Anak Senja dan Chairil Anwar

Anak Senja dan Chairil Anwar
Foto: Pixabay

Senja adalah keindahan yang terlalu agung. Maka dengan itu, banyak sekali orang memakai nama samaran: Pena Senja, Hujan Senja, Senja Mendung, dan lain-lain. Itu membikin kata “senja” menjadi renta dan goyah. Kebagusannya berkurang karena terlalu sering dipakai.

Anak-anak yang mengategorikan diri sebagai Anak Senja sering memotret lembaran puisi dari sebuah buku di sebelah kopi. Dengan bermacam-macam status, bila malam Minggu, maka, “Hari ini lebih pahit dari kopi tanpa gula pada cangkir yang sedang kuminum. Bahkan air laut pun tidak sama sekali bisa mengungkapkan betapa asin dan menderitanya diriku kini.”

Bila dia berpaham puisi mbeling[1] layaknya orang-orang yang sudah menjadi sastrawan atau seniman besar itu, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Remy Sylado, Yudhistria ANM Massardi, Jeihan Sukmantoro, dan sahabat-sahabat lain, dia akan berkata sesederhana ini, “Aku habis ditolak lawan jenis. Dan aku sekarang menangis. Huhuhu.”

Juga, kebetulan, aku suka Chairil Anwar yang bisa menyuguhkan metafora sedih tanpa menggunakan kata “sedih, sendu, galau” atau semacam itu. Karena dia tahu, puisi bagus adalah yang berkesan. Pesan urusan belakangan, karena itu pekerjaan kritikus dalam memaknai puisi-puisi yang kadang bahkan penulisnya tidak tahu maknanya apa.

Ingat Sapardi Djoko Damono? Puisinya sungguh bagus, tapi ia sendiri enggan memaknai puisinya sendiri.[2] Karena memang, puisi kadang hanya untuk dinikmati.

Misal saat kau melihat bunga kamboja, apa kau mencari makna dari lima kelopaknya? Apa kau menafsirkan warna bunganya? Apa kau mencari penjelasan mengapa daun pohon itu berbentuk seperti itu? Kenapa rantingnya lentur? Atau hanya melihat dan berkata, “Wah, bunganya indah,” lantas pergi, kemudian mencari kesenangan lain lagi?

Maka dengan ini kuperjelas, urusan makna adalah terserah bagi pembaca.

Penulis kerjanya menulis, bukan membela diri atas kritikan dari karya yang dimaknai dengan banyak tafsiran.

Nah, di puisi Chairil ini berbeda. Dia sedih yang jantan. Berduka yang keren. Dan tulisannya cenderung maskulin. Kata-katanya juga mengandung nilai keindahan yang lebih dalam dari Samudra Pasifik.

Tentu engkau pernah membaca puisi Chairil yang berjudul Aku? Di puisi itu, derita berhamburan. Dan bila kesedihan itu diangkat, maka bebannya bisa melebihi gunung-gunung di Jawa. Karena dia menunjukkan dirinya sebagai Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.

Tidakkah dua bait itu menjelaskan bahwa Chairil sungguh-sungguh jantan seumpama serigala pendiam hitam yang melawan beribu harimau lelaki sendirian? Dan hei, harimau itu adalah waktu!

Chairil Anwar ingin terus hidup. Bukan cuma seribu tahun, namun selamanya. Dan bukankah dia hidup di pikiran kita, di hati kita, dan jiwa terdalam kita yang suka membaca puisinya? Dan yang lebih penting, siapa yang bisa mengalahkan waktu?


[1] Genre puisi yang lugas, tegas, tidak bermetafora. Tapi punya nilai keindahannya sendiri.

[2] https://akurat.co/hiburan/id-582667-read-penyair-ini-kritisi-pendapat-sapardi-djoko-damono-soal-puisi-bukan-untuk-dipahami

    Arham Wiratama

    Lahir di Jombang, 1 Agustus 1997 | Penulis "Deru Desir Semilir" (Intelegensia Media, 2016) dan "Segara Duka" (J-Maestro, 2018) | Belajar biola dan gitar di Spirit of Musik Jombang

    (see all)

    Share!