Bianglala

Bianglala
Ilustrasi: IST

Malam menggantung pucat di puncak pekat. Begitu kecil begitu sipit cahaya tercurah dari arah bulan sabit, menyirami jalan setapak menuju pondok, sedikit-sedikit. Dari arah selatan, kesiur angin laut menampar wajah seorang remaja perempuan, mencubit-cubit kulitnya hingga merekahkan gigil.

Hendak ia percepat langkahnya saat melewati samping kiri tanah kebun luas yang ditanami rimbun pohon singkong Sumatera. Daun singkong kecil-kecil sesaat melambai dikecup angin, terlihat seperti bayangan tak bernama bergoyang-goyang di matanya. Ingatannya tiba-tiba ngilu. Tak ada lampu penerangan menuntunnya kecuali seonggok bulan sabit.

Di kesunyian dusun yang harus menempuh 35 km untuk sampai ke kota kecamatan, seorang remaja perempuan bergegas percepat langkahnya. Seorang diri menyusuri kelokan jalan setapak tak beraspal di bawah bukit. Ia mendekap sebuah tas tak jelas warnanya. Sesekali kerudungnya berkibar-kibar dicandai angin dari tubuhnya yang setengah berlari ringan.

Sebuah pondok dengan penerangan lampu minyak mulai redup di ujung dusun menjadi tujuan sang remaja perempuan itu. Ia pelankan gerak tubuhnya begitu memasuki pekarangan tanah di depan pondok. Dengan kaki bersijingkat, hati-hati ia ketuk pelan pintu rumah. Lalu beruluk salam. Sesosok kepala berkerudung sulaman bunga warna kuning menyembul dari balik daun pintu setengah terbuka, menjawab salam, dan mengulurkan tangan. Sang tamu mencium punggung tangan itu lantas mengikuti langkah tuan rumah.

“Jadi kamu sudah bulat tekad, Nduk?” Nyai Sarah bertanya setelah sebelumnya didahului basa-basi sebentar, sembari mengangsurkan secangkir kopi ke hadapan tamunya.

“Insyaallah, Lala sudah nawaitu, Nyai,” dijawabnya pendek berikut senyuman kecil.

“Apa orangtuamu sudah setuju?”

“Bapak mengizinkan, sedang Ibu tidak. Tapi saya tetap kekeuh dengan niat saya ini, Nyai.” Sedikit gugup, Lala menyeruput kopi dalam genggaman tangan kanannya.

Di bawah sinar lampu temaram, dua orang perempuan beda usia duduk bersimpuh memilih jeda pembicaraan. Di luar, angin bertiup makin kencang. Ini musim kering, saban malam hari angin tak henti-hentinya menghentak-hentakkan dingin.

Suara ranting pohon jeruk Bali di sisi kiri depan beranda pondok terdengar patah dan jatuh ke tanah. Tak ada percakapan panjang setelah itu. Sunyi. Jeda pembicaraan mengantar pikiran masing-masing. Sejurus kemudian Nyai Sarah mempersilakan Lala masuk untuk beristirahat di kamar.

Di belakang rumah utama tampak beberapa bilik kecil berbentuk rumah panggung kayu dengan fondasi sekotak batu limasan. Bangunan pondok pesantren salaf milik Nyai Sarah. Masing-masing terdiri dari empat buah batu sebesar helm pengendara motor dewasa untuk menyangga sepetak bilik yang dihuni kurang dari enam orang santri putri.

Nyai Sarah memang hanya memiliki santri mukim, kurang dari dua puluh saja jumlahnya. Semuanya perempuan. Barangkali lantaran suara angin begitu kencang di luar, aktivitas mendaras Al-Quran yang sudah menjadi tradisi di dalam bilik masing-masing itu menjadi tak terdengar. Lala berusaha menajamkan pendengaran demi memastikan ada tidaknya suara-suara dari seberang luar kamar yang ia tempati sekarang, namun tak berhasil ia dengar sesuara selain hempasan angin berkali-kali.

Matanya tak henti-henti berkedip cepat. Gerakan tangan beserta tubuhnya pun mulai tak stabil. Ada kecemasan yang menyala di sudut keningnya.

Lihat juga: Sebelum Malam Terulang Kembali

Bianglala, nama lengkap gadis itu. Seorang gadis remaja yang tengah risau. Simpangan jalan hidup hendak ditempuhnya. Ia menamatkan SMA-nya di perantauan.

Di kota sejuta cerita para pelajar itu, ia mengenyam pendidikan cukup mapan dan tinggal di sebuah asrama modern. Tak ada yang luar biasa dari kisahnya sebagai pelajar. Belajar rajin, meraih prestasi yang stabil, dan menggondol selembar ijasah kelulusan dengan hasil sangat memuaskan. Modal yang lebih dari cukup untuk menapak jenjang selanjutnya.

Suara pintu kamar diketuk mengagetkan dirinya. Nyai Sarah masuk pelan menyodorkan selimut tebal. “Tidurlah, sebelum Subuh nanti kau harus sudah bangun. Amalan pertama akan kau lakukan nanti,” suara datar Nyai Sarah diikuti anggukan kepala Lala. Gadis itu mematung sesaat setelah pemilik rumah keluar kamar dan menutup pintu dengan tersenyum.

Lala rebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Nyala pelita di atas meja ujung kamar meredup, bergoyang-goyang memantulkan bayangan kelambu di dinding. Ia teringat perdebatan sengit dengan ibunya sebelum ia berangkat menuju pondok ini.

“Ibu tidak izinkan kamu ke sana. Kamu harus lanjut kuliah,” terngiang suara ibunya berapi-api.

“Tidak, Bu. Ini sudah keputusan Lala. Lala ingin berkonsentrasi mendalami agama. Mendalami suluk. Tarekat. Hanya di pondok Nyai Sarah tempat yang pas untuk Lala,” santun Lala mencoba menjawab.

“Sebaiknya biarkan saja Lala memilih, Bu. Toh itu juga belajar namanya. Belajar kan tidak harus di perguruan tinggi. Sudah bagus anak kita berniat mendalami agama,” Bapak menimpali.

“Bu, Lala tetap akan ke sana. Ini terasa seperti panggilan jiwa. Susah sekali Lala mengelaknya. Yakinlah, Ibu, keputusan ini akan membuat hati Lala tenang. Aduhai, Ibu, restuilah.”

“Tidak! Pokoknya Ibu tidak setuju!” suara ibunya meninggi. Bapaknya terdiam. Tak berdaya menengahi. Dua perempuan terkasihnya sama-sama keras kepala.

Lala menegarkan diri. Tidak menangis. Ia mencoba memahami. Harapan ibunya agar ia menyandang gelar sarjana begitu tinggi. Apalagi ia merupakan anak semata wayang. Namun ia tidak berminat sama sekali. Atau mungkin hanya belum.

Semua ini tidak terjadi secara kebetulan. Pertengahan tahun sebelum ia selesaikan sekolah menengah atas, Lala merasakan sesuatu tengah melanda dirinya. Di dalam batinnya. Tak tahu bagaimana ia katakan istilahnya. Lala hanya merasakan hatinya sejuk, hilang semua murung, dan merasa intim akan kehadiran Tuhan dalam dirinya secara tiba-tiba.

Gadis itu merasa seakan ada pusaran gaib di dalam jiwanya yang membuatnya tenang, indah, dan bahagia. Ia tergugu dan menangis berhari-hari. Ia merasa sendiri. Merasa hanya ia yang mengalami. Tanpa menemu jawaban dari sekian tanya, Lala kelimpungan sendiri. Hingga suatu hari ia ceritakan kepada guru ngajinya.

“Sepertinya kamu tengah mengalami ekstase dalam perjalanan imanmu. Jika kamu kuat menghadapinya, kamu tak boleh berhenti di sini saja. Kamu harus mencari jalan ke sana”

“Maksud Ibu jalan apa? Bagaimana?”

“Jalan tarekat. Tapi tidak mudah. Butuh teguh dan niat yang kuat. Tapi ibu yakin kamu mampu, La.”

Lihat juga: Dialektika Pagi Buta

Sejak itu, Lala kerap menemui Nyai Sarah sebagaimana arahan sang guru. Nyai Sarah, sosok perempuan paruh baya nan sederhana itu telah memikat hati Lala sejak kali pertama bertemu. Tutur kata sopan dan lembut mengajak dirinya hanyut.

Bianglala penasaran, mengapa perempuan sehebat Nyai Sarah yang baginya memiliki magnet spiritual luar biasa itu bisa jauh dari penglihatan orang-orang? Mengapa di lereng bukit terpencil sebuah dusun tak jauh dari sebuah teluk kecil pinggir laut, berikut keelokan pantai yang belum terjamah nalar kapitalis perancang destinasi wisata, ia musti bertempat tinggal?

Sungguh, sebuah tempat yang jauh sekali dari hiruk-pikuk manusia pemburu modernitas. Bahkan, listrik pun tak ada. Sungguh, Lala merasakan ia berada di tempat yang nyaris tak pernah terjangkau oleh otaknya selama ini, yang kelewat lama menyatu dengan dunia kota.

Kehadirannya di tempat ini pun tak mudah, lantaran akses transportasi yang tidak memadai. Lala harus menghitung dan memastikan dengan cermat berapa waktu dan seberapa aman perjalanan mesti ia tempuh. Sebuah perjalanan travelling yang tidak biasa. Dan ia tempuh seorang diri.

“Saya tidak mengerti apa yang tengah terjadi pada diri saya, Nyai. Hati saya kebat-kebit, bingung. Inginnya nangis terus, tapi tidak tahu mengapa dan untuk apa saya nangis. Pengennya menyendiri saja. Nggak ingin pergi main sama teman-teman,” kisah Lala waktu pertama bertamu ke Nyai Sarah.

Yang duduk di depan Lala hanya melempar senyum bijak. Gadis remaja yang pemberani, pikirnya. Tanpa sungkan bercerita tentang pribadi kepada orang yang baru dikenalnya.

Nyai Sarah menatap lekat ke wajah gadis itu. Menyapu ke seluruh bagian paras cantiknya. Seakan-akan ada yang hendak ia pastikan dari pemandangan di depannya. Ia mengenali beberapa garis yang tergurat dari gadis itu.

Nyai Sarah bahagia ketika pada detik-detik tertentu mereka bersitatap, ia rasakan ada kesamaan yang juga ia miliki dari penampakan ayu di depannya. Perempuan itu seolah melihat lipatan dirinya ada di dalam diri seorang Lala.

“Itu namanya takdir orang hidup, Nduk. Garis jalan hidup yang mesti dilalui. Dulu Ibu juga pernah mengalami sepertimu. Hanya saja Ibu membiarkannya dan segera lupa”

“Trus saya mesti gimana, Nyai?”

“Jalani saja. Ketahuilah bahwa kamu mendapatkan cahaya petunjuk dari Tuhan. Hati kamu bersih, Nduk. Maka cahaya itu mudah merasuk ke dalam dirimu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjaganya agar jangan sampai hilang. Dekatkanlah senantiasa dirimu kepada-Nya. Ingatlah Tuhan di setiap detik napasmu.”

“Rasanya Lala sudah melakukan itu semua, Nyai. Tapi mengapa hati Lala masih rusuh begini?”

“Butuh waktu. Butuh berdamai dengan dirimu sendiri. Kamu masih teramat muda. Jangan menyerah untuk belajar dan mencari tahu. Begitu juga dengan caramu mendekatkan diri kepada Tuhan. Lakukanlah sembahyang lebih khusyu’ dari yang sudah-sudah. Dini hari, pada saat sepertiga malam, gunakan untuk sembahyang. Berdialoglah dengan dirimu sendiri, hakikatnya kamu sedang berdialog dengan Tuhan”

Lihat juga: Rindu

Percakapan demi percakapan mengalir biasa antara Lala dan Nyai Sarah. Tampaknya perempuan paruh baya pemilik pesantren itu memahami gejolak muda Bianglala. Segala pertanyaan diterimanya dengan suka hati. Terkadang dijawab, terkadang hanya cukup mengulum senyum.

Gadis itu kian bertambah penasaran. Baru kali ini ia bersinggungan dengan ‘guru spiritual’ secara lebih intens. Namun, ia sejatinya tak paham mengapa ia berguru ke sana. Berguru kepada Nyai Sarah. Bukan kepada Kiai atau guru laki-laki yang lain.

Bianglala diam-diam takjub sendiri. “Mungkin ini yang namanya diperjalankan Tuhan. Mungkin Nabi Muhammad dulu juga mengalami peristiwa batin sepertiku ini,” gumam Lala.

Gadis itu membayangkan Nabi ketika berada di Gua Hira. “Pastinya menggigil sepertiku. Pasti Nabi mengalami kebingungan sepertiku, atau bahkan lebih hebat dariku, meski aku merasa hampir gila”.

Kali ini ia teringat Bu Santi, guru ngajinya di sekolah. Sebenarnya tidak begitu berbeda dengan Nyai Sarah, hanya saja ia seorang guru yang mengajar di sekolah formal dan tidak memiliki pesantren maupun santri. Dari guru di sekolahnya itu Lala menimba ilmu pengetahuan tentang agama.

Sesuatu yang membuatnya adem dan betah adalah Bu Santi sangat ramah. Mengajarinya, juga murid-murid lain di sekolahnya dengan ajaran dan ujaran yang menurutnya menentramkan. Tidak pernah sedikit pun menyulutkan kebencian terhadap orang atau kelompok lain. Selalu mengajarkan menghormati sesama dan tidak merasa benar sendiri. Lala selalu kagum dengan sikap-sikap seperti itu. Bukankah agama semestinya memang mengajarkan hal demikian?

Dari Bu Santi pula Lala beroleh penjelasan utuh bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara. Termasuk juga di dunia sufi, laki-laki dan perempuan bermartabat sama. Hanya derajat amal kebaikan yang membedakan. Tak hanya pada saat pelajaran di sekolah yang membuat Lala kian memahami hebatnya Bu Santi. Di luar kelas, pun.

Alkisah, kepiawaian Lala yang fasih dan merdu melantunkan ayat-ayat suci dalam perlombaan qiro’ah mengantarkannya pada juara satu di sekolah dan berhak mewakili maju ke tingkat selanjutnya, bersaing dengan sekolah lain. Namun, secara sepihak sekolah menggugurkan kesepakatan itu dengan alasan yang tidak begitu jelas.

Konon, usut punya usut, sekolah menunjuk sang juara dua, seorang murid laki-laki untuk maju mewakili sekolah. Alasannya, Lala seorang perempuan. Suara Lala adalah aurat, tak boleh dipertontonkan di depan umum.

Lala marah bukan main kala itu, lalu apa gunanya menggelar kompetisi di sekolah jika hanya akan berakhir seperti itu? Lala mengadu ke Bu Santi. Keduanya lalu bersama memprotes keputusan pihak sekolah, lalu digelarlah sebuah rapat tertutup.

Kendati mereka berdua kalah suara, namun Lala jadi kian paham bahwa ia berada di pihak yang benar sementara dunia tidak adil kepadanya. Hal itu ia ketahui dari argumen-argumen yang meluncur dari mulut Bu Santi. Luar biasa, batin Lala.

Lala kerap dibuat kagum dengan kisah-kisah yang meluncur dari mulut Bu Santi. Terutama kisah tentang perempuan-perempuan hebat pada zaman dahulu.

Tak disadarinya, kadang ia terobsesi meniru mereka. Gejolak remajanya mudah meluap-luap, tatkala kisah Aisyah istri Nabi yang hebat dalam menyusun strategi peperangan, diudarkan kepadanya.

Kendati Lala tak menyukai kekerasan apalagi peperangan, ia begitu menyukai gaya perempuan ketika masuk ke medan perang. Apalagi jika menunggang kuda. Gambaran tentang gagahnya seorang perempuan yang tubuhnya terguncang-guncang di atas pelana sambil pegang kendali tali kekang, serta mengacungkan tombak atau pedang adalah pemandangan yang sangat sedap di jangkauan kelopak matanya, sebagaimana pernah ia lihat di film-film.

Seketika, ingatannya melayang ke sosok Nyi Ageng Serang, pahlawan nasional penunggang kuda yang kesohor dalam soal atur siasat perang. Lala sering kali tak habis pikir, perempuan-perempuan hebat sepanjang sejarah itu mengapa kini seakan senyap dari perbincangan?

Lihat juga: Dialog Sejoli di Atas Ranjang

Bianglala nyaris tak mampu memejamkan matanya. Kepingan-kepingan ingatan yang pernah ia salin satu-satu, kini berjumpalitan muncul. Hilir mudik tak menentu menyesaki pikirannya. Suara angin kencang di luar berubah menjadi kesiur rendah. Lala lelah. Lala resah. Teringat ibunya di rumah.

Sebenarnya tidak sekali dua ia pernah kisahkan pertemuan demi pertemuan di pondok Nyai Sarah itu kepada ibunya. Namun ibunya seperti tak bergeming. Alasan melanjutkan kuliah seakan hanya kedok saja untuk menutupi ketidaksukaannya.

“Yang ibu tahu, seorang pemimpin tarekat seperti mursyid semestinyalah seorang laki-laki, seorang kiai,”, ucap ibunya suatu kali.

“Mengapa bisa begitu, Bu?”

“Ya kalau laki-laki kan tidak pernah menstruasi? Jadi ibadahnya kepada Tuhan bisa penuh dan total. Kalau perempuan? Jelas tidak bisa. Setiap ada halangan seperti itu kan jadi tidak beribadah, tidak boleh salat, ngaji, atau juga puasa”

“Lho, bukankah perempuan menstruasi dan tidak beribadah wajib itu demi mengikuti dan taat pada syariat juga, Bu? Aturan Tuhan? Apa itu tidak boleh dikatakan bahwa perempuan pun beribadah dengan situasinya, Bu?”

“Ya tetap saja kurang itu namanya”

“Lho, bukankah yang tahu kurang tidaknya amalan kita itu hanya Tuhan, Bu?

“Ya pokoknya kalau untuk ukuran menjadi pemimpin tarekat ndak bisa. Kalau memang kamu pengen masuk tarekat, ya harus berguru ke kiai! Yang kealimannya sudah terakui!” ibunya mengakhiri percakapan dengan suara sengit.

Bianglala gusar. Bukankah ia hanya ingin belajar? Apanya yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam mengajarinya untuk berdekatan dengan Tuhan?

Bianglala menjadi penyaksi dengan indranya sendiri, bagaimana kekhusyukan Nyai Sarah beribadah. Merapal zikir dan wirid. Mengajari santri mengaji. Menyimak setoran hafalan Alquran oleh mereka. Lala melihat dalam diri sosok Nyai Sarah menyimpan nuansa batin yang luar biasa lembut. Dan itu yang Lala inginkan selama ini!

“Apa kamu mau menjadi Rabiah Adawiyah? Mana mungkin. Situasinya berbeda, La! Kita hidup di zaman modern. Tak akan bisa kau capai derajat sepertinya! Apalagi hanya berguru dengan Nyai Sarah! Seorang istri yang meminta cerai suami hanya karena nurut kepentingannya sendir.” Kalimat-kalimat nyaring ibunya sekali lagi membuat ingatannya ngilu, hatinya kelu.

Menyakitkan nian kalimat terakhir itu. Lala hanya ingin membuktikan bahwa seorang perempuan yang memimpin tarekat pun mampu mendidiknya untuk menyelami jalan iman yang ia rasakan agung sekaligus aneh itu. Memiliki keilmuan mendalam. Penghormatannya kepada manusia sangat besar meski tampaknya ia tak banyak bicara. Lantas apa yang keliru dengan status perkawinannya?

Rabiah Al-Adawiyah tidak menikah. Namun toh itu tak menghalanginya mendharmabaktikan dirinya kepada Tuhan. Ia tak hendak meniru Rabiah atau siapa pun. Ia hanya ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Itu saja. Titik. Namun, sesuatu merambat pelan di sudut hati Lala, perih dan iba terhadap ibunya. Bagaimana ini? Hatinya ngilu.

Lala beranjak meraih tas yang ia letakkan di atas meja sudut ruang dekat pelita. Ia memutar lingkaran kecil bergerigi di bawah kaca semprong untuk mengatur penerangan, membesarkan nyala api. Perlahan Lala keluarkan isi tasnya. Selembar mukena, sajadah, dan beberapa pakaian, Alquran berukuran kecil dan sebuah buku bacaan hadiah dari Bu Santi pada acara kelulusan sekolahnya. Sejenak ia terpaku mengamati sampul buku. Warnanya mulai kusam.

“Kamu hanya perlu membaca isi buku ini untuk luaskan pengetahuanmu,” pesan Bu Santi bernada perintah kepadanya suatu hari. “Nanti kamu akan tahu bahwa perempuan juga bisa menjadi sosok yang mendalami tarekat sepadan dengan tokoh laki-laki.” Lala menajamkan telinganya. Ia sedikit terperanjat.

“Kurun waktu yang panjang dari sejarah tidak pernah menceritakan ini, Lala. Entahlah, dunia sepertinya sudah berganti wajah dengan cepat. Sebenarnya ada Hamidah binti Sulaiman di Aceh. Ada Ratu Raja Fatimah dan Nyimas Ayu Alimah, keduanya dari Cirebon. Semuanya perempuan sufi nusantara, La. Mungkin terasa asing nama-nama itu di kupingmu. Tapi mereka perempuan hebat,” cerita Bu Santi.

Lihat juga: Pulang ke Pangkuan Ibu

“Kita juga punya Kanjeng Raden Ayu Kilen, garwa pangerembe Hamengku Buwono II dari Yogyakarta. Ada juga Kanjeng Ratu Kadospaten, istri Pangeran Mangkubumi.

Oh ya, Kanjeng Ratu Kadospaten ini sosok unik, La. Beliau ini punya pengaruh kuat dan memainkan peran penting dalam membentuk spiritualitas mistik Jawa, termasuk seorang tokoh yang memiliki andil bagi spiritualitas Pangeran Diponegoro, satu hal yang kamu pasti akan tertarik dengan hal ini. Kedua tokoh sufi itu ada di sekira awal abad 18 dan 19,” lanjut Bu Santi tersenyum teduh.

Kedua mata lala mengerjap-ngerjap takjub. Ingatannya langsung melesat ke zaman kolosal, aih…menunggang kuda!

Kelopak mata Lala kini kembali berkedip-kedip mengingat penuturan guru ngajinya itu. Ia senang mendengar cerita darinya. Ia mencoba menerka seperti apa tokoh perempuan sufi dari Yogyakarta itu. Penasaran betul ia dibuatnya. Jika ia memang benar berasal dari lingkungan kraton, alangkah hebat, sekaligus membingungkan.

Ia tak paham dunia kraton. Sepanjang yang ia ketahui, budaya kraton tidak mengenal penutup kepala dan hijab seperti yang ia bayangkan pasti dikenakan oleh Rabiah Adawiyah. Lalu, apakah seorang sufi tidak berhijab?

Tanda tanya besar menggelayut di pelupuk matanya, sekaligus membuatnya sedikit pusing. Mengapa ia bisa sampai pada pertanyaan seperti itu? Ia tak sempat menanyakan kepada Bu Santi.

Bianglala melirik jam di pergelangan tangan yang belum sempat dilepasnya. Pukul dua dini hari. Akankah ia bisa tidur? Rasanya tidak. Kedua bola matanya masih nyalang. Napasnya menghela sembari menutup buku. Memutar kembali gerigi kecil di pelita, meredupkan nyala apinya. Kembali ke ranjang.

Duduk di tubir, ia mengusap-usap wajahnya. Ia telah berada di sini. Seperti pesan Nyai Sarah, esok ia mesti bangun sebelum Subuh. Ada ritual tertentu yang akan ia jalani, entah apa ia tak tahu.

Gadis itu mencoba pejamkan mata sembari bahu ia sandarkan di sisi kayu penyangga ranjang tidurnya. Ia pasrah dan telah berbulat hati akan mengikuti proses di pesantren Nyai Sarah.

***

Di bagian kamar lain, Nyai Sarah tengah bersimpuh di lantai. Mukena putih melekat di tubuhnya. Nyala pelita di kamarnya telah diredupkan ke titik nyala paling kecil hingga nyaris padam. Alam pikirnya mengembara menyusuri kelokan-kelokan kenangan yang berbeda.

Bulan sabit kian memucat berpendar di langit jauh. Bak sebuah telinga gaib yang berjaga untuk mendengar nyanyian derita. Nyai yang beranjak sepuh itu menggumamkan doa di sudut batin. Hanya ia yang tahu doa apa yang sedang ia langitkan.

Bianglala adalah gadis yang ditunggu-tunggunya. Lebih dari sekadar bahwa ia akan menjadi muridnya. Yang mungkin akan ia pilih kelak untuk mewarisi pesantrennya.

Gadis itu nampak memiliki kecerdasan dan keistimewaan batiniah. Ujung batinnya tersentuh-sentuh getaran hebat. Lebih dari itu, ia sendiri yang menamai gadis itu Bianglala. Tujuh belas tahun silam, ketika gadis itu lahir dari rahimnya.

Bulan sabit di luar jauh kian menggigil. Langit fajar semburat bersih hadir melukis sunyi. Serupa sunyi yang telah mati berkali-kali.

___________________

*Klik di sini untuk membaca cerpen-cerpen lainnya.

Akhiriyati Sundari
Akhiriyati Sundari 1 Article
Mahasiswa Islam dan Kajian Gender (IKG) Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Mengajar di Madrasah Aliyah Darussalam Ponpes Sunni Darussalam