Anak Muda, Jadilah Anak Muda!

Anak Muda, Jadilah Anak Muda!

Nalar WargaKemarin saya sempat bertemu dengan seorang politisi anak muda, timses salah satu cawapres, yang karier politiknya rupanya cukup mengesankan. Kami berdebat tentang isu politik yang lagi hangat minggu ini: penyamaan calonnya dengan salah seorang proklamator, yang memicu kontroversi.

“Antara bumi dan langit,” itu kata saya. “Lebih baik tim Anda fokus pada tawaran program kerja yang lebih berguna daripada membangun fantasi dan ilusi yang kadang membingungkan seperti itu.”

Dia merespons dengan berbagai argumen, berulang kali menggunakan istilah “tim sana” [dan “tim sini”], seperti ingin menonjolkan melulu perbedaan. Terkesan baginya politik melulu menang-kalah, sana menang berarti sini kalah, atau sebaliknya.

Tapi kesan paling kuat saya padanya, ini anak muda kok pikirannya tua bingits, ya? Argumennya cenderung konservatif dan kurang terobosan. Perbedaan dianggap sebagai permusuhan, yang perlu dikalahkan.

Saya yang terbiasa berdebat argumentatif dan runut jadi santai saja menghadapinya. Sementara dia—maaf—terkesan memaksa, dan ketika terdesak argumen “pokoke” pun digunakan. OMG!

Model anak muda dengan pola pikir begini, saya bayangkan bisa jadi bengis pada kawannya kalau menyangkut sesuatu doktrin atau pandangan, misalnya.

Saya sebetulnya awalnya agak berharap banyak padanya, tapi sedikit kecewa dengannya kemudian. “Aftertaste”-nya terasa kurang nyaman, bahkan agak menyeramkan.

Saya jadi paham, tua atau muda itu bukan semata karena usia. Ia juga adalah pola pikir dan “mindset”, ini bisa memang karena bawaan orok atau salah gaul saja.

Berdebat dengannya saya jadi merasa “tua” dari segi usia, tapi rasanya saya kok masih jauh lebih muda darinya dari segi pandangan dan pola pikir.

Kalau di hari Sumpah Pemuda ini saya boleh memberi masukan, saya cuma mau katakan bahwa: “Anak muda, jadilah Anak Muda!”

*Surya Tjandra

Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet