Batuk Intelijen si Devi

Batuk Intelijen si Devi
©WalpaperBetter

Semua pelatihan pembusukan, infiltrasi, usikan, kombat intelijen yang taktikal banget dibuat mati kutu seketika melawan wabah ini.

Anyu, mendoronglah pinggangnya yang ramping itu berulang-ulang ke sisi aman lengan pria yang masih tertekuk di meja untuk sebuah posisi menulis.

Seperti rahum, air asin laut yang masuk ke perahu tanpa perlawanan adesif cat yang melekat di kayunya. Usikan itu tak membuat basah si lelaki yang tersudut konsentrasinya. Beberapa piranti penginderaan jarak jauh dan konsol-konsol audio penyadapan tampak berantakan, beradu semburat dengan sampah bungkus makanan cepat saji.

Beberapa botol minuman berperisa juga sepertinya habis berguling ke sana-kemari mengikuti sepakan kaki keduanya yang jelas tak bisa bergerak di ruang pengap yang sempit itu. Ruangan pengap itu makin memantik kesehatan mental mereka berdua, depresi, isolasi sosial, dan gangguan kecemasan yang berlebihan.

Sepi janapada, daerah di pinggir kota yang menjadi titik pengumpulan informasi itu seolah ikut merasakan kahumata, setara bulan pertama pagebluk jalang melejit bak suap makanan tersendok hingga ke anak tekak. Kekkk!!

Grukkk! Cuahh! Interjeksi imitatif beruntun ini tanpa jeda. Berkali-kali seolah beriring percik encer, membasahi, bersaing dengan percik hujan yang lolos dari ventilasi usang yang dipenuhi sarang laba-laba. Namun terasa bedanya, mana percikan yang berasal dari kondensasi sejuk awan dan mana percikan dari gesekan sebuah inflamasi tenggorokan yang hangat.

“Kaf,” kata Remon seenaknya sambil menulisnya dengan sebuah perwakilan centang pada tabel-tabel yang tergambar awut-awutan di kertas lecek yang sepertinya berkali-kali mengalami lipatan.

Dibukanya lagi kamus saku Bahasa Inggris yang tak muat bagi ukuran saku baju Indonesia itu. Jari telunjuknya tertuntun hingga tulisan “Cough” yang dibaca “Kaf”. Manggut-manggut berbilang, “Ah, benar, kaf!”

“Gruuukkk, cuiiih!” Makin berat saja batuk Devi itu, melepas tekanan dada yang seolah penuh siap meledak.

“Kaf.” Lagi-lagi Remon memberi centang kepada frekuensi batuk Devi. Hujan makin deras, seolah suara curahannya ingin menutup ledakan batuk Devi.

“Berhenti!” Dev menatap Remon dengan seruan intonasi amarah yang meninggi.

Tampak kecut wajah Remon yang bermuka dua, licik, dan manipulatif itu. Mereka berdua menempatkan apa yang diinginkan masing-masing menjadi lebih penting daripada kemenangan, uang, maupun kekuasaan bahkan Tuhan.

Devi adalah aset negara, sengaja dirancang untuk menjadi seorang “Machiavellianism”. Disiapkan untuk menyusup ke sipil demi sejumlah informasi. Tanpa halangan fitur-fitur manusiawi, seperti belas kasihan, altruisme, hingga percintaan.

Sedang Remon adalah pengawas aset yang telitinya minta ampun. Auditor intern intelijen yang masih berlagak intel ingusan, yang selalu menonjolkan gagang pistolnya, padahal sedang melakukan kegiatan “under cover intelligence”.

Tampilan Remon jelaslah usang dan kontraproduktif. Sepertinya yang di sebelah tembok pembatasnya seolah intelijen pertahanan, intelijen yustisia, bahkan lembaga-lembaga sipil eksakta dan data yang juga keranjingan berintelijen menertawakannya. Pertarungan antara lembaga-lembaga intelijen negara yang diwasiti oleh komite intelijen parlemen yang telah disumpah untuk super-rapi dan tidak bocor.

Hari itu, si aset negara diduga terkena jasad renik pagebluk yang bisa memanggil berbagai kegoncangan. Semua pelatihan pembusukan, infiltrasi, usikan, kombat intelijen yang taktikal banget dibuat mati kutu seketika melawan wabah ini.

Rendahnya emosi yang dimiliki Devi adalah efek rekrutmen negara yang ceroboh dan asal-asalan. Biro pengkaderannya hanya silau dan tergiur tampilan fisik Devi yang dipaksa pas dan multitalenta seperti fiksi-fiksi telik sandi Hollywood.

Beberapa tim seleksinya sukses mencicipnya. “Werving” pun menjadi “waving” yang bergelora nafsu bak gelombang tidal lautan saat purnama.

Sedang Remon, pengawas aset yang sudah beberapa kali mengalami terapi psikis, kerjanya membuat dia jadi pribadi yang hiper-koreksi. Sudah tak mempan lagi dibujuk oleh digital. Kegilaan terhadap cara analog melebihi ketelitian sebuah presisi sistem biner.

Itu semua yang membuat mereka melakukan hal-hal kejam. Para psikopat yang tidak memiliki pedal rem. Sebagai aset intelijen negara-negara transisi, tujuannya hanya untuk menampilkan demokratisasi intelijen yang pada dasarnya sulit dilakukan.

Komite khusus intelijen di parlemen dengan sumpahnya agar tidak membocorkan rahasia negara pasca-rapat kerja dengan lembaga-lembaga intelijen negara juga menjadi titik rawan sipil yang diberi beban dan kerasnya habitat intelijen.

“Transparansi intelijen?” Remon membuka pertanyaan interpersonal yang basa-basi.

“Lupakan ideal itu!” Devi menghentikan kemungkinan rentet debat kusir dengan partnernya.

“Mana ada intelijen yang demokratis transparan? Intel kok terang-benderang?” gerutu si Remon.

“Terciptalah kami untuk dan guna melemahkan struktur kekuatan subversif dan makar!” Devi meninggikan suara dan mengulangnya beberapa kali seperti anak ingusan yang berlatih menghafal. Seolah mengulang paket-paket SKS perkuliahan doktrin saat di Akademi telik sandinya. Benar-benar goyah mereka berdua di ruangan pengap yang tak pernah ada cetak biru dan koordinatnya.

Asas kompartementasi adalah, dalam menjalani tugas dan fungsinya, aktivitas Intelijen terpisah satu sama lain, dan hanya diketahui oleh unit yang bersangkutan. Sedang Remon bak wadah yang berisi ide-ide yang tampak dibenamkan paksa di otak kanannya sehingga mati meninggalkan paket-paket memori instruksi dan eksekusi.

Ia harus bisa memastikan bahwa aset intelijen beroperasi sesuai rencana. Menancapkan kontributor-kontributor jiwa korsa dalam mempromosikan stabilitas jangka panjang pemerintahan yang dipaksa demokratis. Namun, saat itu, ia telah membangun egoisme yang sempurna (narsistik), manipulatif, dan rendahnya nurani. Kurang empati.

Bagi intelijen psikopat, memotong kepala ayam dan memotong kepala orang tidak ada bedanya. Hal-hal kecil seperti rangsang normal gerak sipil mudah membuatnya bereaksi. Level kesiagaan yang mudah menciptakan kekecewaan, kegagalan, fobia, hingga mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.

Mereka berdua bisa menjerit panik ketika menyentuh sehelai kertas bekas yang jatuh tak berdebum. Sungguh mencekam level kewaspadaan mereka berdua. Bak hantu-hantu negara yang bergidik sendiri oleh ulahnya.

“Tugas intelijen untuk menggali informasi rahasia tanpa menangkap orang,” Devi mulai mengigau oleh demam akibat jasad renik pagebluk yang bandel itu.

Inersia jiwanya melecut percepatan ingatan lugunya, lajunya tanpa meragu. Sesekali dengan mundur yang aneh, teringat bias-bias keluguan masa kanaknya yang jauh dari suar-suar doktrin dan cuci otak.

Begitu pula si Remon yang sama menggigilnya, logikanya berputar kebingungan. Teringat masa jaya ranah ketuhanannya saat memegang tampuk pimpinan kegiatan kerohanian sekolahnya dulu.

Saat yang dulu lesat dan lezat, keyakinan ala anak putih abu-abu yang tak pernah gaguh, akhirnya berpeluh saja. Gamang dalam kebendaan. Berputar-berputar saja membuat dosa baru lalu doa ampunan yang baru juga. Meraung ratap setelah melesak nikmat. Dan itu-itu saja, kenapa tak mati saja, bisiknya.

“Hak ilahia-ku diam sajalah atau ikut menari bersama jumudnya keintelijenan ini,” gerutu Dewi.

Setiap saat mencuri langkah, kalau perlu berbuat dosa biar bisa cicip bocoran dan nikmat menjadi dinding bertelinga. Menjadi hantu-hantu negara agar kekuasaan terhindar dari pendadakan strategis. Kejayaan tentang Badan Intelijen Negara yang dulu sempat tidak memiliki payung undang-undang untuk melaksanakan tugas-tugas mereka.

“Bukankah persetan dengan rechstaat ataupun machstaat, Dev?” tanya Remon yang sudah Senin-Kamis napasnya.

“Betul, nyatanya kekuasaan telah melebihi hukum, dan kita intelijen kadang terpancing untuk mencicip,” jawab Devi yang sudah siap kontak dengan tim eksekusi.

Radio komunikasi itu berbunyi beberapa kali. Tak sadar Devi menumpahkan kodrat kemanusiaannya. Mulai muak sebagai aset yang bertanggung jawab menyediakan paket-paket kerahasiaan untuk negara, telah menjadi kaki tangan kekuasaan dengan bermain dalam lingkaran kepentingan eksekutif-politik praktis, kapasitas dan kapabilitas khusus seperti memasuki wilayah pribadi atau komunikasi yang bersinggungan dengan prinsip HAM.

“Kenapa tak kita saja tinggalkan pos ini, Dev? Kita sudah sekarat!” Remon mulai luntur semangat survivalnya.

“Obat akan datang dua jam lagi. Tenanglah!” Devi mencoba berpersuasif sambil terus memasukkan setoran informasi ke pusat.

“Saya ragu memasukkan orang itu dalam manifes,” kata Remon datar saja.

“Ada apa kau ini! Jangan potong alurnya, ini sudah rapi!” Devi mengamuk, namun demam itu makin meninggi saja.

Prosedur minimalis di daerah pengintaian dan penyadapan informasi membuat mereka berdua benar-benar dibatasi logistik dan peralatannya. Obat pun harus ditebus dengan daya survival imun tubuhnya masing-masing.

“Kenapa kau potong alurnya, apa karena dia sahabatmu? Manifes tetaplah manifes yang siap diangkut!” Devi terus mengoceh penuh selidik.

Remon tak menggubris, dipakainya sisa-sisa napasnya untuk menghabiskan deretan kalimat di layar gawainya. Devi mulai curiga, nafsu desersi si Remon meningkat akhir-akhir ini, sering indisipliner.

Tanpa sepengetahuan Remon, Devi mendekat tepat di belakangnya. Mereka seolah membuat perang sendiri. Semua teori tentang batasan ruang komparmen tiada guna, mulai saling selidik.

“Oh, ada pembelotan, ya?” Devi membisik ke telinga Remon. Sukses matanya menangkap beberapa kalimat pada paragraf akhir di layar tersebut.

“Kau kira tak ada filsafatnya?” Remon tenang mengucapkannya, sesekali terbatuk.

Sebuah keorisinilan dan keuniversalan telik sandi yang dipaksa halus, bijak, penuh kasih oleh filsafat.

“Filsafat intelijen?” Devi terkekeh.

“Katanya bersifat pragmatis, namun lebih bersifat etis?” Remon makin dalam masuk area tabu bagi korp mereka.

“Terlalu banyak pragmatismenya, kau merasakan itu?” tanya Devi.

“Umpet-umpetan, hit and run, dengan payung paradigmatiknya?” tanya si Remon.

“Tentu,” enteng saja Devi menjawab.

“Kau? Kok, lebih desertif?” Remon keheranan.

“Prinsipnya cenderung bias, tidak lagi berbuat sebelum terjadinya sesuatu, namun kadang menghukum sebelum terjadinya sesuatu,” Devi makin kronikal.

Keduanya sepakat tanpa berdebat. Tersadar oleh kanal yang selama ini dipaksa untuk jauh dan tabu. Manifes yang siap dikonfirmasikan kepada tim eksekusi secara perlahan dinetralkan. Secara tak sadar mereka berdua telah melakukan kontra-intelijen terhadap tim eksekusinya sendiri.

Masa inkubasi jasad renik itu tinggal separuh minggu lagi, namun keduanya sudah tak mampu lagi bertahan……

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)