Bercinta Tak Sekadar Bersetubuh

Bercinta Tak Sekadar Bersetubuh
Foto: Pixabay

Bercinta biasa berakhir dengan tawa. Sementara sekadar bersetubuh biasa berakhir datar saja.

Ada kata “cinta” dalam “bercinta”. Di sinilah sakralnya ia adanya.

Cinta itu rasa, namun tak pernah mau terkubur hanya di ruang perasaan.

Bercinta bukan meluapkan nafsu. Justru di sanalah dua manusia mengalirkan cinta. Sekadar nafsu, tanpa cinta, tidak akan ada sesuatu yang lebih di sana.

Tidak ada yang memaksa atau dipaksa. Itulah kenapa disebut bercinta, karena di sana ada kerelaan bersama. Bukan untuk satu orang, melainkan kedua orang. Maka cinta juga adalah cerita tentang keseimbangan.

Dari bercinta itu ada pelajaran kesetaraan. Tak ada cerita yang satu merasa lebih berhak daripada lainnya. Jika sudah merasa satu pihak di atas pihak lainnya, itu hanyalah penjajahan yang dibungkus cinta saja.

Ingat, kelamin itu berada di bawah. Maka dalam bercinta, hanya demi kelamin semata, sama saja merendahkan cinta.

Kenapa seorang pemerkosa bisa dipandang hina? Sebab mereka hanya meletakkan kelamin yang adanya di bawah justru ke atas, ke tempat yang tak semestinya. Makanya, dalam bercinta, sebenarnya tidak ada pemaksaan di sana.

Seorang kekasih pun bisa disebut sebagai pemerkosa jika memaksa pemuasan kelamin tanpa kerelaan pasangannya. Sayang sekali, dalam rumah tangga pun banyak istri acap merasa diperkosa karena suami merasa berhak penuh atas dirinya.

Saling Memuaskan

Urusan bercinta memang bukan soal menunggu sampai anak-anak tidur. Namun bagaimana melenyapkan kekanak-kanakan dalam melihat ritual bernama bercinta.

Bercinta biasa berakhir dengan tawa. Sementara sekadar bersetubuh biasa berakhir datar saja. Tahu kenapa?

Sebab bercinta benar-benar urusan bagaimana menggembirakan, menyenangkan, menghargai. Tawa setelah bercinta adalah ekspresi lega. Karena di sana seseorang tidak cuma dipuaskan, tetapi juga dibuat gembira, senang, dan dihargai.

Kenapa sekadar bersetubuh cenderung berakhir datar saja? Sebab di sana hanya ada cerita kepuasan satu pihak saja dan menafikan pihak lainnya. Satu pihak puas, pihak lainnya cuma lemas. Satu pihak senang, pihak lainnya mengambang.

(Baca lanjutannya di sini: Bercinta dengan Benar)

Zulfikar Akbar