Apa yang Saya Bicarakan ketika Saya Bicara Soal Titik?

Apa yang Saya Bicarakan ketika Saya Bicara Soal Titik?
©KP

Penulisan ini berawal dari satu abstraksi: pendidikan bermula dari satu titik. Akibat satu titik tidak dikenali, karamlah bahtera bernama pendidikan.

Saya harus melempar ingatan saya sejenak, merentangkan kembali peta-peta cakrawala pengalaman studi saya, ke sembilan tahun silam. Pada saat itu sebagian dari kami masih membaca dengan usaha ganda: pertama, memikirkan rangkaian huruf sehingga sempurna utuh menjadi kata dan kalimat dan—untuk beranak-pinak menjadi—paragraf; kedua, merakit maksud dari paragraf itu dirangkai dalam usaha melahirkan sebuah pemahaman.

Tentu bisa dikata kerja seperti ini gampang-gampang sulit. Tapi ada kekuatan dahsyat lain yang terngiang dari sedikit kenangan kecil bertahun lampau itu: di bangku sekolah dasar kelas tiga, ada saja kemampuan teman baca saya untuk sebuah titik pun ia tidak bisa membedakannya. Lebih parah dari yang pernah dibayangkan, ia menafikannya—menganggapnya sebagai bukan apa. Lebih terang dilihat olehnya sebagai noda hitam belaka.

Dengan mengingat pengalaman itu, saya bisa mengerti bahwa terlampau pelik dan berbelit pekerjaan rumah pendidikan kita, bahkan demi urusan titik. Bercokol dari satu tanda ini, kiranya saya sadar bahwa kita muluk-muluk—ingin—meretas hal yang jauh tidak penting, ketimbang meretas langkah kecil yang secara konsekuen berakibat fatal ini.

Lantas, apakah yang saya (akan) bicarakan ketika saya bicara soal titik?

***

Titik secara ideologis bukanlah pola memisah antara dua kalimat atau lebih. Dalam dimensi yang lain, secara fungsional dan personal ia merangkai suatu kalimat membentuk sebuah pemahaman untuk dilempar kepada kerja otak lalu diolahnya menjadi pengetahuan. Baik secara sadar ia bersarang sebatas sebagai intelektualisme atau syukur kemudian termanifestasikan dalam perilaku.

Tapi dalam titik dimaksud di sini, saya ingin meluaskan kemungkinan dan mengonotasikannya sebagai perlambang dari lelaku membaca. Sebab membaca tak lain merupakan kerja dari pendidikan. Maka akan lebih sopannnya, saya ingin mendongengkan lebih muka terkait pendidikan yang telanjur tersaji sebelumnya:

Kerja pendidikan kita yang luas melintang ternyata jauh mementingkan administrasi dan terkesan sangat komersial. Tentu masuk akal kemudian kenapa sebabnya hal itu bisa terjadi. Sedari dini, persepsi kita tentang pendidikan cenderung diartikulasikan sebagai barang. Dan hal ini yang tidak diamini dalam lelaku membaca.

Secara mekanisme, pengetahuan akibat dari faal membaca tidak pernah membekukan bahwa pengetahuan yang didapat adalah hasil final atau secara harfiah kita sebut sebagai barang. Bukan soal nantinya ini akan mendestruksi paradigma kita dan lalu menjadi momok menakutkan mengalahkan ketakutan kita kepada Jin Iprit. Melainkan, berdasarkan pertimbangan yang lebih jauh, dengan menganggapnya sebagai barang, berarti secara sadar atau tidak kita telah menempelkan cap atau label komersial kepada pendidikan.

Baca juga:

Nahasnya, pendidikan bukanlah persoalan untung-rugi. Seorang guru—sengaja saya tidak menggunakan kata “tenaga pengajar” karena dalam KKBI kata “tenaga” memiliki denotasi sebagai kegiatan yang bekerja, orang yang bekerja atau mengerjakan sesuatu sehingga tidaklah pantas untuk menjadi kata ganti dari “guru” sebab guru bukanlah pekerja melainkan pengabdi—sangat sulit dibayangkan sebagai tokoh Paman Gober (Uncle Scrooge) dalam serial komik Walt Disney, Donal Bebek, yang memperhitungkan kapital (modal) dan membuat kapitalisme tampil tanpa dosa alias serakah.

Itulah sebabnya membaca adalah sebuah telaah intelektualisme yang tidak (akan) mungkin menghasilkan kesimpulan dan pertanyaan secara final, namun telaah itu berjalan, berkembang terus—proses. Dan acapkali ini yang saya pikirkan.

Membaca adalah cara pendidikan menyuratkan ada sejenis spesies tak kasat mata bernama “proses”. Ada saatnya pendidikan mulai menyadari bahwa ia sama sekali tidak ada bedanya dengan kerja Sisifus yang mendorong batu ke puncak bukit, di mana puncak tidak melulu diartikan sebagai final, karena seperti yang kita tahu batu itu akan terus menggelinding kembali ke bawah lalu Sisifus akan mendorongnya kembali tanpa pernah kenal penat dan mengingatkan kita di balik “kutukan (proses)” itu ternyata kita akan terkaget melihat ia seperti berkata, “Aku bahagia dengan ini.”

Di sisinya yang lain, membaca adalah cara pendidikan mengingatkan diri bahwa, sebelum akhirnya termanifestasikan dalam perilaku (baca; karakter), mula-mula adalah otak. Dan hanyalah otak dapat membentuk telaah tajam dan objektif yang tentunya bermula dari lelaku membaca.

Sungguh, ternyatalah yang terpenting dari kerja pendidikan bukan soal citra kecerdasan—saya katakan citra karena sebatas menjadi rupa atau bayangan visual dari kata “cerdas” dari apa yang pernah dibuktikannya—yang berdasarkan dari manipulasi nilai akibat selit-belit kerja administrasi.

Melainkan, dari tatapan saya sendiri: pendidikan hanyalah dapat diukur dari tingkat kemampuan membaca siswanya, sebab membaca tak lain dari sebuah konsep yang runduk-tunduk kepada apa yang akhir-akhir saya sadari; mula-mula—semuanya—adalah otak. Karena melalui celah yang begitu penting nan diremehkan itu, pendidikan akan mempersembahkan segala dunia yang mungkin.

***

Kembali ke kasus baheula: teman saya yang (sangat) asyik membaca kalimat seperti rel sepur itu, yang sesekali jedanya hanya diperlukan tatkala lidah telah lesu dan membeludak oleh genangan air ludah—selayak sepur berhenti sejenak di stasiun—adalah ironi yang saya alami di dalam pendidikan. Sehingga menyadari demikian, jika saya menjadi bagian dari orang yang bergelar “tanpa tanda jasa” itu, dengan segera saya mengambil langkah cepat dan sigap. Pahamilah soal titik. Membacalah.

Baca juga: