Belajar Menulis

Belajar Menulis
©Claire

Kenapa menulis harus dipelajari? Perkara ini, kan, sudah termasuk budaya, layaknya kemampuan bicara, makan-minum, juga bercinta, yang hanya perlu pembiasaan diri?

Ternyata tidak seenteng itu, Mamen.

Guru saya pernah memaparkan bukti-bukti arkeologis sebagai penegas bahwa menulis bukan kemampuan inheren manusia. Ibarat Ronaldo yang mustahil jadi pesepak bola terbaik dunia, jauh melampaui Messi, tanpa latihan terus-menerus. Bakat mesti diasah!

Di wilayah Sumeria, kisah sang guru, ditemukan naskah tertulis pertama (bukan teks Enhudanna yang oleh para penyair dan filsuf dicap sebagai teks tertulis paling tua) berupa angka-angka. Bentuknya semacam catatan akuntasi tentang tanah-tanah milik kerajaan; tentang jumlah total aset dan berapa biaya sewa masing-masing.

Tujuan pencatatan itu jelas, memastikan berapa pemasukan kas kerajaan setiap bulan atau tahun. Pencatatan juga bermaksud agar tidak terjadi “kebocoran” atau korupsi aparat kerajaan di semua tingkat.

Dari cerita itu kita tahu, tak melulu soal keabadian, tindakan menulis adalah kehendak menyampaikan maksud; makin jelas makin baik. Bayangkan jika pencatatannya amburadul, bagaimana raja bisa tahu semua hartanya secara jelas dan utuh? Bisa dipenggal kepala si pencatat itu.

Sebenarnya ada banyak alasan lagi kenapa menulis harus dipelajari. Tapi yang paling krusial memang adalah soal menghindari kesalahpahaman.

Berapa banyak kesalahpahaman yang muncul di ruang publik sehari-hari hanya karena bacaan-bacaan tidak jelas? Di media-media massa atau sosial, tak jarang kesalahpahaman justru berujung tragis. Padahal menulis, seperti umumnya tujuan komunikasi, adalah agar manusia bisa saling memahami.

Jika dengan lisan kita bisa meredam kesalahpahaman secepat menyampaikan kata-kata secara langsung, maka dalam tulisan tidak bisa semudah itu. Adagium “penulis telah mati” boleh jadi satu alasan.

Itulah kenapa kemampuan menulis sejelas-jelasnya begitu penting. Tuntutan kejelasan ini, kata guru saya lagi, lebih keras daripada dalam komunikasi lisan.

Baca juga:
Latest posts by Maman Suratman (see all)