Buku, Perempuan, dan Pesta

Buku, Perempuan, dan Pesta
©Fimela

Dalam hari-hari yang panjang berkelindan menggurui waktu, laki-laki itu tidak pernah tidur pulas semalam. Seorang ayah menengadah di tengah kota demi hidup yang timpang, sementara tidak tahu diri kita berserah kepada nasib.

Kadang hidup persis seperti yang digambarkan Tompi dalam Selesai, atau persis seperti yang ditulis Nietzsche dalam Zaratustra. Aku tidak pernah tahu pasti, sebabnya kita selalu bertanya.

Ada yang bertanya tentang seorang lelaki yang tidak pernah pulang semalaman, atau tentang mengapa Locke berbicara mengenai demokrasi.

Begini, kujelaskan di telingamu, sebagian orang yang hidup dalam berita menganggap kebebasan adalah seperti yang diutarakan Lincoln, padahal sebenarnya semua itu adalah bagian dari kita yang menghendaki sebuah kepastian. Demokrasi adalah kehendak akan sebuah kepastian, sebab hak alamiah yang diutarakan Locke adalah substansi dari apa yang kita gelisahkan selama ini.

Kegelisahan itu pun kemudian mengantarkan Fukuyama dalam The End of History and Last Man, kemudian Huntington dan hingga kini kita tetap terus bertanya.

Kemudian kata-katamu yang manis terucap dari bibirmu yang basah bekas kecup semalam, dan tentang diri yang mulai tenggelam di dalam gemerlap pesta. Saban hari aku melihat kesedihan yang menggantung di matamu, murung lelaki bodoh menghitung sesal, tersesat di pikirannya sendiri.

Sayang, aku tidak tahu mengapa Wahid membunuh masa mudanya kala itu, atau tentang mengapa Anwar bicara mengenai binatang jalang. Aku tidak tahu pasti.

Mungkin mereka sedang gelisah memikirkan hidup yang tak bisa dibeli atau sama halnya sepertiku yang mulai kembali kepada sunyi dari hidup dan cinta yang ditinggal pergi.

Raden Putra
Latest posts by Raden Putra (see all)