Anak Ideologis

Anak Ideologis
Ahok Kecil | NET

“Kamu ini benar-benar anak ideologis bapakmu.” Begitu kata seorang pejabat di Bangka Belitung ketika kami bertemu dalam sebuah acara resepsi pernikahan. Saat itu, saya masih menjabat sebagai Bupati Belitung Timur.

Pernyataan sang pejabat itu tentu mengejutkan saya. Tapi, karena pejabat tersebut sangat mengenal pribadi bapak saya, yakni Tjung Kim Nam (Indra Tjahaja Purnama), dan mengetahui secara persis apa yang bapak saya cita-citakan serta harapkan dari kami putra-putrinya untuk kesejahteraan rakyat, saya kemudian merenungi makna di balik perkataan tersebut.

Saya lantas teringat masa ketika saya menyatakan hendak menjadi Calon Bupati Belitung Timur. Di mana kala itu sempat menuai pro dan kontra cukup sengit.

Kelompok rasialis menyatakan tidak sudi menerima “orang Cina”. Padahal sesungguhnya tidak ada orang Cina di Indonesia. Yang ada orang Indonesia keturunan nenek moyangnya dari Republik Rakyat Cina atau turunan ras Mongoloid.

Selain itu, dari kelompok kontra ini, juga mengalir ketidakjujuran menerima “orang Kristen” sebagai Bupati. Padahal saya bukan orang Kristen. Saya orang Indonesia yang beriman kepada Nabi Isa Tuhan Yesus Kristus, yang biasanya disebut beragama Kristen) menjadi pemimpin mereka.

Sedangkan dari masyarakat yang pro terhadap saya, di antaranya terdapat seorang pedagang ikan di pasar. Ia sebenarnya termasuk “orang yang tidak berpendidikan”. Karena tidak memiliki kesempatan menamatkan pendidikan dasar. Namun kecerdasannya menganalisis persoalan yang ada di sekitarnya tidak kalah dibanding orang yang berpendidikan sekalipun.

“Kalau kalian tidak mau memilih Ahok menjadi Bupati, maka 10 tahun lagi pun kita tidak akan memiliki seorang seperti Ahok yang mau jadi Bupati di kampung kita.” Begitulah ia melontarkan hasil analisisnya kepada masyarakat di sekitar yang kemudian sampai ke telinga saya.

Sekalipun pada awalnya saya merasa pernyataan-pernyataan itu terlalu berlebihan dalam membela dan menggambarkan diri saya. Tetapi setelah melalui proses pemikiran kontemplatif, saya mulai menyadari apa yang dimaksud oleh pedagang ikan itu.

Mungkin ia bermaksud mengatakan bahwa sulit untuk menyiapkan seorang Calon Bupati berusia produktif 38 tahun, seperti usia saya saat itu, dalam waktu 10 tahun mendatang. Karena kesiapan saya untuk mencalonkan diri sebagai Bupati ketika itu diawali dari seorang pemuda (bapak saya) yang sejak berusia muda telah bercita-cita menjadi seorang pejabat agar mampu menyejahterakan rakyat.

Sekalipun cita-cita mulia itu harus dia lupakan. Karena faktor ekonomi yang mengharuskan beliau bekerja keras membentuk putra-putrinya agar meneruskan dan mewujudkan cita-cita itu.

Dan, usaha keras bapak itu akhirnya terwujud ketika saya dipercaya rakyat untuk memimpin dengan otoritas sebagai Bupati di daerah yang demikian saya kenal, yaitu Kabupaten Belitung Timur.

Kenyataan itu pulalah yang membuat saya kemudian mengamini istilah yang dialamatkan seorang pejabat tersebut. Bahwa saya adalah anak ideologis bapak, anak ideologis. [sumber]

    Ahoker
    Latest posts by Ahoker (see all)