Bangkitnya Sel-Sel Tidur Teroris

Bangkitnya Sel-Sel Tidur Teroris
Ilustrasi: Gary Neill

Nalar PolitikSejumlah peristiwa mengenaskan yang hari terjadi di Indonesia terindikasi kuat akan bangkitnya sel-sel tidur teroris. Banyak pengamat terorisme telah mengungkapkan itu, termasuk oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia.

Bermula dari pemberontakan atau kerusuhan di Mako Brimob oleh 155 narapidana terorisme. Aksi brutal ini berhasil menewaskan 5 anggota kepolisian. Dua hari setelahnya, terjadi penikaman terhadap anggota satuan intel Brimob. Hingga yang terbaru, hari ini, ledakan serangan aksi terorisme di tiga gereja Surabaya yang juga memakan korban.

Peristiwa mengenaskan nan bural ini, oleh Juru Bicara Polri, Setyo Wasisto, menunjukkan bagaimana bangkitnya sel-sel tidur teroris. Hal ini yang juga sebelumnya sudah disinggung oleh pengamat terorisme, Stanislaus Riyanta, dalam artikelnya bertajuk Bangkitnya Sel Tidur Teroris: Empat Hal tentang Kerusuhan di Mako Brimob.

Menurut mahasiswa doktoral bidang Kebijakan Publik UI itu, penyiksaan dan pembunuhan brutal di Mako Brimob yang disiarkan live lewat media sosial, menunjukkan bahwa ada kebutuhan bagi untuk melakukan propaganda tentang aksi yang penuh kekerasan.

Propaganda ini dapat dinilai sebagai ajakan untuk mengikuti apa yang mereka lakukan. Dan dampak yang bisa terjadi dari propadanda ini adalah bangkitnya sel-sel tidur teroris.

Maka tak salah jika sebagian pihak kemudian mengatakan, terjadinya kembali aksi brutal teroris atas tiga gereja di Surabaya itu punya keterkaitan kuat dengan pemberontakan atau kerusuhan yang sebelumnya terjadi di Mako Brimob.

Indikasi inilah yang juga ditunjukkan oleh Setyo Wasisto. Melihat aksi teroris yang ditangkap di Cianjur sebelum terjadi ledakan di tiga geraja Surabaya, memang ada keterkaitan khusus dari peristiwa tersebut.

Ungkapnya, mereka diduga punya rencana melancarkan serangan ke sejumlah pos polisi di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, antara lain ke Mako Brimob. Identitas mereka pun terungkap, yakni merupakan anggota Jemaah Ansyaru Daulah (JAD).

“Mereka merupakan sel-sel tidur teroris yang bangkit menjelang Ramadhan dan Lebaran,” pungkasnya seperti dilansir BBC Indonesia.

Redaksi NP
Reporter Nalar Politik