Beda Pemilih Ahok-Jokowi dan Anies-Sandi

Beda Pemilih Ahok-Jokowi dan Anies-Sandi
Ilustrasi: warta.co

Nalar PolitikPeneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir mengatakan bahwa ada perbedaan signifikan antara massa pemilih Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dengan para pendukung Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Hal tersebut, menurut Amin, tampak dalam respons mereka terhadap kinerja masing-masing idolanya.

“Para pemilih Anies Baswedan berbeda dengan para pemilih Ahok atau Jokowi yang rasional. Mereka (pendukung Anies-Sandi) tidak akan rewel jika Anies tidak mengerjakan apa yang telah dijanjikannya,” tulis Amin dalam status Facebook-nya, Selasa (24/10/2017).

Bahkan, tambahnya, para pendukung Anies-Sandi itu juga tidak akan merasa malu melihat bobroknya kinerja sang idola.

“Seberapapun konyolnya Gabener (Gubernur) baru Jakarta yang telah dipilihnya,” lanjutnya.

Anies sendiri pun dinilai paham soal karakter pemilihnya ini. Anies dianggap akan tetap enjoy saja menikmati panggung barunya itu.

“Begitu pula Sandiaga Uno. Dia akan tetap berpose sana-sini dengan jurus bangaunya,” sambung alumnus UGM itu berkelakar.

Terkait bagaimana arah pandangan para pemilih Anies-Sandi, Amin melanjutkan bahwa mereka tampil mewakili sebuah zaman baru, yakni zaman pasca-kebenaran.

“Tata bahasa zaman ini berbeda dengan tata bahasa zaman sebelumnya. Rasionalitas yang berbasis pada pikiran waras diri sendiri sulit diterima kalau tidak sesuai dengan keyakinan kelompok yang lebih besar. Para pemilih Anies persis mewakili zaman baru ini,” pungkasnya.

Meski demikian, terang Amin kembali, ini bukanlah akhir zaman. Tetapi hal tersebut lebih merupakan tantangan baru yang harus dibendung bersama.

“Sudah saatnya kita mencari suatu bentuk rasionalitas yang lebih sensitif pada perasaan-perasaan komunal. Sudah saatnya kita menerima kenyataan bahwa manusia digerakkan tidak hanya oleh pikirannya sendiri, tetapi juga oleh identitas kolektifnya. Mungkin hanya dengan itu rasionalitas masih bisa diselematkan dari kepunahan,” tutup peneliti LIPI yang juga pernah mengeyam pendidikan di STF Driyarkara itu.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi