Awal Kisruh antara PB Djarum dengan KPAI

Awal Kisruh antara PB Djarum dengan KPAI
©Indosport

Nalar Politik – Bagaimana awal kisruh antara PB Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)? Berikut catatan Bonnie Triyana, Karyawan BUMD.

Awalnya, beber Bonnie, terjadi pada Agustus 2018 saat Yayasan Lentera Anak mengadukan persoalan audisi bulu tangkis PB Djarum ke KPAI. Lantas, pada Oktober 2018, KPAI mengundang PB Djarum untuk klarifikasi mengenai aduan Yayasan Lentera Anak.

“Tuduhannya: Djarum mengeksploitasi anak dengan cara menjadikan mereka objek promosi rokok merek Djarum sebagaimana tertera pada kaus jersey yang mereka gunakan selama rangkaian kegiatan diskusi,” terang Bonnie via status Facebook.

“KPAI menuduh PB Djarum melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 109 mengenai pengendalian produk tembakau,” tambahnya.

Menurut PB Djarum, jelas Bonnie, pasal tersebut tidak bisa diberlakukan. Karena Djarum yang dimaksud di sini bukanlah merek rokok atau produk tembakau, melainkan nama klub badminton yang berdiri sejak 1969.

“Sementara KPAI bersikukuh bahwa nama Djarum merujuk kepada merek rokok.”

Pada 14 Februari 2019, KPAI kemudian menyelenggarakan jumpa pers. Pihaknya mengatakan kepada wartawan bahwa PB Djarum telah mengeksploitasi anak melalui kegiatan audisi bulu tangkis. Karena anak-anak peserta audisi menggunakan kaus bertuliskan Djarum Badminton Club.

“Oleh karena itu, menurut KPAI, kegiatan audisi harus dihentikan.”

Lantaran tidak tercapai titik temu, maka pada Agustus-September 2019, KPAI dan PB Djarum kembali bertemu dengan mediasi Kemenpolhukam. Melalui perundingan alot, akhirnya PB Djarum bersedia memenuhi tuntutan KPAI.

“PB Djarum menghilangkan kata Djarum dari nama kegiatan, menjadi Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis. Anak-anak peserta audisi tak lagi menggunakan kaus atau jersey bertuliskan Djarum, tapi jadi Blibli.

Masih Menuntut

Setelah pertemuan itu, terang Bonnie kembali, nyatanya KPAI masih menuntut juga kepada PB Djarum. Tuntutannya adalah agar para legenda bulu tangkis (seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, Christian Hadinata, Liem Swie King, dan lain-lain) yang menjadi pencari bakat tidak menggunakan kaus Djarum.

“Masalahnya, mereka ini memang atlet klub PB Djarum, bukan atlet PB Bodrexin atau PB Klobot. Bagaimana mungkin menghilangkan nama klub PB Djarum sebagai nama klub bulu tangkis yang telah berdiri sejak 1969 itu dengan nama klub, misalnya PB Djarum Pentoel? Bagaimana pula misalnya dengan nama klub sepak bola PS Petrokimia Gresik? Apakah artinya klub sepak bola itu merangkap menjadi pabrik pupuk?”

Itulah bagi Bonnie yang membuat PB Djarum akhirnya menghentikan kegiatan audisinya. Padahal tuntutan Lentera Anak dan KPAI sudah dipenuhi.

“Mungkin PB Djarum harus mengganti nama jadi PB Dja’um atau cukup PB Aum. Aum Ah Gelap,” pungkasnya dengan emotikon terpingkal-pingkal. [fb]

Baca juga:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi
    Share!