Bukan Seorang Budak

Bukan Seorang Budak
Foto: Fierdha Wordpress

Tut… tut…. Pertanda kereta berangkat.

Sabtu pagi, ketika kereta Bengawan melaju meninggalkan Kota Malang yang berkabut, aku dan penumpang yang lain telah duduk di bangku masing-masing. Dalam perjalanan ini, aku tak membawa apa-apa selain kardus berisi beberapa helai pakaian. Tidak ada koper yang diletakkan di kabin, seperti yang baru saja dilakukan oleh wanita gemuk dengan jaket tebal yang kini menghuni nomor bangku di sebelahku.

Sebelum duduk, sekilas ia menatap kecut ke arahku. Memperhatikan sekujur tubuhku; ujung rambut yang kusut serta ujung kaki dan kuku yang jorok. Lantas ia mendengus kesal. Ia menyaksikan sebuah tampang yang memilukan tergambarkan langsung olehku. Ia mengedarkan pandangannya. Ia seperti mencari-cari petugas untuk meminta mereka menurunkanku di tengah perjalanan.

Sebenarnya, meskipun tidak diminta, aku bersedia turun di mana saja mengingat tidak ada yang menerima keberadaanku. Walaupun telah kutegaskan bahwa aku adalah anak manusia yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Aku punya hak sebagaimana manusia lainnya. Akan tetapi, hanya orang bodoh yang mau berbicara denganku.

“Anak yang malang, di mana orang tuamu?” tanya petugas tiket saat aku meminta untuk mengisikan formulir. Sebab aku tak bisa membaca dan menulis.

“Tidak ada.” Peduli apa dia menanyakan itu?

“Tapi anak-anak dilarang pergi sendirian.” Ia belum menyerah.

“Aku tak sendiri. Ini ada kardus; temanku.”

“Mana ada kardus bisa bicara?”

“Coba saja. Nanti juga kau tahu.”

“Tujuan?”

“Tuliskan saja, stasiun paling jauh.”

“Mana ada perjalanan tanpa tujuan?”

“Kalau begitu, stasiun yang kau tahu saja,” kataku tak ingin hanyut dalam perdebatan.

Satu per satu rumah terlewati. Sayangnya, kukira kereta akan cepat jalannya sebagaimana yang pernah diceritakan seorang temanku. Yang kurasakan malah sebaliknya, kereta ini tak ubahnya antrean bebek sepulang berendam di pematang sawah.

Wanita gemuk di sampingku makin tak karuan saja mencium aroma yang menyembur dari bajuku. Ke kanan, lalu ke kiri. Ia terus mengatur posisi duduk agar hidungnya tak menjangkau tubuhku. Tentu aku tidak peduli, kubuang pikiranku. Mataku memandangi hutan, pohon, bentangan sawah, dan rumah-rumah seolah-olah mengucapkan selamat jalan.

Nanti kereta ini akan membawaku menjauh dari sisa-sisa kedengkian yang memenuhi kepalaku. Melarikan diri dan mengalah untuk mencari kebebasan. Aku tak mau menjadi budak atas nama balas budi. Bukankah manusia diperintah berbuat kebaikan penuh keikhlasan? Hanya karena ditolong, bukan berarti aku harus mengabdikan seluruh hidupku pada orang yang menolong. Tidak, sekali-kali tidak.

Kupenuhi usulan orang-orang yang menginginkan kebebasan atas hidupku. Kuterima pundi-pundi yang sengaja dikumpulkan untuk membebaskan calon budak.

***

Aku tak punya nama. Sejak lahir, aku tak kenal laki-laki mana yang seharunya kupanggil ayah. Pun aku tak tumbuh dari air susu ibu. Sering kali penemuku berkata bahwa ibuku tak menerimaku dan kemudian menelantarkanku begitu saja.

Di tempat yang tidak layak, aku diasuh seorang laki-laki yang kupanggil Om Keriting. Orang yang pertama kali menemukan tubuh tak berdayaku di pembuangan sampah di pagi buta ketika hendak memulung. Tak ada surat wasiat atau uang sekadarnya sebagai ucapan terima kasih bagi siapa pun yang mau merawatku.

Merawat anak tanpa identitas tak membuat Om Keriting untuk mengantarku ke panti sosial. Ia begitu tulus menawarkan segenap jiwa keayahan yang dimilikinya agar aku bisa berkembang dengan normal.

Bertahun-tahun aku berkelana dalam gendongannya. Dari satu gundukan ke gundukan yang lebih besar dan lebih banyak menyimpan barang-barang bekas apa saja, yang penting bisa ditukar menjadi uang. Begitulah.

Entah apa yang mendasari Om Keriting melakukan hal yang jarang dilakukan kaum lelaki. Uang dari hasil memulung sengaja ia sisihkan untuk mencukupi keperluan pertumbuhanku. Susu, pakaian, dan jaminan kesehatanku adalah prioritas.

Suatu petang ketika hujan dan petir berlomba-lomba menakuti manusia.

“Tenanglah. Kau tak perlu takut pada hujan dan petir. Mereka sama sepertimu, tak punya orang tua. Mereka berkeliaran ke mana-mana. Yang kau dengar saat ini bahwa mereka sedang marah. Pun kau berhak marah dan sedih. Tapi sekali-kali jangan membunuh. Jika kau lakukan itu, maka orang-orang takkan segan membunuhmu. Bahkan mereka akan mengulitimu, momotong tubuhmu menjadi bagian-bagian kecil, lalu dibungkus. Dibuang.”

Tahun-tahun berjalan. Merangkak, belajar berdiri, dan akhirnya aku dapat berlari. Om Keriting teramat senang melihatku berlari kencang. Langkah panjang layaknya kaki seorang pelari. Kaki lincah, bisa meliuk-meliuk menghindari hambatan.

Ketika usiaku belum genap delapan tahun, Om Keriting mengenalkanku pada satu hal yang sampai saat ini membuat hidupku kian malang.

“Tebak, apa ini?”

“Uang,” kataku polos. Lalu Om Keriting melanjutkan.

“Nah, kau dan om sangat butuh uang. Untuk mendapatkan uang, kita harus bekerja. Tetapi pekerjaan berat belum pantas untukmu.”

“Apa maksudnya, Om?”

“Begini saja, tolong kau carikan kaleng bekas.” Aku menurut saja. Dan tak perlu waktu lama, aku sudah berdiri menghadapnya.

“Apa lagi, Om?” kataku.

“Mana tanganmu? Om ingin lihat.”

“Ada apa dengan tanganku, Om.”

“Kau tahu pertigaan tempat biasa kita istirahat, di bawah jembatan? Nah, ketika lampu merah menyala, bernyayilah di sana. Lagu apa saja, terserah. Selepas itu, kau sodorkan kaleng ini kepada para pengendara, mobil atau motor, tentu mereka akan memberimu uang. Kau mengerti, kan?”

“Kenapa tak Om saja. Om, kan, lebih besar badannya?” aku berusaha menolak.

“Om, kan, sudah banyak memberimu uang, sekarang giliranmu.”

“Tapi, Om……..”

“Pergilah, tak apa-apa. Nanti kita gantian….”

Aku berlalu menuruti arahan yang diberikannya. Berdiri di pertigaan sambil menunggu lampu menyala merah dan kenderaan berhenti. Aku pun bernyanyi.

Benar saja, beberapa pengendara memasukkan recehan ke dalam kalengku. Ada juga yang uang ribuan. Saking senangnya, aku berlari meninggalkan lampu merah, dan menunjukkan hasil yang kudapatkan kepada Om yang duduk bersantai sambil mengepulkan asap rokoknya.

Mungkin ia sudah begitu kenal dengan diriku. Dan lantas menemukan kelemahan-kelemahan yang tertanam dan terpendam yang ia bisa manfaatkan kapan saja. Demikian menjadi awal bagiku mengenal dunia mengamen.

Lama-lama aku merasa capek dan bosan karena harus bernyanyi puluhan kali dalam sehari. Hitung saja berapa kali lampu merah menyala. Aku penuh kepolosan mengadukan keluhanku kepada Om Keriting dan disambut dengan nasihat lembut dan meredamkan segenap kekesalan yang seharusnya kutumpahkan padanya.

“Itu karena belum kuceritakan bagaimana susahnya aku membesarkanmu. Dan Om tak pernah mengeluhkannya. Malahan Om senang. Harusnya kau juga begitu.”

“Tapi, Om…..panas……suaraku hampir habis……”

“Ah, nanti malam juga kau, kan, istirahat.”

“Om…..”

“Ya, apa ?”

“Hmm…..Tapi…..Om, janji tidak akan meninggalkanku, kan?”

“Tidak. Tidak akan.” Ia mengerti perasaanku, kemudian mengantarku ke dalam dekapannya.

“Om, janji, ya!” kataku sekali lagi. Namun ia tak berkata apa-apa selain mengelus-elus rambutku. Layaknya anak kandung, ia memperlakukanku sepenuhnya dengan kebaikan.

Akan tetapi, aku hanyalah seorang anak kecil berusia delapan tahun. Lugu dan bodoh. Hanya saja, jangan salah, seperti yang pernah dikatakan Om, aku boleh marah dan sedih. Yang tak boleh adalah membunuh.

Bagiku, membunuh bukanlah dosa besar karena hanya mengantarkan seseorang ke dalam penjara. Itu hanya bagian kecilnya. Hal yang dianggap dosa besar adalah berpura-pura terlihat baik, ramah, dan peduli, namun pada kenyataannya hanya memanfaatkan kelemahan kita. Memberikan senyum termanisnya, lalu mencelupkan racun mematikan ke dalam hidup kita. Maka tak oleh percaya atau bergantung kepada orang lain, demi apa pun.

*Bersambung…

    Latest posts by Sammad Hasibuan (see all)