Berbicaralah tentang Libido; Jika Hanya Ideologi Kiri, Kapan Puasnya?

Berbicaralah tentang Libido; Jika Hanya Ideologi Kiri, Kapan Puasnya?
©Republika

Baiklah! Kita hidup di negara pancasila. Ada orang atau pihak yang membentangkan spanduk PKI bergambar Jenderal Andika. Spanduk lain berbunyi: ‘Pecat P5 PKI’.

Sudah tentu peristiwa itu imbas dari pernyataan tentang ketidakhadiran rujukan hukum yang melarang keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang mendaftar sebagai calon anggota militer.

Bukan main, isu partai politik atau ideologi terlarang muncul di negeri ini, akhirnya menuai reaksi dan sorotan dari sejumlah pihak. Seperti laris pahit rasanya ketika kembali diperbincangkan hingga diloloskan menjadi peraturan atau persyaratan dalam proses penerimaan calon prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Maklumlah! Sebelum dan setelah kelahiran Indonesia, pertumpahan darah yang didalangi oleh PKI menandai peristiwa kelam nan tragis. Inilah yang diistilahkan sebagai trauma sejarah.

Dalam perspektif Deleuzian, aliran libido datang dari hasrat sebagai pengetahuan sekaligus kebenaran. Ideologi kerap sulit dipertemukan dengan diskursus ilmiah. Tetapi, penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa “dirasuki” dan dimanfaatkan oleh ideologi.

Mengambil contoh yang lebih ringan dicerna, yaitu teori fisika atom dan persenjataan nuklir, yang masih membayang-bayangi masa depan umat manusia. Jenis ideologi apa yang berinteraksi dengan ilmu pengetahuan?

Parfum menjadi bukti lebih dekat dengan kita. Suatu produk yang dikemas dalam relasi antara ekonomi-zat kimia dan ideologi, yang digunakan orang untuk mengonsumsinya melebihi ilusi dan mimpi sebagai dunia nyata.

Teori ilmiah dan teknik penerapan masih digambarkan sebagai turunan dari ideologi dunia: kapitalisme dan sosialisme-komunis mengalami ‘penyatuan’. Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan persemakmuran telah dikenal orang sebagai negara-negara yang berideologi kapitalisme.

Baca juga:

Cina sekalipun dalam kepentingan ekonominya menjurus pada pasar bebas; ia tetap berideologi sosialisme-komunis. Demikian pula Korea Utara dan Kuba yang menganut ideologi sosialisme-komunis masih membicarakan dunia kapitalis dengan segala krisis dan sisi kelemahan lain.

Lalu, Indonesia di era media sosial dan internet masih berputar-putar di sekitar stigmatisasi dan identifikasi gembong dan pelaku lain yang diduga hingga terlibat dalam PKI.

Mengapa orang-orang dan pihak berwewenang belum berupaya semaksimal mungkin untuk menggunakan metode ‘verifikasi’ dan ‘falsifikasi’ terhadap penampilan mereka yang disangka sebagai keturunan PKI? Inilah perlunya ketelitian sistem pemikiran mengenai orang-orang yang disangka menganut ideologi terlarang.

Jadi, bukan permasalahan ideologi “kiri” atau “kanan” yang harus diwaspadai, melainkan kecerobohan metodologis, prasangka, dan permainan untuk melindungi kepentingan bercokol.

Tergesa-gesa menetapkan orang-orang yang diduga keturunan PKI justru sebagai bentuk penolakan atas kebenaran ilmiah atau setidak-tidaknya enggan menggunakan prosedur dan metode ilmiah. Bukankah negara memiliki lembaga riset?

Pertanyaan akan muncul. Apakah hubungan logis antara orang tua atau kakeknya dan anak keturunannya yang hidup berlainan zaman? Adakah gejala dan fenomena umum berlaku, jika orang tuanya PKI, maka otomatis secara genetika dan ide akan menurun ke anak cucunya dalam keseharian?

Sejauh manakah pengamatan dan kesimpulan logis terhadap orang-orang yang berpikir atau bercita-cita komunisme, padahal mereka bukanlah keturunan PKI? Singkat dan sederhana saja pertanyaan yang diajukan di sini.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi