Anti-Radikalisme dengan Pendidikan Filsafat Sekolah Menengah

Anti-Radikalisme dengan Pendidikan Filsafat Sekolah Menengah
Twitter Image

Nalar WargaSebenarnya saya orang pragmatis. Pendapat saya, pendidikan praktis dan sains lebih penting daripada pendidikan filsafat, ilmu humaniora.

Tetapi melihat kondisi Indonesia saat ini yang dilanda radikalisme, terlihat bahwa ada yang tidak kalah penting daripada ekonomi, sains, dan teknologi.

Sains dan teknologi memang penting untuk membuat seseorang berpikir mendalam, logis, dan kritis. Tetapi objek telaah selalu di luar sang siswa.

Untuk mampu menangkal ajaran-ajaran radikal, seorang siswa perlu keterampilan untuk bersikap logis dan kritis ke dalam diri sendiri. Belajar filsafat membuat seorang siswa mampu berpikir kritis dan logis, bukan hanya terhadap alam di luar, tetapi juga masuk dalam diri sendiri.

Berbeda dengan negara-negara Barat, di mana siswa-siswa sains umumnya kritis. Di Indonesia, malah siswa sains dikenal condong ke radikalisme.

Itu disebabkan umumnya negara-negara berkembang tidak memiliki tradisi keilmuan; sains itu cuma sepuhan luar dari manusia. Karena sains lebih bersifat deterministik, hal-hal di dunia dianggap sudah ditentukan dari sononya dengan hukum alam. Ini memengarui cara pandang.

Dan bagi orang-orang radikal fundamentalis, ajaran agama pun dianggap deterministik, sudah dari sononya, harus diterapkan secara literal. Tidak heran kalau siswa sains di Indonesia, berbeda dengan negara maju, malah condong radikal dibanding dengan siswa humaniora.

Di negara-negara maju, cara pandang kritis dan logis terhadap diri sendiri sudah merupakan bagian dari cara asuh anak. Tidak demikian di Indonesia. Karena itulah, penting bagi negara untuk membuat strategi budaya lewat pendidikan dengan menekankan pendidikan filsafat sejak awal.

Sistem pendidikan berbasis filsafat terbaik adalah sistem Prancis. Filsafat wajib dipelajari di sekolah menengah di sana. Prancis secara tegas ingin mengembangkan budaya berpikir dan berbudaya ala filsafat. Sehingga masyarakat berkembang berciri intelektual.

Pendidikan filsafat sekolah menengah bertujuan mengembangkan kemampuan untuk melakukan refleksi personal. Memandang ke dalam diri sendiri.

Kalau pendidikan filsafat sekolah menengah di negara lain cenderung formil, seperti pemikiran Yunani, sejarah filsafat, dan lain sebagainya, Prancis tidak. Bukan pengetahuan filsafat yang dibutuhkan oleh warga, tetapi kemampuan berfilsafat, kemampuan secara kritis dan logis melihat ke dalam diri.

Siswa terus-menerus dihadapkan pada pertanyaan, seperti apakah masuk akal kalau saya menginginkan hal yang tidak masuk akal? Atau, mana yang lebih baik, kebenaran atau perdamaian? Atau, apakah bahasa yang saya mengerti mengekang cara saya berpikir?

Demikian contoh pertanyaan yang harus dipikirkan siswa tiap hari. Tidak ada jawaban benar atau salah, tetapi proses berfilsafat yang diharapkan.

Pelajaran filsafat kemudian digandengkan dengan bacaan-bacaan sastra yang mendalam. Siswa yang mampu berefleksi akan sukar dihasut paham-paham radikal.

Pelajaran filsafat bisa panjang, 8 jam per minggu untuk siswa humaniora, atau 2 jam untuk siswa sains. Semua lulusan sekolah Prancis harus mampu menulis argumen-argumen berfilsafat secara fasih. Tidak heran kalau omongan orang Prancis lebih mendalam.

Pendidikan filsafat juga sejalan dengan rencana untuk meningkatkan industri kreatif di Indonesia. Indonesia butuh film-film yang lebih berbobot.

Buku-buku novel yang berbobot akan lebih disukai siswa, karena mereka sudah terbiasa terlatih untuk berpikir. Indonesia akan jadi bangsa para cendekia. Kedai-kedai kopi akan ramai dengan obrolan-obrolan asyik, kualitas hidup manusia Indonesia meningkat karena kualitas manusianya juga meningkat.

Jika negara-negara lain bisa melakukannya, kenapa Indonesia tidak bisa? Jangan jadi bangsa yang hanya tahu ayat-ayat, lalu ngomong “pokoke gini pokoke gitu”.

Setelah berpikir soal situasi di Indonesia, menurut saya, sistem Prancis yang lebih bagus untuk Indonesia daripada sistem Amerika atau Inggris. Terutama karena masalah krusial bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi bagaimana supaya manusianya tidak bunuh satu sama lain, tidak suka memaksa.

Memang, mau memulai pendidikan filsafat skala besar sukar di Indonesia. Dari mana cari guru berkualitas?

Seorang teman media sosial nyelutuk, “Filsafat, kan, tidak umum di Indonesia, bagaimana mau cari guru dan lain sebagainya?” Iya, benar sekali ini masalah.

Filsafat tidak umum di Indonesia karena sistem pendidikan di Indonesia peninggalan sistem pendidikan Hindia Belanda. Pendidikan Hindia Belanda tidak diperuntukkan untuk membuat warga jajahan mampu berpikir, tetapi lebih untuk hal-hal praktis, seperti sekolah dokter Jawa, sekolah guru, sekolah insinyur.

Jadi pendidikan negara terjajah umumnya memang bersifat praktis yang dibutuhkan. Sehingga pendidikan filsafat Indonesia justru dirintis oleh warga Katolik sebagai langkah praktis mendidik calon imam.

Padahal di Eropa, filsafat itu pendidikan umum, karena sudah mentradisi. Ya, semoga nanti filsafat menemukan tempat yang cukup bagus di Indonesia.

*Daemoen

Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet