Anggota DPR RI Afzal Mahfuz: Sulbar Itu Provinsi, Bukan Kerajaan

Anggota DPR RI Afzal Mahfuz: Sulbar Itu Provinsi, Bukan Kerajaan
Anggota DPR RI Komisi II Muhammad Afzal Mahfuz dan Wakil Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta Nasaruddin Ali.

Nalar PolitikAnggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Muhammad Afzal Mahfuz menyempatkan diri berdialog bersama dengan para mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat (Ikama Sulbar) Yogyakarta.

Dalam dialog bertajuk “Talkshow & Silaturahmi DPR RI – Ikama Sulbar”, anggota Komisi II Dapil Sulbar ini memberi penegasan bahwa Sulbar bukan lagi daerah terjajah, bukan sebuah kerajaan. Tapi, seperti daerah-dareah lainnya di Indonesia, Sulbar pun adalah wilayah yang sudah demikian merdeka.

“Sudah tidak ada lagi di Sulbar yang mau dijadikan budak. Sulbar itu provinsi, bukan kerajaan,” ujar Afzal Mahfuz di hadapan para mahasiswa, Yogyakarta (4/1/2018).

Selain memaparkan kondisi Sulbar secara umum, ia juga banyak menyoal tantangan-tantangan apa saja yang kini dan harus dihadapi warga Sulbar. Pun ia berharap mahasiswa, khususnya yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta ini, dapat mengambil peran besar itu.

“Kontribusi riil mahasiswa hanya bisa dilakukan secara bersama. Ini untuk menunjang pembangunan daerah ke depan. Tapi ingat, mahasiswa jangan terlalu banyak nuntut. Berkarya sajalah dulu, tunjukkan kemampuanmu,” tegasnya.

Uraian Afzal Mahfuz tersebut sekaligus jadi tamparan keras mahasiswa hari ini. Pasalnya, sebagaimana yang juga diakuinya, kebanyakan mahasiswa memang hanya mementingkan tuntutannya dari pada kontribusinya. Banyak nuntut hak, tapi minus kewajiban.

“Ini problem kita, problem kebanyakan mahasiswa zaman now. Belum lagi soal minimnya perhatian pemerintah kita bagi mahasiswa rantaunya,” lanjut Afzal.

Untuk itu, di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta, Nasaruddin Ali, menaruh haraparan besar bagaimana mahasiswa benar-benar mampu mengambil peran besar tersebut. Ia berharap, sebagai generasi pelanjut, peran mahasiswa dapat terealisasi, terutama pasca terselenggaranya Talkshow & Silaturahmi ini.

“Lepas acara ini, kami (Pengurus Ikama Sulbar) berharap penuh rekan-rekan mahasiswa semua dapat berkontribusi untuk Sulbar yang malaqbi, khususnya dalam hal keilmuan. Ya, di samping pemerintah sendiri yang harus turut memberi keistimewaan bagi para pelajar-mahasiswa rantaunya seperti di Yogyakarta ini,” terang Nasar.

Terkait pernyataan Afzal tentang Sulbar bukan lagi daerah terjajah, bukan kerajaan, bagi Nasar, hal ini penting menjadi kesadaran bersama. Menurutnya, Sulbar tak bisa diklaim secara sepihak, sebab dibangun dalam kerangka heteroginitas.

“Sulbar itu milik bersama. Mahasiswa Jogja harus menyadari itu. Jangan diprivatisasi, apalagi hanya untuk kepentingan golongan atau kelompok semata. Kita berbeda, tetap satu tujuan,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi