Cerita Orang Biasa

Cerita Orang Biasa
©FB/zoelf.achbar

Bagiku, membelanya saat itu adalah membela asa orang-orang biasa. Maka, aku bangga jadi orang yang jadi bagian yang membantu sesama orang biasa.

Sebab, selama ini, di sekelilingku, banyak yang terkesan memaksa pandangan bahwa semestinya orang-orang biasa itu harus tetap biasa-biasa saja.

Mereka menikmati dongeng bahwa yang pantas menjadi raja hanya anak-anak raja. Terlalu menikmati dongeng ini, hingga mereka sendiri memilih bertahan dalam sudut pandang; jika aku lahir dari rahim keluarga miskin, sudah pantas jika aku juga tetap miskin.

Alhasil, tidak ada daya dorong dari dalam dirinya (pikiran dan keyakinan) untuk bisa melompat lebih jauh.

Jadi, saat mereka berada di satu titik, mereka tetap di sana, dan hanya menghibur diri dengan cara salah; berkeluh kesah hingga menabur sumpah serapah.

Alhasil, mereka lebih gemar membela orang yang lebih kuat, lebih kaya raya, lebih berbau raja.

Di mata mereka, orang biasa tidak pantas berada di tempat yang tidak biasa. Jadilah diri mereka sendiri terpapar keyakinan, bahwa perubahan menyakitkan, menakutkan, hingga tidak berani berubah; memecahkan “cangkang telur” dan mengepakkan sayapnya, agar sayap-sayap makin menguat, dan melihat karya Tuhan lebih jauh.

Aku sendiri memilih berada di tengah orang-orang biasa, keturunan rakyat biasa, untuk memimpin sesama rakyat biasa.

Ya, agar bisa saling belajar karena sadar bahwa untuk berkembang butuh pengetahuan. Bisa saling menguatkan karena kelemahan cenderung mematikan. Saling berbagi inspirasi karena perubahan tidak terjadi jika ide-ide dan inspirasi mengering.

Juga, agar bisa saling mengingatkan tanpa rasa sungkan. Mengingatkan, jangan melupakan peta di mana tujuan, dan mana saja jalan mesti ditempuh, dan seberapa besar tenaga yang kita butuh. Sebab, tujuan cuma bisa diraih dengan kemauan berpeluh; bukan sekadar mengeluh.

Baca juga:

Hari ini, beliau yang lahir dari rahim rakyat biasa ini kembali dilantik jadi pemimpin, mewakili asa masyarakat biasa.

Ia mewakili semangat orang biasa agar tetap menyala; bahwa meskipun kaulahir dari rahim seorang ibu rakyat biasa, makan dan tumbuh dari keringat ayah dari seorang lelaki rakyat biasa, kaubisa saja meraih sesuatu yang tidak biasa.

Kehadirannya adalah kehadiran asa bagi rakyat biasa.

Kelak, anak-anak kita masyarakat biasa ini punya contoh, bahwa rahim rakyat biasa bisa melahirkan sesuatu yang tidak biasa.

Kalau kata Drew Barrymore, seniman kelurahan sebelah, “Everyone is like a butterfly, they start out ugly and awkward and then morph into beautiful graceful butterflies that everyone loves.”

Ya, kita semua memang seperti kupu-kupu. Di awal kehidupan, kita acap diremehkan. Tapi ketika ulat menjadi kupu-kupu, banyak mata menatap dengan rasa terpesona.

Joko Widodo adalah orang biasa yang juga menegaskan itu. Ia sering diremehkan, direndahkan, tapi Tuhan punya banyak cara untuk mengangkat sosok yang lahir dari rahim seorang ibu yang senang mendoakan ketika ia dihina.

Ia lahir dari rahim ibu yang senang memberikan senyum kepada banyak orang yang menebar kebencian.

Bahkan buat mereka yang pernah menghinanya, ia pernah berucap begini, “Tidak apa-apa saya dihina. Itu biasa saja. Nggak perlu dibalas. Kalau nggak mau dihina, ya saya nggak usah jadi presiden. Nggak ada pemimpin yang nggak dihina. Toh, kita cuma manusia biasa, kok,” katanya.

Zulfikar Akbar