Aktivis Setengah Hati: Membaca Kembali Gerakan Mahasiswa

Aktivis Setengah Hati: Membaca Kembali Gerakan Mahasiswa
©bebasdotorg

“Tak ada yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran,” kata Soe Hok Gie. “Tapi tak ada yang lebih munafik selain aktivis setengah hati,” kata saya.

Adalah benar bahwa kebenaran senantiasa harus menjadi prioritas utama dalam perjuangan hidup tiap manusia. Sebagaimana pernah Soe Hok Gie ungkap, meski pada akhirnya ia sendiri pesimis dengan memandang kebenaran itu hanya ada di langit dan di bumi hanyalah palsu.

Pesimisme yang coba ia bangun tidaklah berarti bahwa ia pesimis pada hidup dan perjuangan. Ungkapan di atas justru mempertegas bahwa kebenaran harus manusia perjuangkan. Terutama bagi yang terpelajar, ini bukan berarti kita harus tertidur lelap, menjadi aktivis setengah hati, tanpa berusaha mendobrak mitos-mitos konyol yang demikian.

Hal paling menarik yang melekat pada diri manusia adalah mampu mengukir sejarah, mengukir dengan sebebas-bebasnya. Sehingga bicara soal sejarah (sejarah Indonesia), kita akan berjumpa dengan sejarah pemuda. Sebab, dalam dinamika perjalanannya, pemuda selalu terlibat-serta, baik sebagai pelopor atau pun sekadar simpatisan semata.

Benar, secara historis, dinamika sejarah Indonesia dari masa ke masa selalu menempatkan pemuda sebagai motor penggerak. Sejarah lahirnya Sumpah Pemuda 1928 yang Budi Utomo prakarsai, terlihat membawa-serta semangat persatuan Nusantara, keberagamaan suku dan bahasa, hingga bersatu dan bersumpah dalam bingkai Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Sejarah tersebut juga kembali terulang ketika sekelompok pemuda memprakarsai teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pun demikian di saat tumbangnya rezim Orde Baru Soeharto, yang bisa kita katakan, lagi-lagi menempatkan penuh pemuda sebagai penggeraknya, terutama para mahasiswa.

Darinya, banyak perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang kini beralih dari sistem pemerintahan Parlementer menjadi sistem Presidensial. Hampir 80 persen sistem ketatanegaraan Indonesia berubah drastis.

Misalnya UUD 1945 mengalami empat kali amandemen. Belum lagi pembentukan beberapa lembaga negara seperti Mahkamah Konstitusi (MK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini merupakan refleksi atas ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah.

Kini, di masa reformasi, kita tetap patut melayangkan tanya: apakah cita-cita dan tuntutan atas ketidakpercayaan publik terhadap rezim Orde Baru kini telah tercapai?

Baca juga:

Perihal itu sebaiknya segenap pembaca yang budiman simpulkan sendiri, terutama tentang bagaimana melihat kondisi Indonesia setelah sembilan belas tahun masa reformasi ini berjalan.

Tanggung Jawab Mahasiswa

Belajar dari sejarah, mahasiswa memiliki tiga tanggung jawab; meliputi agent of change, agent of social control, dan sebagai kaum intelektual.

Sebagai agen perubahan, label ini melekat pada mahasiswa. Sebab, secara historis, ide dan gagasan pembaru selalu mahasiswa bawa. Mereka sebagai generasi yang memiliki semangat dan jiwa-jiwa yang progresif.

Sebagai pengontrol kehidupan sosial, sangatlah jelas bahwa sebagai bagian dari masyarakat, tentu peran mahasiswa sangat kita harapkan. Setidaknya, mereka harus mampu memberi solusi atas beragam persoalan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakatnya.

Semua persoalan harus mampu mereka retas. Baik yang disebabkan oleh faktor internal, terlebih datangnya dari kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak berpihak pada masyarakat. Padahal masyarakat notabene sebagai pemegang kedaulatan negara dalam konsep demokrasi.

Terakhir, sebagai kaum intelektual, mahasiswa tidak hanya menguasai bidang studi yang sedang mereka tempuh. Tetapi, dengan aktivitas rutin, seperti membaca dan diskusi, mahasiswa juga perlu memahami cabang ilmu lainnya.

Logika sederhana pun mengharuskan hal tersebut: untuk mengkritisi segala bentuk problematika dalam bernegara. Hal ini yang kemudian meniscayakan bahwa mahasiswa butuh piranti ilmu pengetahuan yang mumpuni lagi komprehensif.

Tidak bermaksud untuk merendahkan mahasiswa, apalagi untuk menyombongkan diri. Sebab memang, tak ada yang bisa saya sombongkan. Kritik ini benar adanya secara empirik yang penulis sendiri amati, lalui, dan rasakan.

Halaman selanjutnya >>>
    Muh Ridhal Rinaldy
    Latest posts by Muh Ridhal Rinaldy (see all)