Bubarnya FPI Perspektif Teori Sejarah Spekulatif Deterministik

Bubarnya FPI Perspektif Teori Sejarah Spekulatif Deterministik
©Tirto

Bubarnya FPI Perspektif Teori Sejarah Spekulatif Deterministik

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habaib, Ulama Mubaligh, Aktivis Muslim, dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek.

Pendirian organisasi ini hanya empat bulan setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Karena pada saat pemerintahan orde baru, presiden tidak mentoleransi tindakan ekstremis dalam bentuk apa pun. FPI pun berdiri dengan tujuan untuk menegakkan hukum Islam di negara sekuler.

Hal yang melatarbelakangi pendirian FPI ini, sebagaimana diklaim oleh organisasi tersebut, yakni adanya penderitaan panjang umat Islam di Indonesia karena lemahnya kontrol sosial penguasa sipil maupun militer akibat banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa.

Selain itu, adanya kemungkaran dan kemaksiatan yang makin merajalela di seluruh sektor kehidupan dan upaya untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta umat Islam. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan.

Dalam penulisan ini, peneliti mencoba menelaah melalui teori sejarah spekulatif deterministik. Di mana teori ini menciptakan kerangka kerja perkembangan sejarah dianggap sebagai hasil dari determinisme sebab-akibat yang konsisten.

Pemikiran ini menekankan identifikasi pola tertentu dalam peristiwa sejarah, baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Seiring dengan itu, teori ini mencoba memproyeksikan perkembangan masa depan dengan berdasarkan pemahaman terhadap pola-pola yang telah diidentifikasi.

Meskipun teori ini menawarkan pandangan sistematis terhadap jalannya sejarah, kenyataannya, aplikasinya sering kali kompleks dan sulit. Faktor-faktor yang tidak dapat diprediksi dan interaksi yang rumit dapat menyulitkan upaya untuk menetapkan pola-pola yang konsisten dan akurat.

Baca juga:

Sebagian besar sejarawan modern cenderung menyoroti kompleksitas dan keunikan setiap periode sejarah, mengakui peran penting kebetulan dan faktor manusia yang sulit diprediksi dalam membentuk arah sejarah manusia.

Front Pembela Islam (FPI) adalah organisasi garis keras Islamisme Indonesia yang didirikan pada 1998 oleh Muhammad Rizieq Shihab dengan dukungan militer dan tokoh politik. Pimpinan organisasi ini sejak 2015 adalah Ahmad Shabri Lubis, sedangkan Rizieq Shihab bergelar Imam Besar FPI seumur hidup. FPI awalnya memosisikan dirinya sebagai polisi moral Islam.

Sebelum dibubarkan, organisasi ini pernah menyelenggarakan sejumlah protes massa agama dan politik, termasuk Aksi 4 November dan demonstrasi lainnya terhadap gubernur Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama. FPI juga berunjuk rasa di luar Kedutaan Besar Amerika di Jakarta pada 2003 untuk mengutuk Perang Irak. Protes tersebut dikritik karena melakukan kejahatan kebencian atas nama Islam dan kekerasan terkait agama.

Pada 30 Desember 2020, pemerintah Indonesia mengeluarkan keputusan bersama menteri yang melarang FPI. Pemerintah mengatakan FPI telah mengancam ideologi nasional Indonesia, melakukan penggerebekan dan kekejaman ilegal termasuk terorisme, dan izin organisasinya telah kedaluwarsa.

Pemerintah juga memperlihatkan rekaman Rizieq Shihab yang menjanjikan FPI kesetiaan kepada Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dan mendukung kekhalifahan ala ISIS. Pembubaran terjadi beberapa minggu setelah 6 Laskar FPI ditembak mati oleh polisi.

Front Pembela Islam (FPI) menjadi subjek perhatian dalam sejarah politik Indonesia. Melihat bubarnya FPI dari perspektif teori sejarah spekulatif deterministik, juga berbagai faktor-faktor yang mungkin memainkan peran kunci dalam perkembangan organisasi ini.

Pertama, penulis meninjau konteks politik dan sosial pada saat bubarnya FPI. Dalam kerangka teori sejarah spekulatif deterministik, perubahan sosial dan politik dianggap sebagai hasil dari berbagai kekuatan yang saling terkait. FPI terpengaruh oleh perubahan dinamika politik dan sosial di Indonesia pada waktu itu, yang dapat mencakup isu-isu keamanan, toleransi, dan penegakan hukum.

Sejarah perkembangan FPI juga dapat dilihat melalui lensa kepemimpinan dan dinamika internal organisasi. Teori sejarah spekulatif deterministik juga menyoroti peran tokoh-tokoh kunci dalam membentuk arah dan identitas FPI. Faktor eksternal seperti tekanan dari pihak berwenang, perubahan kebijakan pemerintah, atau opini publik juga dapat menjadi pertimbangan dalam menganalisis bubarnya FPI.

Baca juga:

Dalam konteks teori sejarah spekulatif deterministik, interaksi antara organisasi dan lingkungannya dianggap sebagai elemen penting yang membentuk jalannya sejarah.

Dari perspektif teori sejarah spekulatif deterministik, bubarnya Front Pembela Islam (FPI) dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya, yakni, pertama, isi anggaran dasar FPI bertentangan dengan Pasal 2 UU Ormas. Kedua, sebanyak 35 orang pengurus dan anggota FPI pernah terlibat terorisme dan 29 orang telah dipidanakan.

Adapun faktor eksternalnya, yakni, pertama, melihat keberadaan UU No. 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan UU No. 16 Tahun 2017 tentang Ormas terkait dengan tujuan untuk menjaga eksitanesi idelogi dan konsensus bernegara Pancasila, UUD 1945, keutuhan negara, dan Bhinneka Tunggal.

Kedua, FPI belum memperpanjang Surat Ketarangan Terdaftar sebagai ormas yang berlaku sampai tanggal 20 Juni 2019, sesuai dengan Keputusan Mendagri tanggal 20 Juni 2014. Ketiga, kegiatan ormas tidak boleh bertentangan dengan Pasal 5, Pasal 59 ayat (3), Pasal 59, dan Pasal 82 UU Ormas.

Perubahan dalam lingkup politik dan sosial di Indonesia telah menjadi pemicu yang cukup signifikanterkait perkembangan organisasi ini. Dalam kerangka ini, perubahan dinamika politik dan isu-isu seperti keamanan, toleransi, dan penegakan hukum dapat diidentifikasi sebagai elemen-elemen yang memengaruhi keberlanjutan FPI.

Selain itu, kepemimpinan dan dinamika internal organisasi juga turut dianalisis. Peran tokoh-tokoh kunci, konflik internal, pergeseran ideologis, serta strategi taktis dianggap sebagai faktor-faktor yang dapat membentuk nasib FPI. Interaksi kompleks antara unsur-unsur ini menjadi bagian integral dari narasi sejarah perjalanan organisasi.

Tidak ketinggalan, faktor eksternal seperti tekanan dari pihak berwenang, perubahan kebijakan pemerintah, dan opini publik memainkan peran penting. Analisis ini membantu merangkai pemahaman mengenai bagaimana lingkungan eksternal dapat membentuk atau mengubah jalannya suatu organisasi.

Muhamad Fajar Ramdhan
Latest posts by Muhamad Fajar Ramdhan (see all)