BPN Ancam Tuntut SMRC, Saidiman Ahmad: Tidak Apa-Apa

BPN Ancam Tuntut SMRC, Saidiman Ahmad: Tidak Apa-Apa
Saidiman Ahmad | Prime Talk MetroTV

Peneliti SMRC Saidiman Ahmad mengaku tidak risau dengan ancaman BPN Prabowo-Sandi. Ia tidak takut jika lembaganya harus dituntut hanya karena temuan surveinya dirasa merugikan.

“Tidak apa-apa,” kata Saidiman di Prime Talk MetroTV episode “Riuh Survei di Putaran Terakhir” (22/3).

Juru Bicara BPN, Andre Rosiade, memang melempar ancaman kepada lembaga-lembaga survei, termasuk ke SMRC, yang berani mengungkap keunggulan Jokowi-Ma’ruf lebih 20 persen di atas Prabowo-Sandi. Jika misalnya hasil itu ternyata tidak sama dengan hasil Pilpres 2019 nanti, ancamnya, maka hukum akan bicara.

Meski menghargai respons BPN, namun Saidiman mengingatkan bahwa rencana menempuh jalur hukum seperti itu akan sia-sia.

“Saya tidak tahu bagaimana cara menuntutnya. Karena survei ini memotret keadaan sekarang. Kita tidak survei di hari pemilu.”

Soal apakah hasil survei SMRC nanti akan berubah atau tidak, lanjut Saidiman, tetap ada kemungkinan.

“Sekali lagi, prinsip dari survei itu memotret realitas pada saat survei dilakukan. Berubah-tidaknya, sangat tergantung bagaimana BPN atau TKN menggunakan temuan survei itu untuk bekerja di level bawah.”

Kredibilitas Lembaga Survei

Saidiman Ahmad turut menjelaskan bahwa salah satu tolok ukur kredibilitas lembaga survei adalah pengalaman. Lembaga-lembaga survei yang kredibel sudah pasti punya track record segudang.

“Kegiatan survei itu terkait dengan kepercayaan. Tidak bisa ujug-ujug; ada lembaga survei baru, misalnya, tiba-tiba orang percaya sama dia. Itu ada track record lama begitu.”

Lembaga-lembaga survei yang kredibel, lanjut Saidiman, punya pengalaman bertahun-tahun atau dari pemilu ke pemilu melakukan survei. Dan itu bisa teruji dari sana.

“Yang kedua, lembaga survei ini memang juga bisa diuji. Lembaga-lembaga survei kredibel itu akan sangat terbuka kepada siapa pun, misalnya untuk menjelaskan metodologi yang digunakan, sampelnya bagaimana, dan seterusnya.”

Lalu bagaimana mengetahui apabila survei itu dibayar atau dimanipulasi?

Pertama, jelas Saidiman, kegiatan survei adalah kegiatan yang tidak murah. Butuh biaya. Tentu saja harus ada yang bayar.

“Kedua, apakah karena ada yang bayar kemudian ia serta-merta tidak menjadi kredibel? Tidak juga. Karena tidak ada orang yang mau membayar lembaga survei untuk dibohongi.”

Kalau pesanan?

“Ini bedanya. Lembaga-lembaga survei yang kredibel itu akan sangat objektif, tidak terpengaruh pesanan, tidak terpengaruh dari keinginan si pemesan dan siapa pun. Sementara lembaga yang mungkin tidak kredibel, itu mungkin bisa terpengaruh.”