Bersikap Adil terhadap Habib Kribo

Bersikap Adil terhadap Habib Kribo
©assegafzen/IG

Nalar Warga – Boom! Habib Kribo menggebrak media sosial. Kemasan visualnya biasa-biasa saja. Narasinya pun kadang hanya kalimat-kalimat yang berulang-ulang.

Tapi gaya ceplas-ceplos dan pernyataan vulgar tanpa sensor itu justru menjadi magnet melejitkan nama dan channel-nya, terutama bagi warganet yang sepemikiran. Begitulah rezim algoritma.

Karena mengandalkan spontanitas dan autensitas, tentu terlihat tidak santun tidak rapi. Sebagian yang menentang para habib penggerak umat intoleran dan sepemikiran dengannya menyesalkan blunder yang kerap terlontar dari mulutnya.

Ada pula yang menganggap kehadiran Habib Kribo di media sosial kontraproduktif karena para penentangnya terutama kalangan radikalis, mencoba menghentikan laju popularitasnya dengan mengaitkan HK dengan Syiah yang terus mereka gempur dengan stigma sesat bahkan kafir yang bisa menyulitkan komunitas penganutnya.

Namun, anggapan itu rapuh. Tanpa Habib Kribo pun, para pemimpi khilafah juga pembidah maulid akan tetap membenci Syiah. Hampir semua tokoh toleran mereka lempari stigma Syiah agar orang menganggapnya sesat lalu terkucilkan.

Blunder Habib Kribo yang paling fatal adalah pernyataan soal eksistensi keturunan Yaman sebagai penumpang di sini (plus ejekan pulang saja ke kampung halaman yang tandus, miskin, dan primitif itu). Ini justru bertentangan dengan esensi kebangsaan yang merupakan produk konsensus dari Sumpah Pemuda.

Pernyataan absurd itu, selain memberi pupuk segar falasi rasisme, melibas dirinya sebagai bagian nyata dari subjek. Mestinya reaksi terhadap perilaku buruk sejumlah oknum habib ia isi dengan narasi kebinekaan dan kesetaraan.

Terlepas dari blundernya, Habib Kribo mengingatkan kita bahwa sebagian kesantunan dan kerapian diksi hanyalah pencitraan dan kepalsuan hasil setting-an.

Baca juga:

Habib Kribo me-refresh memori kita kepada salah satu mantan gubernur DKI yang lugas dan ceplas-ceplos. Kebetulan keduanya dari etnis minoritas. Bedanya, HK bukan politikus, bukan pejabat, bukan akademisi, dan bukan agamawan. Dia secara sosial bukan siapa-siapa. Karena bukan siapa-siapa, dia “berhak” tidak rapi.

Mengutip komentar salah seorang dosen, Habib Kribo penting untuk melawan glorifikasi dua nama selainnya pasca proses hukum mereka, untuk meyakinkan awam dengan “bahasa Indonesia” bahwa yang sedang dipenjara bukan Nelson Mandela.

Meski cara dan diksinya mengakibatkan beberapa blunder, Habib Kribo tetaplah protagonis. Menyejajarkannya dengan para “pengamen” agama di panggung umat tidaklah adil.

Semoga dia belajar dari blunder, menerima kritik konstruktif dan terus menyempurnakan konten-kontennya dengan memperbanyak kosakata, menghindari generalisasi terutama tentang bangsa, suku, etni,  dan kelompok, serta tidak keluar dari tema intoleransi dan kapitalisasi agama.

*DR Muhsin Labib

Baca juga:
    Warganet