Cerita dari Seberang

Cerita dari Seberang
©VOA

Sebuah cerita dari negeri seberang…

Di bawah rezim otoriter—penguasa lalim dan sentralistik—eksploitatif, rakyat tidak ubahnya orang hukuman. Setiap gerak langkahnya terkontrol dan terbatasi. Penguasa adalah sumber dari segala sumber, baik hukum maupun “kebenaran”.

Hukum tersusun bukan untuk menciptakan keadilan dan kepastian, melainkan menjadi pengawal konstitusional tindakan-tindakan kekerasan penguasa. Dengan produk hukum tersebut, penguasa bukan hanya terhindar dari suatu tanggung jawab, melainkan juga memiliki kekebalan (hukum dan politik). Sehingga pelanggaran kemanusiaan yang penguasa lakukan menjadi tidak tersentuh.

Instrumen keadilan seperti pengadilan telah terkontaminasi, cemar, dan menurun pamornya (rakyat bukan bangga atau berjalan tegak bila pengadilan memanggil, tetapi terliputi rasa cemas). Ketakutan rakyat terhadap lembaga pengadil adalah bukti nyata dari keadaan ini.

Pengadilan bukan menjadi ajang dari pembuktian, pembenaran, dan pencarian keadilan, sebaliknya menjadi stigma. Siapa pun sangat sulit lolos dari jerat hukum dan sulit mencari atau menemukan keadilan. Mafia peradilan, koneksi, dan lain-lain merupakan bukti nyata bahwa keadilan hanya milik dari golongan the have.

Jika belakang ini berkembang tindakan-tindakan kekerasan dari massa rakyat (pengadilan rakyat), hal itu tidak lain dari suatu reaksi sosial-historis atas ketidakadilan yang tengah berlangsung sedemikian akut. Singkat kata, penguasa menjadi makhluk yang setara dengan pencipta kehidupan atau tuhan.

Penguasalah yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh rakyat lakukan; apa yang baik dan apa yang buruk; apa yang benar dan apa yang salah. Semua itu berdasarkan secara sepihak oleh penguasa—bahkan hingga urusan yang paling pribadi, seperti keyakinan religius, seksualitas, dan lain-lain.

Penguasa mengembangkan banyak argumen untuk membenarkan tindakan-tindakan paksa yang ia lakukan. Sementara itu, kontrol dan argumen balik dari rakyat akan ia tebas.

Pengusa mengatur keyakinan apa yang boleh rakyat anut; buku apa yang boleh rakyat baca; kapan boleh berhubungan seks; sampai pada lagu apa yang seharusnya rakyat nikmati. Rakyat harus tunduk—setiap penolakan akan ia pandang sebagai tindakan politik yang berarti pula ancaman keselamatan diri.

Baca juga:

Keadaan ini menjadi parah dengan hilangnya fungsi kontrol (yang kita harapkan datang dari kaum terdidik/intelektual). Bukannya mengambil jarak dengan kekuasaan, mereka malah tidak ubahnya kerbau dungu. Mereka bekerja bukan atas dasar nurani dan kecerdasannya, melainkan bekerja atas dasar pesanan dari penguasa.

Istilah ABS (asal bapak senang) yang berkembang pada masa yang lalu kini mulai viral kembali. Maka jangan heran bila di sekeliling penguasa terdapat begitu banyak intelektual yang siap menyediakan dalih bila penguasa mendapat gugatan atas perbuatan cela yang ia laku.

Mereka juga terlatih memberi dasar keilmuan untuk kekerasan, kekejaman, dan ketidakadilan. Walau tidak semua kaum intelektual terlibat dalam skandal ini, namun sebagian besar ada di pusarannya.

Penguasa dalam proses ini tidak hanya mereka yang ada di dalam lingkaran kekuasaan, melainkan juga para pendukung tidak langsung. Oleh sebab itu, di bawah penguasa yang lalim, rakyat hidup seperti di dalam rumah kaca, yang setiap geraknya terawasi. Bila mereka menyinggung masalah penguasa, maka dengan segera suara ia turunkan volumenya atau berubah menjadi seperti orang berbisik.

Lantas apa yang paling buruk dari situasi ini? Tidak lain ialah matinya demokrasi. Demokrasi hanya menjadi slogan atau konsep yang sudah terkebiri, termandulkan, atau termanipulasi.

Tanda matinya demokrasi seyogianya telah terpapar jelas, yaitu ketika rakyat menjauhkan diri dari kehidupan nyata sebagai warga negara. Mereka tidak ubahnya makhluk asing di tanah airnya sendiri.

Penguasa dan rakyat ibarat langit dan bumi. Keduanya berjalan sendiri-sendiri (bertindak tidak saling terkait,). Namun hal ini hanya berlaku bagi rakyat.

Halaman selanjutnya >>>

Jekson Berdame
Latest posts by Jekson Berdame (see all)