada di negeri ini. Jauh lebih penting manusia beragama sekalipun bertopeng di negeri ini.

Ahok, kamu benar. Saat semua berteriak membela kamu, banyak azas manfaat dalam kasus hukummu. Ada yang ternyata mau jadi calon legislatif, ada yang mau terkenal, tapi tidak ada satupun yang mau seperti dirimu. Bahkan saya pun tidak akan mau dipenjara, dihancurkan seperti hidupmu.

Ahok, kamu benar. Dipenjara, tapi sampai hari ini masih banyak yang fitnah kamu ada di hotel berbintang. Saatnya kamu bebas dari tahanan. Saya akan hadir membawa kebahagiaanku bersamamu.

Ahok, bagaimana kamu bisa diam dan bertahan menghadapi semua tuduhan, semua fitnah, semua kemunafikan, semua ejekan, semua serangan yang diarahkan kepadamu? Apakah kamu terbuat dari baja atau memang mentalmu sudah lebih kuat daripada baja?

Lihat juga: Awalnya Ahok, Kemudian Kita

Ahok, jangan lelah untuk mencintai negeri ini. Jangan berhenti berbuat kebajikan untuk bangsa ini. Tetaplah menjadi Ahok Cina Kristen yang setia. Tetaplah menjadi Ahok Triple Minority yang bekerja mayoritas untuk semua orang. Karena aku pribadi sudah mulai jenuh untuk peduli terhadap negeri ini.

Ahok, aku merindukan kebebasanmu. Aku merindukan ketegasanmu, Aku merindukan keramahtamahanmu.

Janganlah berubah jika nanti kamu sudah keluar dari penjara. Agar rasa jenuhku terhapuskan. Agar aku tidak membiarkanmu sendirian yang peduli terhadap negeri ini.

“Tuhan tidak tidur.” Itu ucapmu Ahok saat semua meninggalkanmu hanya karena tuduhan yang di tujukan kepadamu.

Gusti ora sare. Put your hope in the Lord now and always. Kalau dalam iman saya, saya katakan: The Lord will work out his plans for my life.” Itu ucapanmu. Aku percaya, Tuhan akan selalu mengabulkan harapan dan doa orang benar yang teraniaya. Dan aku percaya, Tuhan punya rancangan terbaik dalam hidupmu dan hidupku.

Ahok, kamu benar walau disalahkan.

Salam dari aku yang merindukan kebebasanmu

*Bachtiar

___________________

Artikel Terkait: