Aneka Tafsir atas Cadar

Aneka Tafsir atas Cadar
Emoticon Cadar (Ilustrasi: Kaskus)

Setelah ribut-ribut soal keputusan pelarangan cadar oleh rektorat kampus UIN Jogja, aneka tafsir atas cadar pun bermunculan. Meski sedikit nakal dan jenaka, tetapi secara umum mengena ke jantung hati paling terdalamnya.

Berikut ini aneka tafsir atas cadar yang Mimin rangkum dari posting-an seorang kawan di grup WhatsApp, Kamis, 8 Maret 2019:

Skriptural Muslim: Cadar adalah syariat. Hukumnya wajib.

Muslim Moderat: Ada perbedaan pendapat di kalangan para mufasir tentang batas-batas aurat perempuan. Sehingga, cadar hukumnya tidak wajib.

Antropolog: Weleh, cadar itu cuma budaya Arab, kok!

Pakar HAM: Pelarangan memakai cadar merupakan pelanggaran HAM.

Politisi: Cadar itu representasi ideologi politik, subversif, anti-NKRI, anti-Pancasila.

Piere Bourdieau: Ah, cadar itu cuma habitus, kok! Santai saja!

Michel Foucault: Lho, pelarangan cadar itu bentuk “pendisiplinan” atas tubuh.

Saba Mahmood: Cadar itu adalah politic of piety. Mereka memakai cadar hanya untuk melawan gaya hidup yang dianggap sekuler.

Feminis: Hei, dengar, ya, bahwa tubuhku adalah otoritasku. Jangan ngatur-ngatur! Kenapa pakaian perempuan harus diatur sedemikan rupa, sementara lelaki bebas-bebas saja? Bedebah!

Peneliti: Cadar itu fenomena generasi muslim milenial urban. Ya, semacam Islam pop-lah.

Bani Micin: Kampus Islam, tapi anti Islam. Dasar liberal! Itulah kalau belajar Islam dari orientalis. Akhirnya cadar dilarang.  Pantesan sering gempa di Yogyakarta.

Cebong: Kalau mau pakai cadar, sana pindah ke Arab. Kebanyakan minum kencing onta! Bagi kami, NKRI harga mati.

Santri Tradisional: Lho, kami juga dilarang pakai sarung yang merupakan identitas kami. Kami patuh-patuh saja, tuh. Giliran cadar dilarang, kenapa pada ribuuut…???

Deny Siregar: Cadar dalam secangkir kopi.

Iqbal Aji Daryono: Bercadar adalah cara hidup yang out of the box.

Eka Kurniawan: Cadar itu Luka.

Felix Siauw: Nasionalisme gak ada dalilnya. Sementara cadar adalah kewajiban.  Udah, putusin saja UIN Sunan Kalijaga. Pindah kuliah saja.

Karl Marx: Wahai kaum bercadar sedunia, bersatulah!

Bu Susi: Yang bercadar, tenggelamkan…!!!

Vicky Prasetyo: Demi grinday di upuk sana, aku akan memperjuangkan hak cadarmu, para ukhty.

Kivlan Zein: Tahun 2029, kaum bercadar akan bangkit sebanyak 17 juta.

Sujiwo Tedjo: Juaaaancuk! Di dunia ini, apa sih yang gak paradoks? Kenapa soal cadar ini menjadi begitu menyeramkan? Padahal, tak ada yang lebih romantis, kekasih, selain dari kibar cadarmu ketika ditiup angin lalu menyingkap dagumu.

Begitulah aneka tafsir atas cadar. Benar-tidaknya, wallahu a’lam.

___________________

Artikel Terkait:
    Mimin NP
    Latest posts by Mimin NP (see all)