Argumen Evolusi Menentang Naturalisme

Argumen Evolusi Menentang Naturalisme
©Wikipedia

Sudah menjadi suatu pemahaman umum, baik di kalangan teis maupun ateis, bahwa naturalisme dan evolusi adalah perpaduan yang saling menguatkan. Dulu saat masih aktif di ABAM dan berbincang dengan teman-teman dari komplotan IA, saya sering menemukan pernyataan sejenis, yang hendak menyatukan evolusi dengan naturalisme. Tidak cuma itu, bahkan sains itu sendiri diposisikan seolah-olah sebagai “anak kandung” dari “rahim” naturalisme.

Saat pertama kali menjadi mahasiswa, saya sendiri tertarik dengan marxisme dengan materialisme dialektiknya. Harus diakui bahwa materialisme yang diadopsi Karl Marx sejatinya adalah kembangan lebih lanjut dari naturalisme Feurbach dan lagi-lagi anggapan bahwa naturalisme (atau materialisme) entah bagaimana cocok dengan evolusi itu sendiri.

Dalam tulisan ini, saya mengikuti Plantinga, dan secara yakin mengatakan tidak demikian, evolusi tidak kompatibel dengan naturalisme. Menerima kebenaran evolusi mensyaratkan untuk mengakui bahwa naturalisme bukanlah pemikiran yang objektif dan karenanya penerimaan atas evolusi tidak mensyaratkan kita untuk menerima naturalisme.

Definisi Istilah

Sebelum saya melanjutkan tulisan saya ini, alangkah lebih baiknya saya terlebih dahulu memberikan definisi istilah yang saya gunakan terutama untuk naturalisme dan evolusi.

Naturalisme: saya mendefinisikan naturalisme dengan dua definisi. Pertama, secara ontologis, naturalisme adalah pandangan bahwa yang nyata hanyalah alam ini sendiri. Tidak ada apa pun di luar alam ini.

Kedua, secara epistemologis, naturalisme adalah pandangan yang menganggap bahwa segala hal ihwal dapat dijelaskan dengan merujuk pada proses-proses alamiah semata, tidak dibutuhkan satupun keterlibatan supranatural dalam hal tersebut.

Evolusi: definisi saya cukup mengikuti definisi dari wikipedia. Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi.

Pembahasan

Berdasarkan evolusi, dapatlah dikatakan bahwa seluruh kemampuan yang dimiliki oleh suatu spesies adalah hasil dari seleksi alam atas mutasi genetis dengan yang paling cocok yang bertahan sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan yang didapatkan oleh suatu spesies untuk menunjang kelangsungan hidupnya tersebut dengan bertahan hidup dan reproduksi; jika tidak, ia akan mati dan punah.

Sederhananya, dalam evolusi, seluruh ability yang dimiliki oleh suatu spesies tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menunjang kelangsungan hidup spesies tersebut. Di sinilah letak pertentangan antara naturalisme dengan evolusi.

Begini alur argumennya:

  • Evolusi menegaskan bahwa seluruh kemampuan yang dimiliki suatu spesies adalah hasil acak dari mutasi genetis yang diseleksi oleh seleksi alam sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan yang dimiliki oleh suatu spesies tidak lain untuk menunjang kelangsungan hidup spesies itu.
  • Manusia adalah bagian dari spesies yang dimaksud dalam evolusi.

Kesimpulannya: kemampuan yang dimiliki oleh manusia tidak lain untuk menunjang kelangsungan hidup manusia itu.

Kesimpulan di atas tentu saja valid karena proposisi awal bersifat universal dan proposisi kedua bersifat partikular dan kesimpulan yang mengikuti tidak menyertakan pernyataan pembanding yang dalam hal ini adalah “seleksi alam”.

Sekarang, apa hubunganya dengan naturalisme? Sabar, mari kita lanjut terlebih dahulu.

Kita sudah mendapatkan kesimpulan yang valid bahwa kemampuan yang dimiliki oleh manusia tidak lain untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Di antara banyak kemampuan yang dimiliki oleh manusia ini, salah satunya adalah kemampuan untuk bernalar aka penalaran manusia.

Nah, di sinilah awal mula konflik dengan naturalisme tersebut. Jika penalaran manusia adalah salah satu kemampuan manusia, dapat dikatakan bahwa penalaran manusia ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Jika penalaran manusia ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, seluruh produk penalaran manusia ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Naturalisme adalah produk penalaran manusia. Kesimpulannya, naturalisme ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia.

Bukan cuma itu, kita tahu bahwa sesuatu yang membantu kelangsungan hidup manusia belum tentu benar. Pertimbangkan hal ini:

Jika ada suara di balik semak-semak, apa yang sebaiknya kita lakukan? Melarikan diri. Kenapa demikian? Karena bisa jadi itu suara predator yang hendak memakan kita.

Ok, bagaimana jika ternyata suara tersebut bukan berasal dari predator? Tidak apa-apa, meski bukan dari predator karena toh kita tidak rugi apa-apa selain tenaga.

Namun terlepas dari kita tidak rugi apa-apa selain tenaga, kita melarikan diri berdasarkan pengandaian yang belum tentu benar bahwa ada predator di balik semak-semak, bukan?

Artinya, dapat kita tarik kesimpulan bahwa sesuatu yang membantu kelangsungan hidup kita tidak mesti benar. Dan karena tidak mesti benar, maka sesuatu yang membantu kelangsungan hidup kita belum tentu suatu kebenaran yang objektif.

Oleh karena naturalisme ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, maka naturalisme belum tentu suatu kebenaran objektif. Di sinilah letak permasalahan antara naturalisme dengan evolusi tersebut.

Hal senada sebenarnya pernah disampaikan oleh CS Lewis dalam “Is Theology Poetry? The Weight of Glory and Others Addresses”.

“One absolutely central inconsistency ruins [the naturalistic worldview]…. The whole picture professes to depend on inferences from observed facts. Unless inference is valid, the whole picture disappears…. [U]nless Reason is an absolute–all is in ruins. Yet those who ask me to believe this world picture also ask me to believe that Reason is simply the unforeseen and unintended by-product of mindless matter at one stage of its endless and aimless becoming. Here is flat contradiction. They ask me at the same moment to accept a conclusion and to discredit the only testimony on which that conclusion can be based.”

Apa yang bisa kita tangkap dari pernyataan CS Lewis di atas? Suatu paradoks yang menghancurkan antara naturalisme di satu sisi dengan evolusi di sisi lain.

Para naturalis di satu sisi meminta kita untuk percaya bahwa hal yang nyata hanyalah alam ini semata. Namun di sisi yang bersamaan para naturalis meminta kita untuk percaya (based on evolution) bahwa penalaran manusia, yang dari mana argumentasi naturalisme dibangun, tidak lebih dari produk sampingan dari mutasi genetis dan seleksi alam yang “buta dan tak terarah”.

Pertanyaannya: jika penalaran manusia tidak lebih dari produk “buta dan tak terarah”, apa yang menjamin kesahihan penggunaan nalar ini? Dan jika nalar manusia dianggap ada sebatas untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, naturalisme yang adalah produk penalaran manusia pun semestinya ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia?

Tapi, apa hubungan antara naturalisme dengan penunjang kelangsungan hidup kita itu? Di sinilah letak kontradiksi antara naturalisme dengan evolusi tersebut. Mari kita lihat penalarannya.

Lemma 1: segala kemampuan yang kita miliki adalah hasil evolusi yang membantu kita untuk bertahan hidup.

Ini masih terlalu umum. Mari kita ubah ke dalam bahas formal: Untuk setiap x, x adalah ability dari y jika dan hanya jika x membantu kelangsuan hidup y.

Ekspresi logikanya: Ax ((x = ABy) <=> (KLy)).

Cara baca:

Ax: untuk setiap x
AB: Ability
KL: kelangsungan hidup

Lemma 2: segala hal dapat dijelaskan berdasarkan alam ini dan tidak ada hal ihwal apa pun di luar alam ini.

Catatan: lemma ini diambil dari posisi epistemologis dan ontologis dari naturalisme itu sendiri.

Kita ubah dalam bahasa formal menjadi: Tidaklah demikian halnya ada x yang tidak dapat dijelaskan dengan penjelasan berdasar alam ini dan tidaklah demikian halnya ada x yang di luar alam ini.

Ekspresi logikanya: ~Ex (~EXx = NT /\ ONTx).

Cara baca:

~ Ex: tidaklah demikian halnya
EX: eksplanasi
NT: nature
ONT: out of nature

Berdasarkan dua lemma di atas, dapatlah kita tarik beberapa penalaran untuk melihat pernyataan Plantinga:

P1: jika segala ability manusia adalah hasil yang muncul dalam rangka kita bertahan hidup, penalaran manusia pun adalah ability untuk bertahan hidup.

P2: jika penalaran manusia adalah ability manusia untuk bertahan hidup, segala produk penalaran manusia pun adalah untuk bertahan hidup.

P3: jika segala produk penalaran manusia adalah untuk bertahan hidup, pengetahuan dan pemikiran manusia pun produk untuk bertahan hidup.

P4: jika pengetahuan dan produk pemikiran manusia ada untuk bertahan hidup, pengetahuan dan pemikiran manusia bukan pengetahuan objektif.

P5: naturalisme adalah pemikiran dan pengetahuan manusia.

P6: naturalisme adalah produk untuk bertahan hidup.

Q: naturalisme bukan pengetahuan yang objektif.

Katakan =

HA: human ability
HR: human reasoning
PHR: product human reasoning
BH: bertahan hidup
PPM: pengetahuan dan pemikiran manusia
PO: pengetahuan objektif
N: naturalisme

Maka argumen di atas ditambah dua lemma sebagai basis dapat diekspresikan menjadi:

Lemma 1 : Ax ((x = ABy) <=> (KLy))
Lemma 2 : ~Ex (~EXx = NT /\ ONTx)

{Implikasi}

P1: (HA = BH) => (HR = BH)
P2: (HR = BH) => (PHR = BH)
P3: (PHR = BH) => (PPM = BH)
P4: (PPM = BH) => (PPM = ~PO)

(Modus ponen)

P4: N = PPM
P5: N = BH
Q: N = ~ PO

Artinya, jika kita konsisten dengan lemma 1, semestinya kita mengakui bahwa lemma 2 bukan suatu pengetahuan yang objektif selaim fakta bahwa dia ada untuk membantu kelangsungan hidup manusia. Jika kita mengakui lemma 2 sebagai pengetahuan yang sudah pasti objektif, ini bertentangan dengan lemma 1.

    Syahid Sya'ban
    Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)