Cerita dari Warung Mak Icih

Cerita dari Warung Mak Icih
©MutualArt

Warung Mak icih begitu ramai, dijejal bapak-bapak pengangguran dan ibu-ibu berbadan besar yang saling comot gorengan di atas loyang. Bergantian mengacungkan tangan memesan minuman. Selain memang untuk menikmati yang disajikan, mereka memiliki tujuan lain, yakni menanti datangnya Sunyoto, pria tidak waras yang kerap datang dengan berita luar biasa bagus, gosip seputar pezina kampung. Ia akan mendapat perhatian kalau mulutnya sudah mengawali kata, “Kalian tahu tidak?” dan disambung menyebutkan nama salah seorang yang tengah mengandung.

Ajaib memang Sunyoto itu, bisa menebak orang hamil sekaligus mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi. Kalau kasusnya terjadi pada pezina, dia bisa tahu siapa pelaku, alias bapaknya, tapi dia tak mau menyebutkan, dengan bahasa begini: “Kalau aku beritahu semua, artinya aku melangkahi Tuhan.”

Orang-orang pun tak mau mendesak, karena sebentar dari itu kabar susulan mengenai identitas sang bapak terkuak dengan sendirinya. Kali ini Sunyoto datang dengan buru-buru. Membuka kata sesuai yang diharapkan pengunjung warung. Apa lagi dia sudah lama tidak muncul, kabar yang ini dipercaya akan mencengangkan.

“Eh, kalian tahu tidak?” Orang-orang merapat, menggeleng bersamaan. Semua menelan makanannya bulat-bulat. Tidak mau tersedak saat mendengar cerita Sunyoto.

“Mau minum dulu, To?” Mak icih menjeda keseriusan. Sunyoto yang memang tak waras malah minta sekalian dengan makanan, lauk lengkap. Kemudian menyantapnya tanpa merasa ditunggu. Orang-orang tak bisa jengkel, mereka tahu keharusan mengharap pada yang tidak waras adalah bersabar.

“Si Meri anak Mak Wati hamil.” Sunyoto bicara di sela mulutnya penuh makanan, membuat suasana gaduh seketika. Orang-orang terkejut bukan main. Karena semua tak percaya, Sunyoto menekankan dengan juga menyebut posisi rumah. Serempak orang-orang mengatakan tidak mungkin karena setahu mereka Mak Wati baik, Pak Supri alias bapaknya Meri juga pemuka agama. Meri sendiri bocah yang lugu, dikenal tidak pernah pacaran. Tidak ada alasan yang bisa mendukung ucapan Sunyoto menjadi benar.

“Meri di kampung kita banyak. Tidak salah perhitungan kamu, To?” Salah seorang mendesak. Sunyoto menggeleng mengulang kata.

“Yang pantas hamil itu Merinya Mak Duni. Dia kan yang sering keluyuran bareng lelaki, nginap berhari-hari.” Sunyoto tak memberi respons, membuat orang-orang berada di antara garis ragu dan yakin. Mulailah itu mereka menerka-nerka kejadian sebelumnya, saling dikaitkan untuk menarik kesimpulan.

Tapi belum lama, seorang bernama Agung, pengunjung warung yang tidak ikut berkerumun itu memberi Sunyoto bogeman mentah. Hingga Sunyoto jatuh, makanan tumpah. Agung tak bicara, dan Sunyoto mengutuk.

“Membela kesalahan diri, mencoba hidup seperti mati!”

**

“Mana Meri?!” Suara Agung menggema jadi seisi rumah. Membuat penghuninya berkumpul di ruang tamu. Kecuali yang dicari.

“Ada apa toh, le?” Mak Wati pelan-pelan bertanya, tidak mau menambah emosi Agung yang tergambar jelas di wajahnya.

“Meri mana?! Meri!”

“Kamu ini apa-apaan toh, ke orang tua kok tidak ada sopannya. Meri tidur di kamarnya, tidak enak badan. Tidak usah teriak begitu, langsung datangi.” Sule mengomel, tidak terima ibunya dimarahi.

Agung yang teracak-acak menuju kamar diikuti oleh seisi rumah, ingin tahu apa yang akan Agung perbuat pada Meri, anak lugu itu. Agung langsung mendobrak pintu dengan kasar, abai peraturan rumah soal mengetuk pintu dan baru boleh masuk setelah mendapat izin. Ia segera masuk dan langsung menarik Meri yang duduk bersila di lantai untuk berdiri.

“Jawab, Mer, siapa bapaknya?!” Kalimat pembuka yang keluar dari mulut Agung membuat semua orang terkejut. Kalimat yang mudah dipahami. Meri si pendiam tertunduk tidak menyangkal, anggota rumah tak berpikir Meri pasrah atas tuduhan Agung.

“Jawab, siapa bapaknya?!” Meri mulai menangis. Tubuhnya terguncang.

“Ada apa, le?” Mak Wati menanyakan hal yang sudah dipahaminya dengan suara bergetar. Agung tak menjawab, mengangkat botol minuman di lantai.

“Kenapa ada soda di sini? Mau kamu gugurkan kandunganmu?!” Suara agung kian meninggi, Sule memegangi Mak Wati yang hampir saja tumbang, entah apa yang akan terjadi jika mendengar pernyataan Meri, atau kata apa pun dari mulut Meri. “Mer, jawab! Jawab aku!”

“Jawab, Mer, biar mas tidak tambah marah, hm?” Hanum mencoba halus. Sebagai kakak, ia tidak boleh seperti Agung yang mengandalkan emosi.

Baca juga:

“Kamu dapat kabar itu dari mana, mas? Jangan-jangan itu tuduhan, alih-alih percaya adik sendiri, malah menginterogasi mewakili warga.” Sule belum menunjukkan keberpihakannya pada Agung.

“Meri itu trending di kampung. Dari jalannya sudah beda katanya, bibirnya pucat dan dia juga tidak menghadiri acara muda-mudi. Dia menghindar dari khalayak!” Agung tidak lagi menjelaskan, ia mendesak Meri. Hanum ikut mendesak sedikit, berharap banyak pada Meri, tidak ingin suasananya makin keruh.

“Jujur, Meri….” Sekali lagi Agung berteriak, membuat Meri mendongak dan menampar wajahnya.

“Diam mulutmu, mas!” Baru kali ini semua mendengar suara Meri dilantangkan.

Nduk, pelan-pelan.” Dari pintu Mak Wati memperingati, tidak ingin melihat anaknya bertengkar. Meri menyeka air matanya, menarik pergelangan tangan Agung untuk diletakkan di perutnya.

“Di sini, mas,” katanya dengan napas memburu, “Hidup jabang bayimu. Bukan Ningsih yang kau tiduri, tapi aku.” Ruangan menjadi hening.

    Sinta Nuria
    Latest posts by Sinta Nuria (see all)