Alasan Jokowi Pilih MA Jadi Wapres (?)

Alasan Jokowi Pilih MA Jadi Wapres (?)
Foto: Viva

Dalam beragam nada, banyak warga dirundung tanya: apa alasan Jokowi pilih Ma’ruf Amin (MA) jadi wapres? Bukankah, secara integritas, MA tergolong orang yang paling diragukan dalam membantu Jokowi mengelola negara? Kenapa Jokowi tidak cari sosok-sosok lainnya saja?

Selain lebih berintegritas, toh masih banyak di luar MA yang jauh lebih muda dan progresif. Kenapa Jokowi tidak memberanikan diri menggunakan potensi-potensi itu?

Melihat fakta-fakta (sejarah) tentang integritas MA, terutama saat memimpin salah satu lembaga paling berpengaruh di negeri ini, MUI, maka tak salah jika banyak orang sampai meragukannya. Terhitung sudah banyak kasus bernuansa perpecahan bangsa yang MA hembuskan melalui fatwa-fatwa MUI.

Ingat kasus Ahok? Adalah salah satu dari sekian banyak kasus di mana MA terlibat penuh di dalamnya sebagai penanggung jawab. Belum lagi bicara kasus lainnya, seperti pengharaman liberalisme, Syiah, Ahmadiyah, dan lain-lain. Ada banyaklah pokoknya.

Maka Mimin juga ikut-ikutan bertanya, kenapa Jokowi sampai seberani itu memberi porsi kepada yang justru paling diragukan integritasnya sebagai pemimpin (meski wakil)? Ada udang apa di balik bakwan—eh, batu ding?

Bukankah dengan memilih MA sebagai wakilnya maka potensi suara dukungan dari Ahokers, misalnya, dan golongan pembenci fatwa-fatwa MUI lainnya, cenderung akan hilang? Tidakkah keputusan seperti itu justru akan memperkuat dukungan di sisi oposisi?

Alasan Jokowi (?)

Melalui twitnya hari ini, @mentimoen memberi satu argumen krusial tentang alasan Jokowi harus pilih MA sebagai wapres. Menurut warganet yang tidak jelas identitasnya ini, keputusan Jokowi pilih MA ternyata punya nilai strategis dan benefit juga.

“Saya termasuk yang kritis terhadap Ma’ruf Amin dengan segala fatwa yang berciri politik praktis dan menjijikkan. Tetapi, kalau dipikir-pikir, keputusan Jokowi gunakan MA sebagai wakil itu ada nilai strategis dan benefitnya juga, walau tidak ideal,” kicau @mentimoen.

Adapun alasannya, @mentimoen berkaca pada fenomena pemilihan umum di negeri Cina.

“Presiden Cina Xi Jinping memilih Wang Qishan yang sudah 70 tahun sebagai wakil presiden. Padahal dia diharapkan untuk memilih kader yang lebih muda untuk dipersiapkan menjadi presiden dalam periode mendatang. Walau tidak sama, alasan Jokowi bisa dimengerti seperti keputusan Xi ini.

Demikian juga keputusan Prabowo untuk memilih Sandiaga Uno sebagai wakilnya. Selain bisa memanfaatkan duit Sandi yang sangat bergelimang sebagai modal, tentu SBY tidak akan pernah rela jika anaknya, AHY, diminta dampingi Prabowo.

“Karena AHY lebih muda dengan kekuatan pendukung SBY yang besar. Kemungkinan masa depan politik Indonesia bukan ditentukan oleh Pilpres 2019, tetapi oleh Pilpres 2024.”

Mimin sih sepakat-sepakat saja. Seperti Jokowi sering serukan, seorang pemimpin memang sudah harus mampu pula melihat jauh ke depan alias visioner. Tidak coba-coba seperti orang goreng tahu bulat.

Terlepas darinya, Mimin seolah ingin berucap: wallahu a’lam bishawab. Tetapi tidak jadi karena Mimin tidak mengimani.

_____________

Baca juga:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)