Budaya dalam Dimensi Pemikiran

Budaya dalam Dimensi Pemikiran
Ilustrasi: Yogui.co

Dengan melihat perkembangan zaman serta kemajuan peradaban, budaya menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun dan menuju kemajuan sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab.

Saat ini, di tengah-tengah masyarakat kita, sedang berlangsung perubahan konstruksi sosial. Bahkan, sebelum merdekanya Indonesia, konstruksi tersebut semakin membuka pintu kemajuan di setiap daerah. Terkhusus pada transformasi budaya di Yogyakarta salah satunya.

Misalnya, pada bidang kebudayaan, sejak lama ada upaya mencari model-model perkawinan alternatif. Sehingga terjadi akulturasi budaya yang secara berangsur-angsur masuk ke setiap wilayah di Indonesia secara umum. Bahkan, dalam melihat perkembangan perubahan sosial, kita akan mengetahui perbincangan mengenai faktor-faktor yang menimbulkan perubahan sosial. Agen-agen perubahan sosial (agents of social change) itu. Berapa lama perubahan pemahaman budaya itu terjadi. Dari yang tidak mengetahui sampai yang mengetahui yang juga sebagai dampak dari perubahan itu.

Dapat kita katakan bahwa pengetahuanlah yang menggerakkan manusia sebagai faktor determinisnya. Maka yang terpenting untuk kita lihat ialah tingkat pengetahuan masyarakat akan budaya yang kita miliki.

Menurut Max Weber dalam bukunya Sociology of Religion dan The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, kita harus menekankan pengaruh ide dan pemikiran individu terhadap suatu masyarakat. Maka sudah seharusnya ada suatu gerakan perubahan sosial yang berbasis epistemologis sehingga dalam geraknya berkesesuaian dengan realitasnya. Ia harus dapat mengembalikan kita ke nilai-nilai budaya yang relevan dengan kemajuan suatu peradaban.

Berbicara mengenai budaya serta peradaban sebagai hasilnya, tentu tidak lepas dari gerak sejarah suatu entitas sosial serta gerak pengetahuan masyarakat. Ini sebagai hal yang mendeterminasinya untuk menuju kelanjutan evolusi masyarakat.

Perlu kita tekankan di sini bahwa berbicara suatu entitas masyarakat tentu tidak lepas dari manusia/individu yang berperan sebagai penopang dari eksisnya gerakan sosial. Adanya suatu revolusi sosial (perubahan sosial), dalam hal ini, mutlak diawali dari problematika sosial sebagai suatu yang merangsang gerak masyarakat. Problematika itulah yang nantinya saya sebut sebagai spiritual, ideologis, globalisasi, dan modernisasi yang saling bertentangan, sekaligus sebagai faktor-faktor yang menuntun perubahan nilai-nilai budaya.

Maka dalam hal ini, gerak masyarakat tidak boleh melupakan sejarah. Sebab setidaknya sejarahlah yang akan menggambarkan, menceritakan, dan memberitahukan kepada generasi selanjutnya yang menjadikan tupoksi (tujuan) sejarah sebagai akumulasi gerak masyarakat. Terutama tentang bangkit dan runtuhnya dalam kurun waktu yang konvensional, serta tunduk dalam hukum, etika atau bahkan moral dari suatu entitas sosial.

Pengetahuan sebagai Penggerak Budaya

Sebagai permulaan, kita harus membangun konsepsi tentang relevansi serta korelasi antara pengetahuan dan budaya. Relasi ini harus dikaitkan pada wilayah masyarakat sebagai proses ilmiah.

Guna membangun konsepsi tersebut, kita perlu dudukkan lebih awal apa defenisi dari budaya. Menurut KBBI, budaya adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, serta keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial. Tujuannya adalah untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Dapat kita simpulkan, kebudayaan menurut KBBI bahwa budaya terdiri dari struktur dasar, yaitu akal (selanjutnya kita sebut sebagai rasio) serta pengetahuan berwatak sosial (selanjutnya kita sebut sebagai sosio-epistemik). Struktur dasar tersebut dapat kita maknai sebagai hal yang non-materi (tidak terindrai).

Namun, karakter dari sosio-epistemik ialah pengetahuan yang bercorak sosial. Artinya, pengetahuan tersebut lahir dari respons kondisi eksternal manusia. Jadi, tidak ada keterpisahan antara hal yang materi dan yang non-materi.

Lihat juga: Peran Intelektual; Telaah Progresif Pemikiran Edward Said & Antonio Gramsci

Setelah proses mengindrai ada proses abstraksi yang nantinya sampai pada rasio, ia kemudian melahirkan suatu konsepsi, hingga pada tahap akhirnya konsepsi tersebut di-tasdiq (menilai; benar dan salah). Pada tahap inilah yang mengalami penyesuaian atau kita bisa sebut sebagai akulturasi nilai yang satu dengan nilai yang lain. Inilah sebabnya yang membuka kemungkinan bahwa dengan pengetahuan manusia. Budaya menjadi tidak stagnan, melainkan terus bergerak maju sekaligus berevolusi menyesuaikan dengan kondisi nilai-nilai yang diyakini dalam suatu entitas masyarakat, termasuk pula etika, moral, serta spiritual.

Sebagaimana yang kita pahami, manusia ialah mahluk sosial. Oleh karena itu, dalam pergaulan sosial manusia, setidaknya memiliki suatu pengetahuan tentang budayanya. Hal ini penting guna dalam berafiliasi dengan budaya yang lain tidak terjadi peniruan total sampai pada substansi kebudayan itu sendiri.

Seperti yang bangsa Eropa pertontonkan, mereka memisahkan antara kulit putih dan kulit hitam. Kulit putih sebagai ras percontohan, dan kulit hitam hanya sebagai budak. Jadi, ketika kulit hitam ingin hidupnya lebih baik, maka sudah barang pasti kulih hitam harus meniru semua dimensi kehidupan kulit putih.

Dari pertentangan ras yang didesain oleh Eropa, tentu bisa kita lihat bahwa Eropa menghendaki adanya produsen dan konsumen dalam sosial dan budaya. Dan itu pula yang menjadi tantangan zaman untuk kita semua. Jangan sampai bangsa Indonesia menjadi bangsa yang diposisikan sebagai konsumen budaya.

Menjaga Budaya dengan Pengetahuan

Sebagai langkah awal, penyadaran untuk setiap individu harus dimulai dari bangku sekolah sampai ke tingkat masyarakat secara umum dan luas. Hal ini perlu guna terbentuknya kontruksi pemikiran berlatar belakang budaya.

Patut dicatat bahwa masyarakat mempunyai kebudayaan dan peradaban yang dikembangkan dari kebudayaan dan peradaban dari pendahulunya. Ini secara terus-menerus dikembangkan dalam berbagai periode. Merupakan suatu realitas tunggal dalam sejarah yang beralih dari tangan ke tangan dari berbagai daerah. Bahkan bangsa sekalipun berpindah-pindah melampaui batasan geografis.

Kebudayaan etnis sendiri terdiri atas keseluruhan produk-produk dan kekayaan-kekayaan untuk setiap daerah yang nantinya akan menjadi identitas daerah. Aime Casaire berpendapat bahwa kebudayaan adalah aspek etnis dari peradaban, sedang peradaban adalah aspek umum dari budaya.

Ali Syari’ati dalam bukunya Ideologi Kaum Intelektual mengatakan: Saya mengkritik individu-individu yang mengonsumsi budaya-budaya serta industri Eropa tanpa daya kritik dan analisa yang tajam sehingga menjadi peniru dan budak-budak industri Eropa.

Bagaimana masyarakat Indonesia umumnya dan Yogyakarta khususnya untuk tetap mempertahankan kepribadiaan bangsa ini sebagai bangsa dan daerah yang berbudaya sehingga kontruksi sosial yang terbangun bukan menjadi masyarakat yang pengasimilasi serta peniru? Jika itu terjadi, maka masyarakat pada umumnya akan cenderung menjadi konsumen atau peniru dari kepribadian budaya yang lain.

Akibatnya, eksistensi budaya kita menjadi terancam. Sebab dari lebih senangnya masyarakat mengkonsumsi budaya serta kearifan budaya yang lain. Tentunya dari masalah yang kita anggap kompleks ini perlu perhatian khusus dari pemerintah.

Lihat juga: Literasi, Pengetahuan, dan Nasionalisme

Kita dapat memanfaatkan barang-barang milik peradaban manusia, baik dari timur maupun dari barat. Tetapi ini sangatlah tidak berlaku bagi kebudayaan yang merupakan manifestasi kesadaran kolektif bangsa yang datang sejak masa lampau. Ini kelanjutan evolusi kemasyarakatan dan mesti terus bernafas dalam atmosfir kebudayaan. Sehingga arahnya lebih kepada mempertahankan serta menunjukkan eksistensi budaya sebagai identitas kita semua.

Perkara yang harus kita selesaikan ialah bagaimana budaya bangsa tetap terjaga eksistensinya di tengah-tengah kemajuan peradaban umat manusia, yang tentunya mengancam eksistensi budaya sebagai identitas bangsa kita. Ada banyak konsep untuk memecahkan persoalan tersebut yang bisa kita sebut development; adalah proses sosial yang direncanakan atau direkayasa. Yang tidak lain untuk menyamaratakan pembangunan,modernisasi serta mempertahankan kultur sebagai identitas, sehingga keseimbangan dalam melakukan perubahan sosial itu memunculkan ciri khas bangsa kita sebagai bangsa yang berbudaya.

Selain dari development, bisa juga kita sebut people’s power. People’s power merupakan bagian dari power strategy perubahan sosial dengan kekuasaan. Maksudnya di sini ialah bagaimana pemerintah yang memiliki kewenangan melakukan terobosan, mengarahkan kebijakannya dalam memandang eksistensi budaya sebagai identitas.

Strategi yang lainnya bisa kita sebut dengan persuasive strategy, yaitu memanfaatkan media massa sebagai alat pengampanyean budaya. Dan ada juga normative reductive, yaitu membuat aturan atau hukum yang secara normatif menjadi aturan yang mewajibkan masyarakat mempertahankan eksistensi budaya bangsa kita.

Akan tetapi, lebih dari itu semua, kita harus memperbaiki cara berpikir dalam memandang eksistensi budaya, sehingga budaya kita minimal tercamkan pada setiap diri individu. Sebelum ini, saya menggunakan istilah individual problem dan social problem—untuk selanjutnya kata individual diganti saja dengan personal. Suatu masalah bisa kita lihat sebagai masalah sosial ataupun personal, sebab tolok ukur individu untuk mengetahui serta sadar akan nilai-nilai budaya, yaitu terletak pada dirinya sendiri, begitu pula pada masyarakat.

Ketika individu-individu dalam suatu masyarakat tidak mempunyai kesadaran akan budaya, maka konstruksi sosial di tempat tersebut menjadi barang pasti minim pengetahuan tentang nilai-nilai budaya. Ambil contoh siri’ (nilai budaya masyarakat Sulawesi pada umumnya). Kita dapat menemukan jalan yang benar serta menyelamatkan eksistensi budaya kita dalam ancaman global. Bahwa sekali rakyat diberi suatu keyakinan dan energi baru, kegairahan pun akan terbangkitkan dan kebudayaan akan kita jaga.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Hairil Amri (see all)