Bank Islam adalah Cara Licik Menipu Tuhan

Bank Islam adalah Cara Licik Menipu Tuhan
©World Bank Blogs

Nalar Warga – Bank Islam adalah cara licik menipu tuhan. Demikian kutip Luthfi Assyaukanie dari pernyataan Sjafruddin Prawiranegara dalam standpoint-nya berjudul “Tokoh-Tokoh Islam Super Keren”.

Dikisahkan bahwa Sjafruddin adalah gubernur pertama Bank Indonesia. Tokoh kelahiran Banten ini, menurutnya, super-duper keren, terutama soal ketidakpercayaannya dengan konsep Bank Islam.

“Baginya, uang adalah uang. Bunga bank bukanlah riba. ‘Bank Islam adalah cara licik menipu tuhan,’ begitu katanya suatu kali,” ” tulis Luthfi, Minggu (7/11).

Dalam sistem bank Islam, jelas Luthfi, simpan-pinjam diubah menjadi akad jual-beli, meski pada dasarnya mekanisme kerjanya sama saja dengan bank-bank konvensional.

“Itu yang dimaksud Sjafruddin sebagai ‘menipu tuhan’.”

Selain Presiden De Javasche Bank (1951-1953) itu, tokoh-tokoh Islam lainnya yang dinilai superkeren oleh Luthfi Assyaukanie adalah seorang diplomat dan salah satu pemimpin di perang kemerdekaan Indonesia bernama Mohammad Roem.

“Roem tak kalah kerennya dari Sjafruddin. Dalam bukunya, Bunga Rampai dari Sejarah, banyak sekali ceritanya selama dia menjadi Menteri Luar Negeri dan bergaul dengan beragam orang di dunia.”

Meski seorang muslim yang taat, Roem dikisahkan tidak pernah takut dengan ijtihad.

“Dia berpandangan bahwa minum wine dalam kadar tertentu tidaklah haram. Menurut mazhab Hanafi, wine tidak haram. Boleh saja kaum muslim minum wine, asal tidak sampai mabuk atau kehilangan kesadaran.”

Sebagai diplomat, Roem dinilai paham bahwa ada manner dan kepantasan dalam pergaulan. Misalnya, tentang wine yang merupakan salah satu simbol kehangatan dalam pergaulan di segala peradaban, termasuk peradaban Islam.

“Pada era keemasan Islam, Shiraz adalah kawasan wineries (kebun anggur) yang sangat terkenal. Itulah kenapa salah satu wine terbaik yang kita kenal sekarang bernama ‘Shiraz’. Cobalah sekali-kali.”

Baca juga:

Termaktub pula nama M Natsir, Abu Hanifah, dan M Rasjidi sebagai tokoh-tokoh Islam superkeren versi Luthfi. Sebagian besar dari mereka mengenyam pendidikan Barat (Belanda dan Prancis) dan bergaul dengan standar tinggi.

“Model kemajuan yang ada di kepala mereka adalah negara-negara modern di Eropa. Meski mengusung ide ‘negara Islam’, Islam yang mereka bayangkan super-keren: Islam yang pro-kebebasan, persamaan perempuan, pro-sains dan kemajuan, kebersihan, dan kesetaraan.”

Walau tampak paradoks, utopianisme mereka tentang Islam dianggap bukan tanpa preseden. Mereka bercita-cita mengembalikan era kegemilangan Islam yang pernah terjadi di abad ke-8 hingga ke-12 di mana seluruh pencapaian dan standar kejayaan mencapai puncaknya: sains, kedokteran, filsafat, musik, dan sastra.

“Barat adalah model, bukan Arab apalagi negara bangkrut macam Taliban—saat itu Taliban tentu belum lahir. Negara ideal yang menjadi rujukan kaum modernis muslim adalah Belanda, Swiss, Denmark, dan negara-negara Eropa yang sejahtera. Pokoknya keren banget.”

Mereka dinilai tidak takut dengan Barat, sebab Barat ada dalam darah daging mereka. Mereka menggunakan Belanda dan Inggris sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Tak salah jika Soekarno selalu mengagumi mereka dan memosisikannya sebagai lawan debat paling tangguh.

“Soekarno tak pernah ragu dengan komitmen mereka terhadap Indonesia. Karenah itulah tokoh-tokoh itu diberi kepercayaan maksimal. Sjafruddin pernah menjadi kepala negara, menggantikan Soekarno, ketika Indonesia dalam keadaan gawat (PDRI). Roem dipercayakan sebagai kepala negosiator untuk perundingan-perundingan dengan Belanda.”

Ketika dibandingkan dengan tokoh-tokoh Islam terdahulu, generasi modernis muslim di Indonesia kini disebutnya mengalami penurunan kualitas. Luthfi melihat generasi sekarang hanya mampu meributkan hal-hal yang tidak penting, seperti bank Islam dan wine.

“Jika Sjafruddin dan Roem masih hidup, pasti mereka berdua heran dan sedih tiada tara melihat mutu generasi penerusnya yang rendah itu.” [fb]