Berziarah ke Makam Wali Tosora, Kakek Para Wali Nusantara

Berziarah ke Makam Wali Tosora, Kakek Para Wali Nusantara
©Dok. Pribadi

Selasa kemarin, kami pergi menziarahi makam Syeh Jamaluddin Akbar Al Husain yang terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan. Kami berangkat dari Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Kami menyewa kendaraan pribadi dengan menempuh perjalanan sekitar kurang lebih lima jam. Walaupun sebelumnya kami sudah pernah ke sana di tahun 2018 dengan menyewa kendaraan pribadi juga, tapi dengan sopir (orang) yang berbeda.

Kami berangkat sekitar jam sembilan pagi dengan mengandalkan Google Maps (GM) dan sopir yang katanya sudah berpengalaman ke Sengkang sebelumnya. Namun, ia mengaku belum mengenal daerah Tosora ini.

Tetapi, mbak di GM hampir saja mencelakakan kami. Kami hampir berbelok kearah jalan buntu yang dipenuhi pohon-pohon. Ingatan kami ketika melakukan perjalanan ke sana pertama kali sekitar empat tahun sudah terlupakan. Kami sama sekali tidak bisa mengandalkannya.

Untungnya kami bertanya kepada masyarakat jalan ke arah Desa Tosora atau Kecamatan Majauleng. Beberapa orang yang masih terlihat muda tampak tidak mengetahui keberadaaan makam wali besar tersebut ataupun masjid tua yang berada di sana. Namun, ada ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung bahan campuran memberikan petunjuk jalan menuju ke arah sana.

Sopir yang membawa kami ketika kami melewati Kecamatan Majauleng menuju Tosora tiba-tiba mengingat sesuatu jika ia sering melewati daerah ini untuk mengantar orang berobat kepada orang pintar (dukun) yang dekat dengan daerah Tosora. Namun ia tidak tahu jika ada tempat berziarah makam wali di dalam.

Petta Tosora, Al Fatihah

Alhamdulillah, kami tiba sekitar jam empat sore sebelum salat Azar. Perjalanan ini mungkin agak kelamaan karena sebelumnya kami singgah salat Zuhur dan makan siang di salah satu masjid di daerah Waituo, Sengkang.

Rasanya tidak percaya, kami tiba lagi di makam beliau. Perjalanan panjang yang melewati empat kabupaten, yaitu Polewali Mandar itu sendiri, Pinrang, Sidrap, dan Wajo. Apalagi di sekitar daerah perbatasan Pinrang dan Sidrap banyak jalan yang rusak sepanjang kurang lebih dua kilometer.

Baca juga:

Penampilan masuk di pintu gerbang juga berbeda. Dulu biasanya kami lewat samping makam melewati rumah peziarah. Kini kami bisa masuk dari pintu depan lokasi makam.

Lagi pula di depan juga sudah dicat berwarna hijau, dulu warna alami batu-batu masjid yang berwarna hitam dan putih. Perubahan ini terjadi karena rupanya tempat ini sudah menjadi situs yang dikelola oleh pemerintah karena di sana ada prasasti yang bertuliskan huruf Arab, bismilahhirrahmanirrahim.

Lalu tulisan, Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Peresmian Penyelamatan struktur cagar budaya masjid tua Tosora Kec. Majauleng. Kab. Wajo. Diresmikan pada 8 Januari 2022 yang ditandatangani oleh Panglima Kodam XVI/Hasanuddin Mochammad Syafei Kasno, SH. Mayor Jenderal TNI. Bupati Wajo Dr. H. Amran Mahmud, S. Sos M. Si.

Kemudian ada juga bangunan kaca yang berisi buku-buku yang bertema tentang Sulawesi Selatan termasuk buku biografi Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husain, datuk para wali & sultan di Nusantara dan sekitarnya, buku tentang Manusia Bugis, Kajian Ali Haji Kitab Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, dan lain sebagainya.

Seorang pria yang sejak tadi duduk di sekitar parkiran makam membukakan kami pintu agar kami masuk. Kemudian Pak Alan si juru pelihara (jupel) atau juru kunci (kuncen) makam datang sambil membawa air untuk menyiram makam dan menggelar karpet untuk kami.

Kami kemudian membaca surah Yasin dan mengirimkan fatihah untuk beliau. Ketika ia mengajak kami untuk salat Azar di mihrab masjid, aku mengikuti sarannya walau sudah menjamak salat di waktu Zuhur tadi karena musafir, aku tetap menyempatkan untuk salat sunat di dalam mihrab. Pengalaman kakak kami di awal kami datang, kakak merasa ada orang lain (baca: makhluk lain) yang ikut salat berjemaah dengannya.

Ketika aku selesai salat sunat dua rakaat, air mata tiba-tiba mengalir, aku merasakan perasaan yang sangat sedih. Ya Allah, ada apa denganku?

Di beberapa makam, kubur, dan atau petilasan yang kuziarahi terkadang aku menangis, terkadang juga sangat biasa, biasa saja. Pengalaman merasa sedih di makam kualami juga ketika menziarahi makam presiden pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno, mungkin juga karena bangga pernah memiliki presiden seperti beliau, dan makam leluhur kami, kakek kami guru tasawuf, KH. Sulaeni Pua Rumaedah di Pambusuang, Polewali Mandar. Dan kini di mihrab masjid tua Tosora, kakek para wali.

Baca juga:

Di sini, di lokasi masjid tua sudah dihamparkan tikar, di mana sebelumnya kami menginjak batu-batu tua yang ada di sekitar masjid. Kemudian, ada lukisan wali Tosora yang sangat tampan,\ dan suci. Kami pun berfoto-foto sebelum pulang.

Kami juga menanyakan tentang buku biografi Syeh Jamaluddin yang ada di diorama. Pak Alan mengatakan jika ia juga memiliki satu sebagai koleksi tapi ia akan memberikannya pada kami.

Alhamdulillah. Terima kasih, Pak Alan. Aku berjanji dalam hati untuk kembali lagi berziarah ke makam Petta Tosora, begitu masyarakat setempat menyebutnya.

Perjalanan kami lanjutkan ke kota Sengkang. Kami ingin berziarah ke makam KH. As’ad seorang pendiri pesantern Assadiyah Sengkang. Namun, kami belum menemukan makam beliau.

Padahal ketika kami pertama kali ke sana, kami sempat mencari lokasi makam beliau dibantu oleh penduduk setempat dan menemukan makam beliau di atas bukit-bukit. Insyallah di lain waktu, semoga ada kesempatan, rezeki, kami akan ke Kabupaten Wajo lagi untuk melihat danau Tempe lebih dekat dan berziarah ke makam wali Tosora terutama, dan makam KH. As’ad sahabat kakek kami Imam Lapeo.

    Zuhriah