Balada Penentang Rezim

Balada Penentang Rezim
©CNN

Di media sosial, para penentang rezim hanya memanen dukungan berupa tanda Like dan Comment, atau bersama-sama dalam pesta caci-maki.

Kediaman Rachmawati Soekarnoputri di Jalan Jatipadang Raya, Jakarta Selatan, pada Sabtu 20 Juni 2015 malam, seperti suasana rapat gelap tapi meriah. Putri sang proklamator menjadi tuan rumah peringatan wafatnya Soekarno. Ada jamuan, berbagi nasi tumpeng, dan tentu pidato-pidato. Salah satu yang berbicara di podium adalah tokoh vokal dari masa lalu: Sri Bintang Pamungkas.

Suaranya sungguh lantang. “Negara ini sudah kacau. Harus ada ganti rezim dan ganti sistem,” katanya berapi-api. Bahkan ia berharap Jokowi-JK bisa segera turun dari singgasana. “Jokowi dan JK harus kita tumbangkan.”

Orasi Sri Bintang Pamungkas toh tak menjadi wacana publik. Hanya semacam terompet sumbang yang membelah malam. Tak ada yang menyambutnya, bahkan para hadirin mungkin tak lagi mengingat sang orator.

Di masa Orde Baru, Sri Bintang Pamungkas adalah peringkat pertama penantang rezim Soeharto. Ia tak pernah bisa akur dengan rezim yang puluhan tahun berkuasa. Ia bersuara menentang postur anggaran negara yang didominasi utang luar negeri, ia menentang kekuasaan yang terlalu lama.

Doktor ekonomi lulusan Iowa University, Amerika Serikat, posisinya sebagai anggota DPR dari PPP, dan suaranya yang lantang adalah perpaduan sempurna seorang penentang rezim yang kuat dan menjadi pahlawan.

Di bawah rezim Orde Baru yang kejam toh Sri Bintang akhirnya terganjal juga. Pada 5 April 1995, Presiden Soeharto dan rombongan berkunjung ke Kota Dresden, Jerman. Saat bis yang mengangkut Soeharto berkunjung ke satu museum, tiba-tiba serombongan pengunjuk rasa merangsek jalan, sebagian berbaring di permukaan aspal. Ada yang menabuh gendang dan meniup terompet.

Di sela-sela itu, teriakan-teriakan mencaci-maki Soeharto terdengar. Mereka rupanya aktivis pembebasan Timor Timur. “Hey Indonesia, keluar kau dari Timor Timur, kembalikan Timor-Timur,” begitu isi salah satu kertas selebaran yang terserak di jalanan.

Soeharto marah besar. Ia menyebut penggerak demonstrasi itu sebagai “orang gila”. Saat kembali ke Indonesia, media massa meributkan peristiwa ini dan menyebut satu nama di belakang para demonstran: Sri Bintang Pamungkas yang saat itu memang sedang berada di Jerman.

Begitu tiba di tanah air, Sri Bintang dicegat puluhan polisi di bandara. Ia ditangkap dan diadili dengan tuduhan yang gawat: menghina presiden. Di pengadilan, Sri Bintang divonis dua tahun dan 10 bulan penjara. Dan ia tak terima. Ia melawan putusan itu dengan banding, kasasi lalu mengajukan peninjauan kembali.

Setelah itu, Sri Bintang tetap menjadi bintang perlawanan terhadap Soeharto. Ia menjadi idola anak muda, terutama mahasiswa di berbagai kota. Pada tahun 1996, Sri Bintang mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI), sekaligus menyatakan dirinya sebagai calon presiden berpasangan dengan Julius Usman. Impiannya untuk menggulingkan Soeharto tak pernah pupus.

Baca juga:

Di tahun 1997, Sri Bintang kembali masuk tahanan. Ia disel di kejaksaan, lalu dipindahkan ke penjara Cipinang. Semuanya gara-gara selebaran PUDI, partai Sri Bintang itu, yang isinya menyatakan tak mengakui Pemilu 1997 dan menolak Soeharto kembali menjadi presiden. Lagi-lagi ia dikenai tuduhan subversif.

Sri Bintang baru dibebaskan pada 26 Mei 1998, sepekan setelah Soeharto benar-benar tumbang.

Selain Sri Bintang, orang-orang yang berani menentang rezim Soeharto bisa dihitung dengan jari: Adnan Buyung Nasution, trio aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ahmad Taufik, Eko Item Maryadi, dan Tri Agus Siswomiharjo, pentolan Partai Rakyat Demokratik seperti Budiman Sudjatmiko, Yeni Rosa Damayanti, dll, sastrawan Wiji Thukul, lalu penulis George Junus Aditjondro, dan tentu saja para pensiunan jenderal yang dikenal dalam kelompok Petisi 50.

Mereka yang menentang rezim Soeharto bisa dikata benar-benar tak nyaman hidupnya. Izin pengacara Adnan Buyung dicabut, aktivis AJI dipenjarakan, Budiman Sudjatmiko juga sempat dibui, bahkan Wiji Thukul diculik dan hilang tak tentu rimbanya sampai kini. Adapun para pentolan Petisi 50—sebagian di antaranya adalah kawan-kawan seperjuangan Soeharto dan pendiri Orde Baru—juga mengalami nasib yang mengenaskan.

Ada banyak kisah, para jenderal ini—AH Nasution, Ali Sadikin, Kemal Idris, Muhammad Yasin, Hartono Rekso Dharsono, dan Hoegeng—mengalami perlakuan tak manusiawi gara-gara kritik terbuka yang mereka lancarkan kepada rezim yang berkuasa. Ada yang dilarang muncul di acara publik, keluarganya dipersulit, bahkan HR Dharsono dipenjara dengan tuduhan ikut meledakkan bom BCA Pecenongan, Jakarta.

Begitulah.

Di bawah rezim yang otoriter dan represif seperti Orde Baru, para penentang adalah orang-orang dengan nyali berlapis-lapis. Maklum, taruhannya adalah nyawa, ganjarannya berupa kesulitan hidup. Tapi suara mereka bergema di permukaan atau di pergunjingan bawah tanah. Dan nama mereka dikenang. Seperti saat ini, saya bisa menuliskannya dengan leluasa.

Orde Baru kemudian tumbang. Indonesia memasuki era demokrasi. Rakyat sungguh-sungguh berkuasa. Suara Sri Bintang Pamungkas tak lagi terdengar garang. Apalagi ketika kakak iparnya Meutia Hatta duduk pula di pemerintahan.

Teriakannya di podium di kediaman Rachmawati Soekarnoputri —“Jokowi dan JK harus kita tumbangkan”—sudah tak lagi mengendap di telinga pendengarnya.

Di bawah rezim yang otoriter, suara menentang pemerintah membutuhkan orang-orang berani dengan nyawa yang berangkap-rangkap.

Baca juga:

Kini, Indonesia di bawah pemerintah Jokowi. Inilah era yang begitu terbuka, ketika semua orang bebas meneriakkan ketak-sukaannya kepada rezim yang berkuasa. Dan penguasa tak murka. Tak terdengar kemarahan Jokowi ketika ia dihujat, dituntut mundur, bahkan dikoar-koarkan hendak ditumbangkan lewat aksi jalanan.

Di media sosial, para penentang rezim hanya memanen dukungan berupa tanda Like dan Comment, atau bersama-sama dalam pesta caci-maki. Jumlahnya ribuan. Sejumlah nama begitu menonjol. Ada Jonru dengan halaman yang kerap pula diselingi dagangan.

Ada Nanik S. Deyang yang sebenarnya tak murni benar sebagai penentang karena perempuan inilah yang sesungguhnya orang pertama yang menahbiskan Jokowi sebagai kandidat presiden saat masih akur sebagai pendukung Gubernur Jakarta. Ada Trio Macan yang ternyata menjadikan suara garang sebagai modus untuk tindak kriminal pemerasan.

Di luar nama-nama mereka, para penentang rezim di media sosial saya kira hanya pegiat yang sungguh menikmati gemerlap kerumunan kawan-kawan seiring. Tak ada yang mencemaskan.

Selamat siang, para pejuang anti-rezim media sosial.

Tomi Lebang
Latest posts by Tomi Lebang (see all)