Budaya Populer vis a vis Agama

Budaya Populer vis a vis Agama
©Pop

Budaya populer ketika dihadapkan dengan agama banyak kontradiksi, problem, dan dilema.

Tema tentang agama dan budaya sudah banyak dibahas di bangku akademik. Namun, pembahasan mengenai keduanya sangatlah dinamis karena ada kaitannya dengan ruang dan waktu.

Kita tahu bahwa pembahasan mengenai keduanya hari ini saling-tumpang tindih diakibatkan batasan-batasan agama dan budaya tersebut semakin menipis.

Dahulu berbicara tentang agama dan budaya ada porsinya tersendiri sehingga jelas urusan tentang agama dan budaya. Agama dan budaya saling bersinergi. Tapi, tidak untuk saat ini. Budaya yang ada terlalu mengintervensi terhadap agama sehingga agama harus patuh terhadap perkembangan budaya.

Menurut Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Teori Budaya Kontemporer menyebutkan bahwa sekat antara agama dan budaya sudah tipis bak dua sisi pada mata uang logam. Ada urusan agama dalam budaya, begitu pun sebaliknya. Namun, sejak perkembangan globalisasi yang makin pesat perkembangannya, hal tersebut meresahkan. Agama yang paling tampak terkena dampak.

Mengapa demikian? Apa yang memengaruhi hal tersebut? Mari kita ulas.

Budaya Agama

Sebelum jauh membahas keduanya, terlebih dahulu harus memahami makna dari budaya dan agama. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga menurutnya kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.

Ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari majemuk budidaya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal. Sedang agama menurut KBBI yakni suatu sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Dalam catatan sejarah, budaya dan agama saling berkaitan, khususnya Islam Nusantara. Ritual-ritual yang ada dalam agama merupakan hasil akulturasi antara agama dan budaya, semisal tahlilan. Hal tersebut sudah dapat membuka mata kita bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Agama dan Budaya saling bersinergi dan berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup.

Nilai-nilai yang ada dalam agama sangatlah banyak dan mengarahkan pada kebaikan bersama. Nilai yang ada dalam agama juga dianggap sakral oleh para pemeluknya, khususnya dalam Islam. Dikatakan saleh, apabila seorang pemeluk agama menjalankan nilai-nilai yang sudah terkandung dalam agama.

Namun, seiring berkembangnya peradaban, Yasraf menyebutkan bahwa batasan-batasan yang ada dalam agama dan budaya ibarat dua sisi mata uang logam, tipis, tak bisa pisahkan.

Seiring berjalannya waktu, budaya telah banyak merongrong pakem-pakem agama. Budaya lebih banyak mengambil kekuasaan yang seharusnya itu porsi dari agama. Buktinya, hari ini budaya mengintervensi agama, sehingga nilai-nilai yang ada dalam agama tidak lagi menjadi sakral. Budaya tersebut bernama budaya populer.

Budaya Populer vis a vis Agama

Budaya populer ketika dihadapkan dengan agama banyak kontradiksi, problem, dan dilema. Sebab output yang dikeluarkan oleh budaya populer kontradiksi dengan agama, khususnya Islam. Seperti budaya konsumtif yang di dalam Islam dilarang, hal tersebut mengacu pada hal-hal yang berlebih-lebihan.

Budaya populer dikonstruksi oleh imajinasi dan fantasi populer yang dilakukan secara sadar, baik oleh personal maupun komunal. Tujuan dari itu yakni untuk membedakan kelas baik dari personal atau komunal agar berbeda dengan yang lain. Pola pikir yang dianut yakni hanya untuk meninggikan citra belaka.

Budaya populer erat kaitannya dengan ekonomi dan politik. Sebab budaya ini dibentuk berdasarkan pola-pola produksi industri dan komoditas. Pada intinya budaya ini hanya mencari keuntungan. Sosok Theodor Adorno menyebutkan bahwa kebudayaan seperti itu disebut sebagai “industri budaya” yakni suatu budaya yang diproduksi berdasarkan industri massa dan komoditas belaka.

Sederhananya, budaya ini diciptakan untuk gaya hidup manusia pada umumnya seperti fashion dan semacamnya.

Citra pada agama yang dipengaruhi oleh budaya populer dalam dunia nyata banyak ditemukan pemeluk agama menjalankan ritual agama hanya sebatas citra belaka, semisal fenomena umroh atau haji berkali-kali. Ritual umroh dan haji pada hakikatnya sakral. Namun, saat ini hal tersebut kurang lagi menjadi sakral disebabkan tujuan umroh atau haji tersebut yang dijadikan ajang liburan serta pamer di dunia sosial media.

Dalam studi kasus lain, sesama pemeluk agama melihat kesalehan seseorang bukan lagi pada nilai-nilai yang dikerjakan sebagai pemeluk agama. Namun, sudah bergeser pada fashion atau gaya baju yang dipakai.

Disadari atau tidak, hal tersebut sering terjadi dan masih dianggap remeh. Padahal hal tersebut dapat meleburkan kesakralan yang ada dalam agama khususnya Islam. Konsumtif, fashionable, dan citra itu semua dekat dengan budaya populer.

Lantas, bagaimana agama merespons budaya populer tersebut? Apakah agama harus menolaknya atau menerima dengan cara memfilternya?

Agama dalam merespons budaya populer tidak harus dengan cara menolak. Agama dapat memandang celah yang ada di dalam budaya populer. Merespons budaya populer dengan melihat hal-hal negatif yang ada. Sebab tak semua hal yang ada di dalamnya ini mengarah kepada hal-hal negatif.

Dalam budaya populer juga dekat kata “digitalisasi”, bukan tidak mungkin kita menggunakan hal tersebut dalam menghalau hal-hal negatif yang ada dalam budaya populer. Agama dapat mendigitalisasi nilai-nilai atau ajaran yang ada dalam agama, sehingga dapat meminimalisir hal negatif yang ada pada budaya populer.

Dalam Islam, terdapat prinsip “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” yang memiliki makna ““Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”. Jika dikontekskan, agama tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada, namun harus mengikuti pola perkembangan zaman, yakni menerima budaya populer tapi tidak semuanya.

Dikatakan perlu, digitalisasi nilai yang agama supaya makin kokoh keimanan dan peribadatannya.

Selama ini hal tersebut sudah dilakukan, namun masih cenderung menjadikan agama sebagai alat untuk perdagangan atau biasa disebut komersialisasi agama. Dampaknya, banyak orang agamis hanya dengan fashion belaka.

Mari lebih jeli dalam memahami situasi kondisi di sekitar, supaya kita tidak terjebak dalam tipu daya budaya populer yang dibungkus dalam kemasan agama.

    Muhammad Nasrullah
    Latest posts by Muhammad Nasrullah (see all)