Bukan Teologi Bencana

Bukan Teologi Bencana
Ilustrasi: News Vanni

Saya sedikit nganu dengan postingan-postingan media sosial yang menyikapi bencana alam dengan nada sinis, pesimisme, blaming the victims, hingga nada politis seperti yang terjadi pada gempa NTB dan Sulawesi Tengah.

Nada-nada ini juga kerap terdengar di beberapa obrolan warkop dan posko-posko.

Seorang kawan yang pernah hidup merantau di Lombok bercerita bagaimana “jahatnya” sebagian orang Lombok. Jumlah masjid berbanding sama dengan tingkat kejahatan. Sehingga, bagi rekan saya itu, masyarakat Lombok layak mendapatkan kutukan Tuhan.

Pada kejadian Sulawesi Tengah, seorang yang anaknya menjadi korban sempat mampir dan ngobrol. Ia pun menceritakan bagaimana kufur dan syiriknya festival tahunan di Palu. Sehingga, bagi dia, gempa dan tsunami adalah sepadan. Gempa dan tsunami yang hanya berselang beberapa jam sebelum perhelatan diselenggarakan adalah kutukan Tuhan.

Sebuah video pendek di YouTube, diproduksi oleh salah satu siaran TV Islam yang memiliki cukup banyak pengikut, juga menyajikan beberapa ayat-ayat suci untuk menghukumi. Bahwa bencana karena dosa-dosa manusia dan korban adalah orang-orang terkutuk.

Melalui video pendek itu, ia mengimbau agar orang-orang segera bertobat dan menyembah Tuhan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Beragam kasus, contoh, kejadian, teori hingga ayat-ayat suci bermuara pada imbauan pertobatan dari dosa-dosa. Konsekuensinya adalah blaming the victims, menyalahkan si korban.

Dalam studi sosiologi, menyalahkan korban adalah kesalahan diagnosa sosial. Sedangkan dalam ilmu logika, ini adalah fallacy, kesalahan berpikir.

Bagaimana duduk perkara sebenarnya?

Tentu saja “perkara sebenarnya” dalam interpretasi saya sendiri. Jika tidak sepakat, maka itu hak siapa pun, selama ada interpretasi yang lebih saleh dan beriman. Hehe..

Telah jelas bahwa alam semesta ditegakkan dengan berbagai hukum-hukum, demikian halnya dengan masyarakat. Kehendak Allah SWT mewujud melalui hukum-hukum itu. Jika siapa pun melompat dari lantai 20, maka—tidak peduli Anda beriman atau tidak—tetap saja akan remuk. Hukum Tuhan itu disebut gravitasi.

Kecuali jika Anda memiliki “sebab lain” yang dapat meringankan tubuh atau mengurangi beban tekanan bobot tubuh. “Sebab lain” itu juga adalah hukum Tuhan. Dengan kata lain, Anda berpindah dari satu hukum ke hukum yang lain.

Salah satu prinsip yang paling mudah kita pahami dari tegaknya alam semesta adalah keteraturan dan keseimbangan. Keteraturan dan keseimbangan bahkan menjadi bukti-bukti telanjang tentang adanya pengatur yang berujung kepada Maha Pengatur, Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang diutarakan oleh filsuf-filsuf ketuhanan.

Gempa, tsunami, likuifaksi, atau kejadian katastrofi lainnya karena hukum-hukum atau sistem Tuhan yang diberikan terus berlaku. Berhenti berarti kiamat.

Sejarah bumi memberikan informasi yang melimpah pada kita bagaimana katastrofi dari masa ke masa terus-menerus mengubah wajah bumi. Benua yang dulunya satu lalu terpisah menjadi gugusan-gugusan, pulau, dan selat-selat baru. Kepunahan beberapa tumbuhan, spesies hewan, hingga hancurnya peradaban-peradaban tua, dan seterusnya. Itu adalah perkara alamiah karena alam semesta memang diatur demikian dengan hukum-hukumNya.

Saat yang sama, perkara-perkara keterlibatan manusia juga terus berjalan. Erosi karena penebangan hutan yang berlebihan, aktivitas pertambangan yang tidak ramah lingkungan, perkebunan, dan pembakaran hutan. Tata kelola air yang buruk menyebabkan kekeringan dan banjir. Alam semesta mencari jalan keseimbangannya sendiri.

Semburan lumpur Lapindo juga adalah bukti bagaimana bencana lahir dari kegagalan kreativitas manusia. Sang pelaku tentu harus bertanggung jawab. Pelaku, sang pemilik saham dominan masih menjadi orang terkaya di negeri ini dan masih sehat walafiat tetapi masyarakat yang terkena imbas? Itu bukan salah Tuhan, tapi salah manusia sendiri.

Crane yang jatuh di Arab Saudi pada tahun 2015 menimpa ratusan orang yang beribadah karena keteledoran manusia. Semua itu adalah bencana yang disebabkan oleh manusia sendiri. Anda Islam atau tidak, jika mengelola bumi atau apa pun dengan cara serampangan, maka tetap saja akan kena akibatnya. Itu adalah ketetapan Tuhan melalui hukum-hukumnya.

Semestinya gempa, tsunami, atau bencana-bencana alam lainnya membuat kita berpikir. Memaksimalkan seluruh kemampuan untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik dalam artian memaksimalkan potensi epistemologis untuk menggalakkan penelitian dan pengkajian guna menemukan teknologi yang tepat.

Contohlah Jepang, penemu kata “tsunami”. Bangunan Jepang saat ini didesain khusus agar ramah terhadap gempa. Pesisir-pesisir Jepang telah dilengkapi teknologi-teknologi yang dimaksudkan meminimalisasi korban saat terjadi tsunami tiba-tiba.

Setiap hari bumi mengalami gempa dalam skala-skala yang kecil karena lempeng bumi terus bergerak. Pergerakan dengan skala tertentu itulah yang menyebabkan jatuhnya korban.

Teknologi semestinya mampu menjawab itu. Bukan seruan-seruan pertobatan seperti zikir-zikir akbar yang dilakukan oleh beberapa daerah. Masih ingat acara-acara zikir menjelang ebtanas yang biasanya berakhir dengan kesurupan massal sesaat setelah ulangan? Kalau tidak belajar juga, apa gunanya.

Indonesia secara umum adalah negara dengan kerawanan gempa yang tinggi di dunia karena posisinya di atas beberapa lempeng bumi. Pergerakan lempeng dari benua lain terus mengarah kepada kepulauan nusantara. Maka baiknya pemerintah dan masyarakat secara umum, setelah berzikir, menata kurikulum pendidikan dengan baik. Sebagamana Jepang yang mengalami kurang lebih 1000 kali gempa tiap tahun, anak-anaknya telah diajarkan tindakan saat terjadi gempa dan penelitian teknologi gempa terus digalakkan. Bukan malah membuat pseudo kesadaran religius bahkan menghardik dengan segala stigma yang berlebihan.

Jadi mari proporsional berpikir. Bencana alam tak otomatis adalah kutukan Tuhan. Yang selamat dan tidak mengalami bencana tak otomatis orang yang dirahmati. Tampilkanlah Tuhan sebagaimana yang Tuhan inginkan bahwa kasih sayangNya mendahului murkaNya. Bukan sebaliknya.

*Tulisan ini saya persembahkan untuk relawan Karaparapa Management yang saat ini berada di Sulteng, seluruh organisasi dan komunitas yang turut terlibat dalam penggalangan dana gempa tsunami Palu, serta seluruh masyarakat Pangkep dan sekitarnya yang telah berdonasi di posko kami.

Muhammad Ramli Sirajuddin
Muhammad Ramli Sirajuddin 3 Articles
Penggiat Pluralisme, Nasionalisme & Spiritualisme di Human Illumination