Beranda Kenangan

Beranda Kenangan
©detik

Di Beranda Kenangan, semua persoalan dan trauma terdamaikan.

“Kalau kamu patah hati dan kecewa karena mencintai seseorang, ayah katakan padamu, jangan pernah berniat untuk bunuh diri ya Far!” demikian nasihat Pak Dus untuk Faris, putra kesayangannya.

“Tapi Faris mencintai perempuan itu ayah, dan Faris tidak rela melihatnya mencintai orang lain!” ujar Faris sedikit ngegas. Dia mempertahankan perasaan sayangnya dengan berdalih demikian.

“Kamu berhak mencintainya Far, tapi kamu juga harus ingat bahwa dia memiliki hak untuk mencintai siapa saja yang ingin dia cintai. Jangan pernah memaksa keadaan! Dan jangan pernah memaksa perasaan! Kamu bisa mencintai tanpa harus memiliki. Kamu bisa mencintainya kalau pun dia membenci kamu, karena cinta yang sejati tidak menuntut balasan.

Cinta yang sejati mengalir seperti air dan memberi kehidupan pada setiap makhluk. Kalau kamu memaksa dia mencintaimu ketika dia tidak sedang mencintaimu, itu adalah pelecehan akan makna cinta yang sesungguhnya sayang” tegas Pak Dus menenangkan putranya dengan nasihat bijak nan filosofis.

“Apakah ayah pernah mengalami perasaan jatuh cinta dan patah hati seperti yang Faris alami sekarang ini?” Faris balik bertanya.

Rasanya Faris tidak ingin lagi melanjutkan persoalan perasaanya sendiri. Sebagai remaja dan anak kandung Pak Dus, Faris tahu kalau papanya yang adalah seorang mantan dosen filsafat akan berretorika panjang jika dia membiarkan topik cinta ini dibahas terus. Faris mereka-reka ayahnya hanya mencintai satu perempuan saja, karena biasanya orang yang belajar filsafat itu setia.

Walaupun ayahnya belum menjadi guru besar, tapi Faris yakin ayahnya memiliki komitmen dalam hidup. Itu yang yang meyakini Faris bahwa ayahnya hanya pacaran dengan ibunya dan menikah hingga dirinya lahir dan diizinkan untuk bercerita dengannya lagi.

“Ayah pernah mencintai seribu perempuan Far, dan bahkan mungkin lebih dari itu, berlaksa-laksa, tapi ayah hanya menikahi satu perempuan, karena dari seribu hanya satu yang bisa dan boleh menjadi bundamu, hehehe…” kata Pak Dus bergurau sambil menepuk-nepuk dadanya.

Dia senang bisa menceritakan pengalamannya pada Faris putra semata wayangnya itu. Pak Dus bersyukur bisa mengenang kembali masa mudanya 30-an tahun silam. Dia ingin Faris bisa mengikuti caranya untuk mencintai, tanpa harus menuntut balasan.

Pak Dus juga masih sering berbagi cerita dengan mereka yang pernah ada dalam cerita perjalanan hidupnya. Dia bangga pada dirinya karena kebanyakan dari yang pernah dicintainya memiliki karier dan kehidupan yang baik. Pak Dus memiliki hasrat bahwa remaja seumuran

Faris idealnya berpacaran untuk saling mendukung dalam semua cita-cita, bukan hanya menghabiskan waktu untuk keluyuran tanpa tujuan, bukan hanya berakhir pekan di tempat wisata atau caffe.

Saking getolnya dalam urusan cinta remaja dan persoalan-persoalan sosial tentang kekerasan seksual, Pak Dus membentuk satu komunitas yang khusus mengkaji tentang persoalan tersebut. Kini komunitas yang diberi nama Beranda Kenangan itu berkembang dan memiliki banyak anggota. Kebanyakan yang masuk dalam komunitas itu adalah mereka yang pernah menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual dalam hidup.

Di Beranda Kenangan semua persoalan dan trauma mereka didamaikan. Kedamaian yang dialami, menjadikan mereka tentram dan menelurkan pribadi baru yang percaya diri dalam berkarier.

“Apakah Ayah pernah sakit hati karena wanita?” Faris bertanya setelah ayahnya terdiam cukup lama.

“Faris…Far…sini sayang” ibunya memanggil Faris dari dapur.

Panggilan Bu Densi memotong hangatnya topik pembicaraan Faris dan Pak Dus, seperti iklan-iklan dalam acara serial televisi yang harus memberikan jeda pada saat momen yang menyenangkan dan menegangkan harus ditonton. Heheheh…

Halaman selanjutnya >>>
Fransiskus Sardi
Latest posts by Fransiskus Sardi (see all)