Awal Mula Lahirnya Spiritualisme Religiositas

Awal Mula Lahirnya Spiritualisme Religiositas
Foto: Flickr

Religiositas, di masa lalu, menjadikan homo sapiens lebih fit terhadap seleksi alam.

Nalar WargaKematian adalah risiko terbesar bagi organisme hidup. Karena tidak akan pernah ada risiko lagi setelah organisme itu mati.

Sebagian orang takut dirinya mati. Sebagian kecil lainnya tidak takut kematian. Ini adalah variasi otak per individu. Bakatnya memang begitu.

Individu yang takut mati, berguna untuk menjaga kelangsungan spesies. Yang rela mati demi kelompok, berguna sebagai “senjata” (berburu/melawan musuh). Kasarnya, individu yang takut mati, “tugas”-nya menyambung keturunan spesies. Yang tidak takut mati, “tugas”-nya menunjang kebutuhan-kebutuhan kelompok.

Konsep adanya hidup sesudah mati di otak manusia mengikuti evolusi konsep kesadaran diri dan konsep dikotomi entitas dalam diri (jiwa-raga). Konsep adanya kehidupan sesudah mati dalam otak manusia sudah ada sejak zaman prasejarah. Indikatornya adalah ritual pemuliaan jenazah.

Banyak lukisan prasejarah di gua-gua yang menggambarkan ritual pemuliaan jenazah. Mengubur atau membakar jenazah adalah bentuk-bentuk pemuliaan. Sebelum kenal pemuliaan itu, jenazah manusia yang mati, ya dibiarkan begitu saja. Dibuang ke jurang atau ke sungai.

Konsep kesadaran diri dan konsep dikotomi raga-jiwa menimbulkan rasa takut di otak tentang prediksi jika jiwa meninggalkan raga, takut mati. Takut mati teratasi dengan konsep bahwa mati tidak sekadar mati, ada kehidupan selanjutnya. Rupaya varian semacam ini lebih fit terhadap seleksi alam.

Dalam perjalanan evolusinya, konsep aftar life menghasilkan konsep religiositas, amplifikasi hasil kerja sirkuit pahala NAcc di otak mamalia. Konsep reward-punishment (pahala-dosa) adalah hasil kerja NAcc yang merupakan sirkuit yang sudah terbentuk pada otak moyang-moyang manusia. Sirkuit pahama NAcc ada pada otak semua mamalia. Jadi tikus pun juga kenal konsep pahala-dosa di otaknya.

Konsep after life yang di-drive oleh NAcc menghasilkan spiritualisme religiositas, yang berdasarkan adanya dikotomi dosa-pahala setelah mati. Dalam evolusinya, konsep after life pada religiositas tentang adanya pahala-dosa ini mensyaratkan adanya “agen penyedia” pahala-dosa tersebut.

Konsep tentang agen penyedia pahala-dosa selanjutnya berkembang sesuai dengan tempat dan waktu di mana satu kelompok masyarakat hidup. Nah, di sini bermula konsep atau penggambaran tentang segala bentuk tuhan yang bertindak sebagai otoritas penentu pahala-dosa pada religiositas.

Konsep religiositas ini berlawanan dengan spiritualisme altruis yang didorong oleh sirkuit altruisme otak yang ada di orbito frontal cortex. Dalam perjalanan evolusi, religiositas (di masa lalu) membuat homo sapiens lebih fit terhadap seleksi alam. Neanderthal yang lebih altruis punah.

Religiositas meningkatkan ikatan dalam kelompok. Karena konsekuensinya, ada orang yang dianggap lebih dekat dengan tuhan dan dianggap punya otoritas. Orang yang dianggap mempunyai kedekatan dengan dewa, tuhan, atau apalah namanya, cenderung dipatuhi. Secara langsung, hierarki terbentuk dengan sendirinya.

Sejalan waktu, pernak-pernik religiositas mengalami sofistikasi dan variasi. Keliaran imajinasi manusia versus imajinasi tandingan. Tapi ya, selalu saja ada varian. Dalam populasi homo sapiens yang cenderung memegang religiositas, muncul juga varian yang cenderung altruis.

*Ryu Hasan