Asa Itu Tak Pernah Padam

Asa Itu Tak Pernah Padam
Ilustrasi: Kelly Del Rosso

Tadi sore aku melihat Tiyem termenung di jendela. Tatapannya kosong, jauh di ujung pandang. Entah apa yang ia pikirkan.

Aku tidak berminat mengganggu. Maka kulanjutkan saja niatku ke hutan mencari kayu bakar, di belakang rumah. Sebab sebentar lagi emak pulang dari kebun.

Tapi, tidak seperti biasanya Tiyem begitu. Pikiranku mulai meraba-raba perihal apa yang buatnya murung.

Benar saja. Sampai aku tiba bersama kayu bakarku, Tiyem masih berdiri seperti semula. Belum bersihkan diri, masih gunakan kebaya hijau dan jarit usangnya. Sedang emak sudah sibuk di dapur, menanak nasi.

“Tiyem kenapa, Tin?” tanya emak yang tengah bersusah meniup api.

“Entahlah, mak. Sedari tadi dia sudah begitu.”

“Tidak kau tanyakan?”

“Tini selesaikan dulu pekerjaan, mak”

Walau sebenarnya dalam hati ingin bertanya, apa gerangan yang buat Tiyem betah berdiri berjam-jam di jendela? Lakunya tetap tegas. Berdirinya sempurna. Hanya saja, wajahnya seolah menyimpan luka. Mungkin luka lama sedang menganga. Emak coba menghampiri pelan-pelan.

“Yem?” tegur emak lembut sembari pegang pundaknya dari belakang.

“Iya, mak,” jawabnya tampak sedikit terperanjat

“Ada apa kok betah sekali berdiri di sini?”

“Ndak ada apa-apa, mak,” jawab kembali, lesu diiringi senyum palsu.

“Kau ingat si Izzat?”

Ibu tahu betul apa yang sedang dialami anaknya. Bagaimana tidak, ia alami semua yang terjadi pada si bungsu.

Mendengar kata-kata ibu, air mata Tiyem menggenang. Sebenarnya kami tahu persis bagaimana gejolak hati Tiyem semenjak ditinggal gadis kecilnya, Izzat. Anak satu-satunya yang ia besarkan melalui tangan sendiri, dan sebagai saksi laku riang si kecil.

Akibat keegoisan lelaki yang pernah ia cintai, dengan berat hati melepaskan buah hati tercinta untuk ikut-serta bersama ibu barunya. Lelaki yang ia percaya selalu bersetia, diam-diam main hati pada perempuan lain.

Sungguh hatinya remuk redam, tapi tak pernah ia ungkap. Ia tak sedikit pun marah, apalagi mengutuk. Sebab sadar, tak dapat paksa hati orang untuk terus mencinta, tak bisa jua paksa orang untuk terus bersetia. Biarlah cinta dan setia itu hanya jadi prinsipnya saja. Setidaknya, itulah sebaik-baik yang bisa ia lakukan.

Terlebih dirinya hanya gadis desa yang baca-tulis saja belum sempurna, tak bisa banyak menuntut untuk tidak ditinggalkan. Tapi, baginya lagi, ia tak akan melakukan hal yang sama walau lelaki-lelaki di desa begitu banyak yang berharap berhasil meminang. Tak terkecuali suami-suami yang sudah beristri.

Tiyem memang gadis yang ayu. Lakunya mandiri. Tidak banyak bunyi. Tapi anti jika harus mengamini pinangan lelaki yang sudah beristri.

Ia tidak gila kasih sayang. Ia juga tidak kejam merusak bahagia orang. Tak elok baginya melihat perempuan lain sesenggukan ditinggal lelaki akibat ulahnya.

Ia selalu memandang, laki-laki yang demikian tak ubahnya rumput liar yang mesti dibabat sampai tuntas. Tidak memberi ruang untuk tumbuh dan menjalar, sebab tajam. Hanya akan menimbulkan luka bengis pada betis yang melintas.

Hampir 13 tahun ditinggal suami, tak terbesit dalam dirinya untuk jalin hubungan dengan yang lain. Apalagi berniat didua dan menyerahkan diri pada lelaki hidung belang yang doyan gonta-ganti pasangan. Memilih untuk sendiri dan berpikir bagaimana nasib anaknya walau masih di ujung pandang.

Hampir mustahil dapat bersua dengan Izzat. Keberadaannya yang bahkan tidak ada yang tahu ke mana lelaki bejat itu membawa si gadis mungilnya. Kabar terakhir yang ia dapat bahwa suaminya itu sudah beristri. Cukup di situ saja.

_________________

Sebelum roh ayah ke langit dan jasadnya dikubur, ia kerap sampaikan tentang arti penting menjunjung tinggi pendidikan. Baginya, hanya dengan itu sesorang dapat maju—dalam berpikir dan berbuat.

Soal itu, ayah mendapat pendukung setia—Ibu. Tapi soal asmara atau perihal hati, mereka selalu berkilah; tak ada yang bisa diharap dari asmara, sebab hanya begitu-begitu saja—kau tidak akan menemukan kebahagiaan utuh.

Jika tidak pintar menyikapinya, kau hanya akan tertipu atau menipu. Untuk bisa pintar, orang mesti belajar. Belajar apa saja. Tidak belajar tentang cara-cara menyakiti orang lain.

“Nak, perempuan juga mesti memiliki sikap. Jika memang lelaki itu tidak lagi ingin bersamamu, sudah waktunya untukmu melupakan yang sudah-sudah. Setidak-tidaknya, bukan dirimu yang memulai pengkhianatan. Kau lebih mulia.”

“Perihal lelaki itu, Tiyem sudah menghapusnya jauh di relung hati terdalam, mak. Bahkan puingnya saja tidak tersisa. Hanya bagaimana nasib Izzat? Apa dia mendapat kehidupan yang layak dari ayahnya? Aku tidak yakin.”

“Nak, dalam keadaan sunyi dan sepi, berharap dan berprasangkalah yang mendamaikan hati. Tuhan tak pernah membiarkanmu sendiri, apalagi mengabaikan harapan-harapan yang melibatkan dirinya. Percayalah.”

“Emak benar. Dalam sunyi dan sepi, Tiyem tak pernah melibatkan Tuhan. Tiyem sibuk berprasangka bahwa ujian yang diberikannya ini tidak adil.”

“Tidak adil jika kau bandingkan dengan kehidupan yang layak-layak itu. Yang baik-baik menurut pandangan kebanyakan. Kau lihat si Rieke, setelah ditinggal lakinya, ditinggal pula anak ragilnya menuju Tuhan, sedang si bungsu hilang ingatan. Belum lagi panennya yang gagal, juga kerbaunya yang mati kelaparan ditinggal sang gembala.”

Lama Tiyem merenung, menatap dalam-dalam ucapan emak. Ia tidak lagi banyak mengelak. Air matanya perlahan susut walau wajahnya masih sayu.

“Nak, keadilan tidak akan didapat dengan berdiam diri. Ia mesti diperjuangkan—mesti dijemput. Keadilan tidak datang dari langit. Dia datang dari dua belah tanganmu yang siap merebut, juga pikiranmu. Itu sebabnya mengapa ayahmu berharap kalian memiliki pendidikan yang tinggi, tapi..tapi…”

Tetiba suara emak bergetar. Berharap bisa meneruskan kalimat itu, tapi seolah tak berdaya. Kalimat selanjutnya terhenti di tenggorokan. Seketika air mata emak jatuh. Kepalanya tertunduk.

“Emak tidak punya cukup uang untuk melanjutkan cita-cita ayahmu. Tidak dapat mengantarkan kau dan Tini ke kota untuk belajar baca-tulis. Setelah ayahmu pergi, emak seolah tak punya asa hidup hingga kalian yang jadi korban. Perempuan macam emak ini yang hanya bisa bertopang hidup pada lelaki akan sulit mandiri ketika ditinggal pergi dan mati. Ini yang emak takutkan terjadi pada kalian,” sambung emak masih pada kesedihan mendalam. Sesekali menyeka air mata dengan ujung kebaya.

Diam-diam aku tak tahan melihat emak sesendu begitu. Air mata pun tak dapat aku tahan. Seolah sibuk menyusun kayu dan meniup api, tanganku menyeka air mata diam-diam. Sekali aku pergi ke luar—ke pintu belakang, menangis sejadi-jadinya.

Dalam hati terdalam, aku selalu bercita untuk bisa baca-tulis seperti anak-anak di kota. Tapi, jika kuadukan keinginan ini pada emak, itu hanya akan buatnya tambah pilu, seperti yang kini kusaksikan. Aku tak rela melihat emak begitu. Di usia rentanya, aku hanya berharap bibirnya selalu tawarkan senyum.

Selama ini emak selalu menahan diri untuk tidak bercerita tentang penyesalan terbesarnya. Tapi dengan berat hati ia harus sampaikan. Ia tak ingin anak-anaknya mati nelangsa karena asmara, tak mandiri ditinggal lelaki. Ditipu karena tak dapat baca-tulis.

Perjanjian pernikahan yang tertulis di atas kertas ternyata bukan perjanjian yang membawa bahagia pada si Tiyem. Itu hanya perjanjian tentang anak yang jika selesai ia melahirkan, maka hak milik anak jadi punya si lelaki. Sialnya, ia cap tangannya di kertas sebagai tanda setuju. Itu semua terjadi karena ia tidak tahu apa yang termaktub.

Membaca saja terbata. Butuh waktu lama untuk bisa memahami. Lelaki biadab itu benar-benar hanya menjadikannya pelampiasan nafsu belaka.

“Andai emak tidak egois habiskan waktu memikir kepergian ayah, dapatlah kiranya emak ke kota mengantarkan kalian pada guru-guru pengajar baca-tulis itu. Tapi emak dilema. Emak juga tidak ingin kalian tinggal sendiri, terlebih pada usia kalian yang masih sangat belia. Maafkan emak, nak.”

Ini diucapkan dengan penuh kesungguhan. Tiyem ikut terhanyut pada kesenduhan.

Kami tidak pernah menyalahkan emak perihal masa silam yang sudah-sudah. Dengan kondisi yang kami sendiri tidak paham waktu itu. Hanya saja, di usia yang tidak lagi pantas belajar baca-tulis, ada sedikit kekecewaan yang mendalam terhadap nasib yang sedang tidak berpihak. Kini hanya bisa meratap. Harap cemas ada keajaiban lain.

_________________

Selang berapa hari setelah kejadian itu, Tiyem berniat pergi ke kota. Ingin belajar baca-tulis, katanya.

Walau usia sudah tidak muda, tak ada kata terlambat gapai impian. Ia sampaikan pada emak niatnya itu. Setelah ia kuasai semuanya, ia berusaha mencari Izzat walau masih sekadar berharap.

Benar saja, niatnya disambut baik oleh emak. Dipersilakan.

Sebulan di kota, ia sempatkan kirim surat. Katanya, di kota, ia sekaligus bekerja di toko kue Cik Nilam. Walau masih jadi babu orang, tapi tuannya cukup baik, bahkan sangat baik.

Tuannya berdarah Melayu asli. Ia merasa nyaman, sebab sang tuan sangat mendukung penuh niatnya untuk berbagi waktu belajar dan bekerja. Bila perlu, ia juga akan dibantu mencari Izzat yang mungkin dijadikan babu tanpa gaji oleh lelaki dan istri barunya itu. Sudah tak ada yang bisa ditutupi kabar burung tentang Izzat yang hidupnya melarat karena ulah sang ayah.

Setiap akhir bulan, Tiyem juga sempatkan waktu mengirimi buku-buku untuk aku dan emak. Walau kami masih meraba-raba memahami kata demi kata, tapi ia berjanji, jika pulang nanti akan ajarkan kami sampai bisa.

Ada sedikit kebahagiaan yang tersirat dari surat-surat yang ia kirimkan. Lela anak tetangga yang selalu bersetia membaca surat-surat Tiyem untuk kami juga nimbrung merasa bahagia.

Sedang emak hanya bisa berdoa tentang asa anak bungsunya itu. Semoga yang dicitakan tercapai juga dipertemukan dengan cucunya yang mungkin kini sudah beranjak dewasa. Sungguh asa emak adalah asa-ku juga.

___________________

*Klik di sini untuk membaca cerpen-cerpen lainnya.

Uci Susilawati
Uci Susilawati 15 Articles
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Yogyakarta