Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Ilustrasi: IST

Kata yang demikian agung, kata yang demikian suci, kata yang demikian puitis, kata yang demikian berkilau laksana bintang yang berpendar di langit malam ialah cinta. Dan cinta yang tidak bersyarat ialah cinta yang kedudukannya paling tinggi dan terhormat. Cinta lebih tinggi dari surga dan lebih terhormat dari tahta, seperti cintanya seorang ibu pada anaknya.

Sore itu, dari balik jendela, kulihat cahaya matahari mulai pudar. Semilir angin berhembus mesra membelai rambut dan jidatku yang dibungkus perban.

Seperti hari-hari lain, sebelum petang, sebelum azan berkumandang, dan sebelum sembahyang, aku sibuk membaca koran sambil merenungi hidup sebagai anak muda. Merenungi sebuah pertanyaan yang terus berulang-ulang mempertanyakan eksistensi sebagai manusia dan sebagai seorang yang melek pendidikan tentunya.

Pertanyaan yang menggangguku dari dulu hingga kini. Untuk apa aku dilahirkan ke dunia? Apakah hidup hanya untuk mencari makan, sembahyang, beranak-pinak, dan mati?

Pertanyaan itu mengganggu hari-hariku. Pertama kali pertanyaan itu menyerangku ialah empat tahun yang lalu semasa masih duduk di bangku kuliah. Seperti sebuah perenungan yang mempertanyakan eksistensi sebagai mahasiswa, sebagai kaum terpelajar, dan sebagai anak muda yang masih panas aliran darahnya.

Hingga pada akhirnya, di atas pengetahuanku yang masih hijau, di atas renunganku yang belum arif memandang haluan hidup, kupilih jalan sunyi yang jarang dilalui, yakni menjadi aktivis liberal atas dasar human universal.

Hingga pada suatu hari kakakku datang ke Kota Jakarta untuk menjemputku pulang. Dari mulutnya aku memperoleh sebuah alasan kenapa diriku diminta untuk pulang. Katanya, Abah di rumah marah besar saat mendengar aku di Kota Jakarta menjadi aktivis liberal.

***

Masih segar dalam ingatan, saat itu, di ruangan keluarga yang minimalis, Abah dan Ummi sudah menungguku dengan wajah yang tegang. Tangannya masih memegang tasbih sebagai lambang kesucian hati, lengkap dengan peci hitam dan sarungnya masih menempel sejak dari pagi buta, bahkan sebelum mentari memincingkan matanya.

“Abah tak percaya dengan hal ini, yang selama ini Abah takutkan kini menjadi kenyataan. Bahkan yang lebih memilukan lagi pelakunya adalah anakku sendiri. Abah menyuruhmu kuliah di Universitas Islam Kota Jakarta supaya kau dapat meneruskan posisi Abah sebagai pengasuh pondok pesantren, meneruskan perjuangan Abah layaknya jalan yang sedang digeluti kakakmu. Tapi, kau malah tersesat memilih jalan yang Abah benci. Liberal itu sesat,” kata Abahku.

“Abah, apa yang salah dengan liberal?” tanyaku pendek.

“Mengampanyekan persamaan gender, bahwa perempuan dan laki-laki itu duduk sama dan berdiri pun sama, memperbolehkan perempuan melakukan ‘ini dan itu’ serta mengakui semua agama itu sama, apakah itu bukan sesat? Bahwa salat sosial itu lebih penting dari salat ritual, apakah itu namanya tidak kebelinger?”

Pertanyaan yang klasik, pertanyaan yang terus diulang-ulang oleh sebagian orang yang masih menganggap Islam adalah agama eksklusif, sedangkan agama yang lain inklusif. Inilah pikiran purbasangka yang kini masih terpercikkan oleh sebagaian orang Islam fundamentalis yang gemar menuduh, latah, dan picik, termasuk Abahku sendiri.

Tapi, untuk menghormatinya, aku hanya diam. Menjawabnya pun percuma. Sebab, Abahku dan kebanyakan sebagian orang seperti katak dalam tempurung.

Tidak berhenti sampai di situ, tenggorokan Abahku sepertinya belum kering untuk menceramahiku.

“Islam adalah agama yang paling benar. Semua ajarannya tidak perlu lagi diragukan, bahkan ilmu pengetahuan pun hanya butiran debu bila ditimbang bibit-bobotnya. Tapi, kamu di Jakarta nyerocos bahwa semua agama sama saja, hanya nama Tuhannya saja yang berbeda. Kalau begitu, Khalil Gibran, Shakespeare, dan Socrates yang kau idolakan itu, juga seorang nabi yang diutus dari langit?”

Abah tak tahu bahwa bangsa kita adalah bangsa majemuk yang menjunjung tinggi kebhinekaan. Seharusnya mari bersenandung dalam damai merayakan keragaman. Sebab, bila hanya ada satu agama yang menjulang tinggi ke langit sedang yang lain terbenam ke dasar bumi, itu bahaya bagi antar pemeluk agama satu dengan yang lain.

Dalam teori Transendent Unity of Religion bahwa agama diletakkan sejajar tanpa ada yang dipandang berbeda. Yang berbeda hanya nama-nama Tuhannya, hanya cara ibadahnya, dan segala bentuk ritual lainnya. Semua agama mengajarkan kebaikan.

Agama laksana piramida, di mana berbagai jalan menuju puncak yang sama. Semua agama adalah sebuah jalan yang sah menuju Tuhannya. Lagi-lagi jawaban yang sudah kusiapkan ini hanya kusimpan di dalam hati.

Bagiku, menghadapi cara pandang macam Abahku sudah terbiasa. Mereka sama-sama susah diberi penjelasan dengan pendekatan yang ilmiah dan humanis. Kesimpulannya, apa-apa yang sudah dikhotbahkan Abahku hanya dilihat dari kacamata subjektif, dari sudut pandang agamanya sendiri.

Pemikiran seperti ini pada akhirnya akan melahirkan standar ganda dalam memandang agama. Menurutku, ini bahaya dan mengerikan, karena pemahaman ini juga yang menyebabkan tumbuh suburnya ormas-ormas berpaham radikal dan intoleran.

“Sekarang kau tak usah pergi ke Jakarta. Abah tak mau mendengar, membaca, dan melihatmu bersentuhan dengan bau busuk liberal,” katanya lagi.

“Tidak bisa, Abah,” jawabku pendek.

“Kalau kau tetap keukeuh akan berangkat ke Jakarta dan tetap dengan pilihanmu, maka silakan pergi, namun jangan pernah kembali lagi ke rumah ini.”

Aku hanya tertegun mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Abahku sendiri. Aku hanya menangis tak mampu mengecupkan satu kata pun.

Sebelum aku berdiri, sebelum aku pergi dan tak lagi kembali, kucium tangan ummi yang sedari tadi hanya menangis, sebagaimana satu-satunya keahlian yang dimiliki oleh seorang perempuan, oleh seorang ibu utamanya, oleh seorang istri yang hidup di bawah bayang-bayang seorang suami yang dilindungi oleh agama.

***

Empat tahun telah berlalu, meski berjalan sedikit lebih lambat seperti jalannya keong yang merambat. Sekarang aku menetap di Kota Jakarta bersama seorang perempuan, tepatnya dengan istriku. Gelar master telah kuselesaikan. Kini aku mengajar sebagai dosen di universitas swasta, Tangerang, Banten.

Namun, pada suatu hari sebuah tragedi terjadi, sebuah peristiwa yang patut disayangkan dilakukan oleh umat beragama. Kejadian yang pada akhirnya menghantarkan diriku bertemu dengan orangtuaku, kejadian yang membuatku berbaring seminggu lamanya di rumah sakit karena pendarahan di kepala akibat benda tumpul.

Tak ada bencana yang tidak mengandung hikmah. Dari tragedi itulah kupetik hikmahnya, yakni dipertemukan dan dipersatukan kembali dengan abah dan ummiku setelah bertahun-tahun bercerai-berai.

Sebuah tragedi yang baru berusia sepuluh hari, tepatnya tanggal 1 Juni 2008. Hari Minggu yang kelabu bagi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), yang pada awalnya akan melakukan aksi long march di hari Kelahiran Pancasila.

Namun, sebelum acara dimulai, ada kelompok ormas yang menyerbu, menerjang, mengamuk, memukuli komunitas AKKBB secara membabi buta. Salah satu korban dari kebiadaban ormas berbaju putih-putih itu adalah aku sendiri.

Hanya Tuhan yang tahu apa sebenarnya terjadi pada diriku di Monas. Saat itu, aku sudah tak sadarkan diri. Yang aku tahu, abah dan ummi sudah duduk menemaniku di ranjang pesakitan sebelum dibawa pulang ke kampung halaman.

Kini, aku dan istriku sudah tiga hari menikmati panorama keindahan kampung Bumijawa, asrinya hamparan sawah yang menguning, sungai yang mengalir gemercik seperti melagu.

Semilir angin membelaiku dengan mesra. Setelah membaca berita penyerangan ormas Islam di Monas, aku melemparkan pandangan mataku ke langit sore yang berwarna keemas-emasan.

Sebelum nyala matahari padam, sebelum petang datang, sebelum aku sembahyang, sore itu abah dan ummi juga istriku sedang berbincang di beranda. Seketika itu juga aku keluar dan ikut bergabung setelah melipat dan meletakkan koran di atas meja. Kemudian aku duduk di samping istriku, dengan suara parau aku berujar:

“Maaf, Abah, aku liberal.”

Abah hanya tersenyum mendengar pengakuanku tanpa menjawab satu kata pun.

“Tidak apa-apa, Nak. Mau komunis, liberal, atau apa pun itu, yang penting tidak merugikan orang lain, yang penting kau sehat, yang penting kau masih rajin salat, dan yang lebih penting dari itu kau tetap anakku,” sahut ummiku.

Barangkali inilah cinta yang tinggi, suci, agung, dan terhormat, yakni cinta tak bersyarat seorang ibu pada anaknya. Mendengar jawaban itu, saya hanya menangis meraung-raung dalam pelukannya.

___________________

*Klik di sini untuk membaca cerpen-cerpen lainnya.

    Latest posts by Arian Pangestu (see all)