Amicus Curiae, Bukti Terlambatnya Kesadaran

Amicus Curiae, Bukti Terlambatnya Kesadaran
©Bloomberg

Amicus Curiae, Bukti Terlambatnya Kesadaran

Petualangan politik dari penetapan hingga pemilihan membuktikan betapa hebatnya ‘ketaksadaran’ menjadi landasan kelompok massa dan sipil untuk saling menggigit. Bahkan substansi mereka sebagai manusia lenyap di bawah imperialisme politisi.

Peran publik tidak dapat dimungkiri sebagai penentu dari pelbagai kehampaan opini publik. Desas-desus terkait oposisi tiada tumpulnya. Dari perlengkapan administrasi hingga rohani didistribusikan. Dan rupanya ‘sentralitas Megawati merupakan dasar hilangnya kesadaran untuk membidik dan menembak’. Jeruk kok makan jeruk?

Amicus curiae atau sahabat pengadilan merupakan tindakan dari pelbagai politisi yang buruk sebagai simbol integralnya terhadap tanah air dan tumpah darah Indonesia. Yang artinya, pemilik modal harus dikembalikan modalnya. Walaupun sudah selesai jabatannya, tetapi gajinya tetap harus masuk.

Penyerapan literer yang konyol terhadap substansi ‘sahabat’, hakikat amicus curiae, adalah pengungkapan kebenaran demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan. Ironisnya, PDIP mengetahui musuhnya, namun musuhnya merupakan dalang pemasukannya. Dalilnya jelas namun proposalnya tidak jelas.

Tindakan Megawati sesungguhnya adalah pelampung bagi Jokowi dan Prabowo untuk menarik Gibran dari kemewahan dan keistimewaan identitas politik. Infantri atau tentara muda yang berjalan kaki merupakan identitas mereka yang senantiasa digembleng untuk mengiyakan kehendak penguasa tanpa pengetahuan atas keseluruhan dirinya, bangsanya, dan kebinekaannya.

Bukanlah suatu keheranan bila Jokowi senantiasa menguliti lembaran-lembaran politisi, hukum, dan sosial untuk dapat memaknai mengapa amicus curiae bisa menjadi gerakan nasional. Mereka yang memaknai amicus curiae sebagai suara-suara penentu sangatlah keliru, keadilan tidak semata-mata kuantitas melainkan kualitas. Siapakah yang akan peduli dengan hal tersebut?

Jokowi makin merindu, karena berani untuk bertahan pada satu variabel; politik selalu tidak pasti, sedangkan Prabowo sedang bermesra dengan keyakinannya; MK menjanjikan kepastian. Lantas Gibran?

Baca juga:

Tentunya beban psikologi Prabowo sedang tidak baik-baik saja. Penarikan massa oleh Prabowo merupakan keyakinan mutlaknya; balas jasa dan pembagian kursi. Masyarakat sipil mengalami dilema, siapa yang akan diperhatikan dan siapa yang akan dibuang.

Hal menarik lainnya, pihak Prabowo tidak membaca situasi publik. Kesadaran publik membara dan terus menerjang. Sangatlah tidak masuk akal bila pihak Prabowo mengajukan amicus curiae dan massa ikut tergila-gila.

Harapan Megawati kepada Jokowi makin dekat dengan nestapa; jalan panjang yang buntu. Militansi partai dan subjeknya secara terang-terangan terbongkar; membayangkan mobilisasi dengan tandingan peran pendukung lainnya. Sebaiknya jujur, tariklah Megawati dalam kabinet. Indahnya demokrasi abal-abalan ini.

Kehadiran amicus curiae sesungguhnya merupakan pertarungan antara hati nurani versus hukum positif. Adagium hukum untuk memanusiakan manusia yang adalah manusia berhadapan dengan ‘keuntungan dari modal’ menjadikan pereduksian terhadap keutamaan moral. Adanya moral bila melegakan sebagian pihak.

Mahkamah Konstitusi saat ini adalah euphoria panjang langkah anggun penindas bangsa. Sangat jelas bahwa hati nurani bukan penentu, akal sehat tidak ada, kesadaran apa lagi hilang total. Secara pribadi, MK tidak sungguh-sungguh bila tidak menegaskan prinsip ‘kebenaran’. Pemahamannya harus berani keluar dari angka-angka, karena manusia lebih mengenal warna uang daripada warna kulit.

Pemulihan kesadaran dapat dialami bila setiap pribadi membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh eksternal; agama, budaya, politik, dan lain sebagainya.

Kesadaran bukan saja sebatas peran otak dan hati, melainkan keseluruhan internal diri manusia; kerja sama seluruh keseluruhan diri manusia. Dengan demikian, kebrobokan yang terjadi akibat kecurangan pemilu ini menjadi suatu ideologi bersama bahwa yang salah harus disingkirkan, dimusnahkan.

Baca juga:
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)