Berbagi Pesan, Bukan Sekadar Larut Heboh dengan Kasus AI

Berbagi Pesan, Bukan Sekadar Larut Heboh dengan Kasus AI
Twitter Image

Saya mau berbagi pesan saja buat kita semua se-temlen raya. At least untuk pelajaran kita semua, bukan sekadar larut heboh dengan kasus AI di balik akun @kakduls (Kak Dul). Sebab di kasus itu sendiri sudah ada pihak yang bekerja: kepolisian.

Let’s start a thread!

Media sosial, termasuk Twitter Indonesia, adalah media untuk kita bersosialisasi. Entah berbagi ide, gagasan, sudut pandang, dan lain sebagainya sebagai makhluk sosial.

Toh ini era digital, dan media sosial adalah salah satu alat untuk kita menemukan sampai dengan berbagi berbagai hal baik. Jika yang dibagi adalah hal-hal baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada Anda. Begitu juga hal buruk, tak ada orang lain menanggung dosa Anda; tetap Anda sendiri.

Jangan pernah mengira media sosial bisa jadi benteng aman untuk setiap kejahatan.

Terlepas, misal, Anda menggunakan akun anonim, tak berarti lantas Anda sepenuhnya bisa suka-suka. Sebab, saat kita merasa terlalu cerdas, justru bikin kita alpa; di luar sana sangat banyak yang jauh lebih cerdas.

Silakan berdebat keras, sekeras-kerasnya, tapi jangan lupa rem. Sebab media sosial juga ibarat jalan raya; rawan tabrakan atau bahkan tergelincir, oleng, atau bahkan jatuh.

Jangan lupa, meskipun ada akun-akun robot, tapi jangan samakan semua akun sama dengan akun robot. Ada banyak orang, manusia, di balik akun-akun tersebut. Mereka punya perasaan; suka, benci, marah, jengkel, dan lain sebagainya.

Jika Anda tidak suka sesuatu, Anda merdeka meluapkannya. Bahkan boleh sepedas-pedasnya. Cuma, cukup kuat, tidak, jika hal terpedas itu harus Anda telan sendiri?

Media sosial memang butuh kesabaran, tak hanya menuntut orang untuk sabar dengan segala tingkah Anda. Anda sendiri harus cukup sabar dengan segala perbedaan di media sosial.

Tidak perlu petentengan. Sebab, saat kita merasa terlalu kuat pun, kita tidak tahu sejauh mana kekuatan orang yang baru Anda kenal di media sosial saja.

Hukum-hukum alam juga berlaku di media sosial. Saat Anda ingin menjatuhkan orang, bisa saja Anda sendiri yang jatuh.

Kasus AI

Sosok Kak Dul ini memang pernah bermasalah dengan saya. Padahal masalah riilnya adalah saya dengan Fahri Hamzah, tapi ia memaksa diri terlibat. Bahkan ia “memburu” saya, yang saya simpulkan: orang ini cuma mau cari muka di depan FH. Itu alasan saya tidak menggubrisnya.

Toh saya sendiri tidak punya masalah apa-apa dengan Kak Dul yang dulu berakun @dulatips.

Makanya, saat saya diancamnya dengan dalih “ajak ngopi” sambil pamer foto-foto preman yang ada di barisannya, tidak saya gubris. Kenapa? Sebab dari sana saya sudah mencium gelagat Kak Dul ini butuh pekerjaan.

Kenapa saya bisa cium gelagat itu? Ya, saat saya ada masalah dengan Fahri Hamzah, kok bisa-bisanya Kak Dul melibatkan diri? Orang punya pekerjaan tidak akan bertingkah seperti sosok berinisial AI alias Bang Ale ini.

Akhirnya memang terbukti, orang ini sedang butuh perhatian. Dengan perhatian banyak orang terhadap dirinya, ia berharap dapat pekerjaan.

Nah, buat siapa saja yang butuh pekerjaan, tunjukkan sisi positif yang bisa Anda berikan untuk orang lain. Bukan memamerkan keburukan apa yang sanggup Anda lakukan.

Saat Kak Dul dengan preman-premannya unjuk gigi dengan irama memburu saya, saya tetap ke mana-mana tanpa merasa terancam. Tidak saya polisikan meskipun aksinya itu sudah ada pasal yang mengaturnya.

Kenapa saat itu tidak saya polisikan? Saya tidak mau buang waktu untuk melayani perasaan takut, terancam, dan lain sebagainya.

Selain itu, toh, saat saya kritik Fahri Hamzah yang disalahpahami seolah menghina ibunya, hingga Kak Dul mulai sok-sokan, saya pribadi tidak punya maksud buruk. Sebab riilnya saat itu saya kritik FH, bukan ibunya.

Pun, terlepas beda garis politik dan pemahaman antara saya dengan Fahri Hamzah, tapi saya akui orang ini kuat menerima kritik sekuat ia menghamburkan kritikannya.

Juga saya masih ber-husnudzon, tidak mungkin Fahri Hamzah mengirim orang butuh pekerjaan seperti Kak Dul ini untuk tujuan-tujuan buruk. Jadi saya simpulkan, AI alias Bang Ale ini memang cuma sedang cari muka pada FH saja. Bisa jadi agar juga dapat pekerjaan, setidaknya dari sesama fans FH.

Upaya Membantu

Ada yang dilupakan oleh AI alias Kak Dul ini. Bahwa ia sendiri punya banyak musuh di kehidupan nyatanya. Di dunia maya pun ia getol mencari musuh. Bagaimana ia bisa dapatkan pekerjaan dengan cara ini?

Maka itu, apa yang terjadi adalah ia cuma bisa menyasar orang yang bisa ia bikin percaya terhadap dirinya. Ia yakin, jika sudah mampu dipengaruhinya, orang akan memberinya pekerjaan tanpa peduli track record-nya. Di sinilah cerita penipuannya dimulai, satu demi satu, dan seterusnya.

Ia juga terkecoh, merasa saat ada yang tak menggubris tingkahnya berarti orang tersebut kalah cerdas dan kalah kuat dibandingkan dirinya.

Di media sosial, tampil biasa-biasa saja, tanpa perlu berlebihan, tetap lebih baik. Terlepas kita punya ketidaksukaan, perbedaan, dan lain sebagainya, silakan bersuara, tapi jangan bersuara dengan maksud buruk.

Lalu kenapa saya ikut andil dalam kasus Kak Dul ini? Karena melihat inilah cara terbaik untuk membantu kedua belah pihak.

Berarap AI alias Kak Dul lebih rendah hati, tidak mengumbar kebencian, juga tidak menjadikan media sosial untuk menipu. Untuk dia ingat, di sana ada anak-anaknya yang masih kecil-kecil butuh ayahnya. Ada istrinya yang juga butuh suami bisa jadi pemimpin yang baik di keluarganya.

Tapi, kan, tidak mungkin saya mengguruinya? Sebab bisa jadi ilmu Kak Dul ini jauh di atas saya.

Zulfikar Akbar