Albert Camus dan Kondisi Manusia yang Tragis

Albert Camus dan Kondisi Manusia yang Tragis
Albert Camus, Pengasingan dan Kerajaan

Kumpulan cerita pendek Albert Camus ini pada mulanya disajikan dalam Bahasa Prancis dengan judul L’Exil et le Royaume (1957). Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul yang kurang lebih menunjukkan padanan sintaktik-semantik yang dekat sekali, yakni Exile and The Kingdom (1958). Versi Bahasa Indonesia kumpulan ini merupakan terjemahan dari versi Bahasa Inggris.

Pengarang kumpulan cerita pendek ini, Albert Camus (1913-1960), yang memenangi Hadiah Nobel untuk Sastra pada 1957, sudah dikenal di Indonesia sejak 1960-an. Almarhum Wiratmo Soekito, salah seorang perumus Manifes Kebudayaan, pada tahun-tahun itu, sering menyebut-nyebut Camus sebagai pemikir Prancis yang dikaguminya. Terutama karena ungkapannya yang terkenal rebellion metaphysique atau pemberontakan metafisika. Ia adalah usaha perlawanan individual melawan kelemahan diri sendiri. Orang, kadang-kadang, juga memahaminya sebagai pemberontakan vertikal.

Almarhum Drs. Arifin C. Noer pernah ikut memopulerkan Albert Camus, pada dekade itu, melalui pementasan lakonnya yang berjudul Caligula, yang ditulis pada 1945. Pementasan itu disajikan pada September 1967 di Gedung Batik PPBI, Yogyakarta.

Mas Willy (WS Rendra), yang baru saja kembali dari Amerika Serikat, menyaksikan pementasan itu. Pementasan itu, oleh Mas Willy, dianggap kurang berhasil. Sebab, Caligula yang ditulis oleh Camus adalah sebuah tragedi pikiran, tetapi di tangan Arifin, yang pada waktu itu belum banyak pengalaman, disajikan sebagai pertunjukan seorang raja yang kurang waras. Dengan demikian, absurditas sebagai akibat pemikiran ekstrem tidak tampak.

Caligula jatuh cinta dengan adik kandungnya sendiri, yang cantik dan gampang membasah, Drusilla namanya, tetapi, kemudian, meninggal. Kegandrungannya, kegilaannya terhadap perempuan pembasah itu, di tangan Arifin C. Noer, menjadikan tokoh Caligula dihadirkan sebagai gila.

Albert Camus dan Kondisi Manusia yang Tragis1

Caligula, The Untold Story (1982)

Mungkin karena itu, di pentas, raja besar itu, di mata Soemardjono, seorang sutradara sandiwara Radio Daerah, bagaikan Buriswara Wujung (Buriswara Mabuk Cinta), sebuah lakon pertunjukan Wayang Orang gaya Sriwedari Sala, yang sudah beberapa kali dipentaskan juga oleh kelompok Bharata di Jakarta.

Akan tetapi, bagi Wolfgang Iser, penerimaan atau sambutan yang demikian hal yang biasa. Setiap tanggapan adalah hasil olahan antara objek dan pikiran yang menanggapi, sesuai dengan kondisi latar budaya yang dimiliki oleh yang menanggapinya.

Albert Camus, yang meninggal karena mobilnya menabrak pohon, memang terkenal dengan pandangan-pandangannya yang ekstrem. Mungkin, ia merasa perlu membela sikap yang demikian, karena ia dapat melihat hubungan Prancis dan Aljazair, tanah jajahan kelahirannya, tidak serasi.

Ia melihat bahwa Prancis senantiasa tampil sebagai penindas, seperti dulu Belanda dan Jepang terhadap Indonesia. Di samping itu, ia juga melihat perilaku tidak adil yang tidak memberi kemungkinan manusia menjadi makhluk merdeka, di mana-mana.

Dalam sebuah majalah berbahasa Prancis, Demain, yang pemimpin redaksinya adalah Jean Bloch-Michael, Albert Camus sendiri menulis, yang nanti akan dibuktikan oleh pembaca sendiri, bahwa cerita-cerita yang dihimpun dalam kumpulan ini mempunyai underan atau pokok masalah yang sama, ialah tema keterbuangan.

Masing-masing cerita menunjukkan gayanya sendiri-sendiri. Ada yang menggunakan gaya monologue-interieur, semacam gumam lirih, sampai yang bergaya naratif-realistik. Cerita-cerita itu ditulis bersama-sama, tetapi, kemudian, masing-masing ditulisnya kembali laiknya para penulis melakukan revisi.

Seperti tadi sudah disebut, pada versi Prancis dan Inggris, judul kumpulan karangan ini ialah l-existence ordinaire jaume dan Exile and The Kingdom atau, dalam bahasa Indonesia, barangkali bisa dikatakan, Pengasingan dan Kerajaan. Judul buku yang demikian itu menunjukkan kecerdasan luar biasa yang ada pada Albert Camus sekaligus menunjukkan pula wawasannya sebagai seorang eksistensialis.

Pengasingan, yang dalam versi Inggris ditulis Exile dalam dalam versi Prancis L’Exil, dengan menggunakan kacamata Albert Camus sebagai seorang eksistensialis, akan tampak sama dengan Kerajaan atau Kingdom atau Royaume. Sebab, Exile atau L’Exil adalah suatu kondisi tatkala manusia dalam keadaan merdeka dan “hidup telanjang” yang harus direbut oleh setiap insan dalam hidup.

Manusia yang dalam pengasingan senantiasa diam. Ia merebut hak untuk menolak hal yang tidak disetujuinya, tetapi sekaligus menunjukkan kesetiaan akan pengabdian kepada kebebasan.

Dengan kata lain, Exile atau L’Exil adalah kondisi manusia yang telah berhasil merebut kedaulatannya untuk menentukan sendiri apa yang sebaiknya harus dilakukan. Hal yang sama juga tampak pada apa yang disebut Kerajaan. Setiap kerajaan yang normal pasti memiliki kedaulatannya sendiri.

Judul ini menunjukkan bahwa karya terjemahan bukanlah sekadar masalah penggantian kata-kata, tetapi juga maslaah persepsi, tanggapan, dan tafsiran. Dengan demikian, buku ini memiliki keunikannya sendiri, termasuk gaya penerjemahan seluruh ceritanya, yang kelak akan berhadapan dengan, untuk meminjam istilah Sapardi Djoko Damono, “gergaji sang waktu”.

Cerita pendek “Orang-Orang Terbungkam” bercerita tentang seorang buruh pembuat tong atau drum tempat minyak. Gaya berceritanya menggunakan monologue-interieur, ialah semacam gumam. Sementara itu, cara bercerita naratif-deskriptif juga terasa. Akan tetapi, sebenarnya, yang penting bukan itu.

Kumpulan cerita pendek ini tidak lagi secara mencolok menunjukkan sifat pengarang dengan pandangan-pandangannya yang ekstrem. Sebab, dalam kumpulan ini, cerita hadir dengan suasana yang lebih reflektif. Seorang kritikus, Gaetan Picon menulis:

“Kalau biasanya membaca karya-karya Albert Camus yang didorong pada satu jalur pandangan ekstrem tertentu, kumpulan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih prasaja. Ada gambaran kebingungan dan penyajian potret l’existence ordinaire alias manusia biasa. Apalagi kalau pembaca yang akrab dengan sastra Prancis membawa Reflexion sur guillotine yang sangat terasa galak itu dan kemudian ia bersedia membandingkannya. Lakon Caligula yang sudah disebut-sebut itu menegaskan pula bahwa cerita dalam kumpulan ini memang lain.”

Pengasingan dan Kerajaan memang bercerita tentang orang-orang tertindas. Keterbungkaman mereka karena kondisi keadaan yang tidak memungkinkan lagi mereka berbuat apa pun, kecuali menerima keadaan. Akan tetapi, sikap menerima keadaan ini, bagi Albert Camus, tidaklah dipandang sebagai sikap yang terpuji.

Namun, keterbungkaman itu tidak mudah pula didobrak. Dan tatkala keterbungkaman menjadi semakin kuat, keterbungkaman menjadi suatu kondisi, yang oleh para kritikus sastra Prancis sering disebut sebagai la condition humaine, suatu kondisi manusia. Dengan kata lain, manusia tercekam dalam situasinya yang absurd.

Kumpulan cerita pendek ini, sebenarnya lebih banyak bercerita tentang kondisi manusia yang semacam itu. Tentu saja, tidak semua cerita pendek dalam buku ini cukup tepat dikatakan demikian; yang terang, ada suasana yang kurang lebih begitu.

Francois Surreile pernah mengatakan bahwa karya sastra, sebenarnya, sangat sulit menghindari ungkapan pengalaman pribadi pengarangnya—betapapun tidak semua karya sastra bersifat biografi. Kumpulan cerita pendek ini demikian juga. Seperti sudah disinggung di depan, ada pengalaman menindih yang dialami Albert Camus dalam kaitannya dengan hubungan antara Aljazair dan Prancis.

Di samping itu, Camus juga mendengar banyak kisah tentang buruh-buruh di Polandia. Yang menarik, sebagai seorang pemikir dan seniman berpandangan Kiri, Camus melihat bahwa pemerintah komunis di Polandia justru memberikan tekanan luar biasa kepada para buruh. Ia bahkan mendapatkan informasi bahwa seorang buruh dihadapkan pada pilihan antara misery and death.

Pengalaman-pengalaman yang kompleks dan tidak hitam-putih itulah yang antara lain, diduga, mengilhami Camus menulis cerita-cerita dalam kumpulan ini.

Bagaimana kita, di Indonesia, belajar pengalaman Albert Camus lewat kumpulan cerita pendek ini? Tampaknya, apa yang disajikan Camus dapatlah menjadi pengalaman manusia di mana-mana, juga kita, di Indonesia. Apabila ada yang berbeda, barangkali kasusnya saja, tetapi esensi masalahnya sama.

Ada banyak kekuasaan yang mengangkangi hidup kita begitu mengerikan. Gerakan reformasi yang dimulai di negeri ini sejak 1997 tampaknya tidak atau belum bisa mengakhiri dominasi kekuasaan yang bertakhta secara absurd. Ada sejumlah kelompok orang yang suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain, bahkan dengan alasan “suci”.

Akan tetapi, sebenarnya, melalui cerita pendek ini, orang bisa belajar berpikir reflektif dan bukan mengedepankan pandangan lurus yang ekstrem. Di sana, mungkin, orang akan mengalami keterombang-ambingan karena menghadapi pilihan-pilihan yang seimbang atau kekuatan yang kelewat besar, sehingga tidak bisa dilawan dengan gampang.

Meski demikian, di sana, orang yang diam, atau “merasa terbungkam” itu bukan berarti berkompromi. Ia bertahan dengan pandangannya sendiri. Ia tetap memegang kemerdekaannya dan bertakhta dalam “kerajaannya” sendiri, sehingga manusia tetap memiliki kedaulatannya sendiri sebagai manusia.

Ini tragis memang. Dan jika ini benar, abad ini memang masih terus menghadirkan tragedi dalam hidup sehari-hari, ialah tragedi seorang manusia biasa seperti dialami oleh Yvars dalam salah satu kumpulan ini.

Harapan saya, semoga lebih banyak karya-karya Albert Camus yang disajikan dalam versi Indonesia dengan penerjemahan yang lebih matang, hati-hati, dan teliti.

*Pengantar Prof. Dr. Bakdi Soemanto untuk “Pengasingan dan Kerajaan” karya Albert Camus (Octopus, Yogyakarta)

___________________

Artikel Terkait: