Artificial Intelligence: Eksistensi Manusia yang Terancam

Artificial Intelligence: Eksistensi Manusia yang Terancam
©ZDNET

Fenomena kehadiran artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di era ini memberikan dampak yang begitu besar pada kehidupan manusia. Hal demikian dipengaruhi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, menunjukkan bahwa peradaban manusia setiap saatnya kian bergerak maju.

Artificial intelligence atau yang disebut kecerdasan buatan ini adalah robot komputer yang memiliki kemampuan mengerjakan tugas yang umumnya berkaitan dengan manusia. Dengan kata lain, AI ialah mesin cerdas yang diciptakan manusia untuk bertindak dan berfungsi seperti manusia.

Kecerdasan buatan dibuat untuk mempermudah kinerja manusia dalam menalar, menggeneralisasi, menemukan makna. Pekerjaan yang dilakukan oleh AI atau kecerdasan buatan tidak hanya terbatas pada satu aspek kehidupan manusia, melainkan seluruh aspek kehidupan manusia. Demikian kecerdasan buatan ini diibaratkan sebagai robot intelektual yang mampu mengelolah segala informasi, baik dari masa lalu maupun di masa depan.

Keberadaan AI yang makin maju dan tidak terbendung mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan. Keberadaan AI ini sudah lama menjadi perhatian yang intens bagi perkembangan kehidupan manusia.

Akhir abad 20 adalah menjadi titik awal perkembangan peradaban manusia. Galvin pada tahun 2003 telah memberikan definisi baru terhadap manusia yang berkaitan dengan keterkaitannya dengan perkembangan teknologi, ia menganggap teknologi yang ada pada manusia adalah pembeda dengan yang lainnya.

Jika kita mengamati lebih jauh, dalam setiap film-film yang dibuat oleh beberapa perusahan TV di Amerika sepeti Marvels, Universal Pictures dan sebagainya sering menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah menjadi peran penting dalam pembuatan film. Misalnya dalam film yang berjudul “Battleship” yang menunjukkan peperanagan melawan alien yang memiliki teknologi canggih dibandingkan manusia.

Begitu juga dengan film Doctor Strange yang sedang menunjukkan bagaimana kemampuan teknologi telah membuka keberadaan “metavers” atau kehidupan lain tempat manusia berada. Begitupun dengan Film Avatar yang menunjukkan visualisasi penggunaan teknologi tinggi. Semuanya adalah bagian dari perkembangan teknologi yang tidak lagi terbendung dalam kehidupan manusia.

Keberadaan teknologi, bukan hanya sebagai bantuan yang amat penting bagi manusia, melainkan juga titik kehancuran manusia jika tidak mampu mengontrol keberadaannya. Sehingga manusia harus benar-benar memiliki moralitas dalam perkembangannya.

Baca juga:

Isu Filosofis

Bagi Lappucini, ia menyebut manusia saat ini sebagai homo technicus yang memiliki kontribusi terhadap konsepsi manusia yang tidak terlepas dari teknologi (manusia-teknologi). Bagi Lappucini dan Gavin keberadaan teknologi yang berada disisi manusia adalah angin segar bagi manusia sebagai pengembang tehnik atau pembuat alat.

Keberadaan AI menjadi pro dan kontra terhadap kehidupan manusia. Bagi mereka yang beraliran pemikirian humanisme yang focus kepada eksistensi manusia akan menunjukkan dampak buruk yang akan menghampiri manusia dengan perkembangan AI yang tidak mampu terkontrol. Menurut Fritjof Capra awal kehancuran manusia karena mengikuti pemikiran Cartesian yang menjadikan teknologi berada pada puncak kebenaran (Capra, 2002).

Sehingga pada perkembangan AI dan pro kontra terhadapnya tidak lain adalah berkaitan dengan eksistensialisme manusia yang akan menggeser peran manusia dan tergantikan oleh mesin. Dalam kajian filosofis, isu posthumanisme adalah isu yang amat penting dibicarakan dalam perkembangan AI. Posthumnaisme tidak lain ialah kerangka filososfis yang mempertanyakan keutamaan manusia.

Posthumanisme mengkritik pemahaman humanisme yang menganggap bahwa manusia adalah sentral segala sesuatu di alam raya ini. Sehingga hubungannya dengan perkembangan AI ialah bahwa semua manusia akan digantikan oleh mesin atau kecerdasan buatan.

Ada beberapa isu penting dalam posthumanisme ialah adanya trans humanisme yaitu Gerakan filosofis dan intelektual yang mendukung peningkatan pada kondisi manusia dengan membuat dan mengembangkan teknologi yang canggih agar tersedia secara luas. Sebagaimana Mario Kyiazis tahun 2011 ahli biogerontology menunjukkan istilah baru  bagi manusia yang memiliki kombinasi dan fungsi otak sama seperti mesin atau teknologi.

Selain itu isu posthumanisme juga menunjukkan bahwa manusia adalah seorang Cyborg yaitu setengah manusia dan setengahnya lagi mesin. Cyborg atau cybermatic organisme yaitu istilah yang mengacu kepada individual yang memiliki sisi biologis dan artificial dalam dirinya. Selain itu ada juga Technosapiens yaitu istilah yang sangat akrab bagi manusia dan nyaman dengan teknologi.

Beberapa isu posthumanisme di atas sangat erat kaitannya dengan perkambangan AI yang saat ini perlahan sudah mengantikan tugas dan fungsi manusia. Bahkan tidak menggeser keberadaan manusia yang dulunya sangat dibutuhkan dalam suatu urusan.

Pemikiran yang menganggap bahwa AI erat kaitannya dengan eksistensi manusia yang hilang, maka beberapa pandangan mengatakan keberadaan AI akan menyingkirkan manusia dan peran pentingnya, akan terjadi perbudakan oleh mesin, kejahatan teknologi, lenyapnya lahan kerja dan berkurangnya kreatifitas. Semua keadaan tersebut adalah isu yang akan menggantikan manusia di masa depan.

Halaman selanjutnya >>>
Asman
Latest posts by Asman (see all)