Bersatirkan Rindu

Bersatirkan Rindu
©Kompasiana

Di sini aku hanya melihat pusaran waktu
Dengan selembar puisi baru
Yang ingin kubisikkan di telingamu
Mesti entah kapan pastinya itu
Menggenggam tanganmu

Kupegang erat agar kau tahu
Ku selalu ingin denganmu
Tetap kutunggu jawabanmu
Dalam pusaran waktu
Sebagai bintang yang ingin kulihat dalam tema kisahku

Puisi di Hati

Ada seribu puisi di hati
Berisi tentang suasana hati
Ada seribu puisi dibaca
Lewat kata indah penyairnya

Ada seribu puisi dicampakkan
Oleh si buta dan tuli peradaban
Namun ada satu puisi terpatri di hati
Tentang cahaya-cahaya ilahi

Namaku Senja dan Kopi

Hantaran waktu membawaku ke uzur usia
Di mana harapan dan mimpi seakan sirna
Terbatas di pertigaan mentari jingga
Lembayung senja namanya
Di penghujung akhir kehidupan ini

Aku berusaha untuk lari
Mengejar apa yang terringgal di dunia
Senja telah menghampiri
Aku surati engkau sepucuk puisi
Yang menyuratkan bahwa aku adalah mimpi

Mimpi yang tertinggal dahulu
Di saat waktu menyatakan ini
Ya itulah..!!
Senja namaku
Hitam pekat pada secangkir yang manis

Aroma khasnya menghidupkan hati
Kopi nama si dia yang rela berkorban
Kepada setiap penikmat yang ingin bercinta dengannya
Memang bukan perkara mudah
Untuk aku lakukan
Tapi bagiku intinya rasa manis dan pahit bisa orang rasakan

Baca juga:

Gemercik Rindu

Bersama air terjun itu mengalir jutaan kenang
Deras mendesir lintasi kepala
Hingga jatuh bermuara di dalam rasa
Beberapa timbulkan pilu saat beradu batu kembalikan pahit yang lama dikubur dalam-dalam
Tapi lebih banyak datangkan sejuk bersama tempias
Undang senyum kala manis direkam ulang memori

Kini aku hanya terduduk di permukaan
Saksikan bulir yang turun bebas tiada henti
Menuju genang yang terbentang di bawahnya
Mengalir menyusuri arus waktu
Sampai jauh menuju rimbun lampau

Hujan

Gelap baru saja merentangkan tangan
Saat mata kita beradu di sebuah persimpangan
Tak peduli mendung menggantung
Kita berdua mematung
Searah garis gerimis

Sebaris senyum menguar magis
Titik-titik air membesar
Hujan di bulan Februari menderas
Air luruh
Hati kian jatuh

Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)