Belajar Meneladani Hatim Al-Asham

Belajar Meneladani Hatim Al-Asham
Ilustrasi: theunboundedspirit.com

Pelajaran yang bisa kita teladani dari sang sufi Hatim Al-Asham adalah bagaimana kita dapat menjaga rahasia atau suatu aib dari orang lain agar dia tidak malu atau dipermalukan.

Nalar Warga – Dulu, saat saya masih belajar di pesantren, saya pernah mengaji kitab Nasho’ihul Ibad (نصائح العباد) karya Syekh Nawawi Al-Jawi/Al-Banteny.

Dalam kitab tersebut, disebutkan sebuah cerita yang diriwayatkan oleh Imam Al-Ghazali tentang seorang Sufi yang bernama Hatim Al-Asham. Al-Asham di sini berarti tuli, padahal sebenarnya Hatim tidaklah tuli, namun dia pura-pura tuli hanya untuk menjaga perasaan seorang wanita agar wanita tersebut tidak malu selama 15 tahun lamanya sampai wanita tadi wafat. Oleh karena itu, Hatim dijuluki Al-Asham (yg Tuli).

Berikut kisahnya:

Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya.

Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras.

“Tolong bicara yang keras! Saya tuli.”

Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim.

“Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim.

Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun.

Pelajaran yang bisa kita teladani dari sang sufi Hatim Al-Asham adalah bagaimana kita dapat menjaga rahasia atau suatu aib dari orang lain agar dia tidak malu atau dipermalukan. Kisah ini menurut saya masih sangat relevan untuk zaman sekarang apalagi di zaman SOSMED ini telah terjadi yang namanya GHIBAH NASIONAL atau bahkan Internasional, dan kita terbiasa dengan itu dan bahkan bangga.

Semoga kita bisa meneladani Hatim Al-Asham sehingga kita bisa hidup rukun toto tentrem kerto raharjo… Amin.

*Robert Ell Umam

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)