Bobby Nasution, Siapalah Kau Ini Bah?

Bobby Nasution, Siapalah Kau Ini Bah
©Pikiran Rakyat

Pilkada Serentak 9 Desember 2020 sudah di depan mata. Para kandidat bermanuver melakukan lobi politik untuk dapatkan rekomendasi partai. Di antaranya ada Bobby Nasution maju dalam pilkada Kota Medan. Adakah yang kenal dia sebelum menjadi menantu Jokowi?

Bobby Nasution yang berusia 29 tahun lahir di Medan, 5 Juli 1991. Sejak sekolah justru tidak pernah di Medan: SD Muhammadiyah 02 di Pontianak, SMP Negeri 22 dan SMA Negeri 09 di Bandar Lampung, lalu Kuliah S1 lanjut S2 di IPB Bogor. Sekarang tinggal pula di istana negara Bogor. Hidupnya lebih banyak tidak di Medan.

Kalau melihat riwayatnya, Bobby Nasution cuma numpang lahir di Medan. Orang tua dan leluhurnya memang orang Batak. Masa kecil hingga remaja berpindah-pindah kota sesuai pekerjaan mendiang bapaknya yang pernah menjabat Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IV.

Kalau mengamati pengalaman hidupnya bersentuhan dengan rakyat Medan, dia cuma pernah mengurusi Klub Bola Medan Jaya tahun 2014 sebagai manajer. Tak jelas pula prestasinya di Devisi I Liga Indonesia karena gagal meloloskan klubnya di putaran ke-2. Habis itu dia minggat pula meninggalkan klub itu.

Kapasitasnya memimpin belumlah memiliki kemampuan apalagi mengurusi daerah sekelas Kota Medan, pun kematangannya dalam urusan politik. Menilik bisnis kuliner yang dia tekuni juga tidak menunjukkan kapasitas manajemen dan kepemimpinannya. Bisnis propertinya melalui Takke Group sebagai direktur pemasaran juga belum bisa dianggap hebat karena dari hasil penelusuran tampak biasa saja walau dia salah satu pemilik saham.

Saat Takke Group diberitakan turut membangun Malioboro City awal 2010-an di tepi sungai Janti, Yogyakarta. Malah sempat pula pengembang berselisih dengan warga sekitar tanpa penyelesaian yang baik, bahkan sempat diprotes warga karena kekhawatiran bila kawasan kompleks tersebut akan menghabiskan air tanah dan sumur warga sekitar akan kering. Bila diamati jarak dekat, kawasan Malioboro City tampak tidak pernah tuntas dibangun, cuma berdiri hotel dan apartemen superblock tanpa fasilitas pendukung lainnya sebagai kawasan hunian.

Dari sisi kemampuan penyelesaian masalah, Bobby Nasution mungkin malah belum bisa mengalahkan keterampilan politik sekelas Ketua GMKI atau HMI (Kelompok Cipayung) di Medan sana. Walau dia belakangan ini menjadi fungsionaris BPP HIPMI 2019 – 2022. Itu pun mungkin karena diajak Ketum Hipmi Mardani Maming agar pelantikan mereka dihadiri Presiden Jokowi.

Menilik kepekaan Bobby Nasution mencium penderiaan inang-inang Sambu, atau sekadar gagasan untuk menata angkutan publik atau menata Terminal Terpadu Amplas dan terminal lainnya, belum muncul. Kacaunya lalu lintas di Kota Medan sangat sulit ditata, kemacetan ada di mana-mana. Banyak orang akan kaget kalau pertama kali ke Medan, saat lampu merah justru banyak kendaraan menerabas dan bukan malah berhenti.

Sejak dulu Kota Medan dikenal sulit diatur, baik orangnya maupun penegakan hukum dan birokrasinya juga korup. Kota ini terkenal dengan pameo “Ini Medan, Bung!”. Kata itu menyiratkan keras dan rumitnya kehidupan Kota Medan, layaknya Terminal Senen dan Terminal Kampung Melayu di Jakarta, zaman waktu dipenuhi preman bertato. Tak ada urusan di Kota ini tanpa uang pelicin dan suap bila ingin urusan cepat selesai dan jelas.

Kota Medan punya masalah klasik sampah, premanisme dan korupsi pastilah butuh mental dan nyali baja atau bahkan butuh kelembutan Jawa untuk meladeni masyarakatnya yang beragam dalam memimpin menuju perbaikan dan perubahan. Tapi apakah Bobby Nasutian punya kelembutan dan kesabaran tanpa batas mengajak orang Medan berubah memperbaiki kotanya? Kahiyang butuh belasan tahun mengajarinya agar bisa meniru kepemimpinan Jokowi seperti di Solo.

Dari jejak hidup dan dinamika kota yang sangat rumit dan kompleks, wajarlah banyak pihak meragukan dan mau mempercayakan Kota Medan dipimpin seorang Bobby Nasution yang dirasa tak pernah berjibaku menghirup panas terik dan polusi Kota Medan sebelumnya. Termasuk penolakan kader-kader partai pengusung ketika rekomendasi partai diumumkan.

Lalu siapalah Bobby Nasution tanpa menjadi menantunya Presiden Jokowi? Sebagai anak Medan jadi ikut khawatir melihat masa depan Kota Medan bila kelak dia terpilih. Karena jejak rekam, kemampuan manajerial serta kepemimpinan tak kelihatan sebagai modalnya memimpin.

Bahkan potensi, bakat dan aktivitasnya tak terlacak pula selama kuliah S1 hingga S2 di IPB. Dia tambahi pula beban Jokowi meninggalkan legacy politik dinasti. Ataukau bikin dulu awak ini yakin dengan rencana gagasanmu, kalau tidak ada itu berarti payah kau bahhh!

Dikson Ringo