Crescit in Eundo

Crescit in Eundo
©Pixabay

Judul di atas saya terjemahkan paling kurang begini, “Bertumbuh selagi berjalan”. Artinya, tidak pernah ada kata final, tiba, dan selesai dalam sebuah proses menjadi beriman.

Tidak sulit mengatakan dengan mulutmu bahwa dirimu mengimani Allah Tritunggal. “Saya beriman, kok!” Selesai! Titik. Diskusi ditutup.

Tetapi di hadapan tuntutan zaman dan gerak derap langkah peradaban bernama post-modernitas, mau tidak mau iman mesti dipertanggungjawabkan. Cinta harus diwacanakan. Rindu wajib diperbincangkan.

Jika filsafat berawal dari rasa kagum, heran, terpesona (philosophy begins with wonder), cinta berangkat dari kesan malu-malu dan perasaan gemas yang tak mau pergi begitu saja.

Bertolak dari perasaan seperti itu, Socrates mengajukan sebuah pertanyaan eksistensial, “Siapakah kita ini, manusia makhluk kecil, yang tampak tiada bermakna di tengah alam raya yang maha luas ini?”

Atau jauh sebelum Nabi Isa lahir, Nabi Daud dalam kekagumannya memandang langit dan gemintang sambil bertanya, “Siapakah manusia sehingga Engkau memperhatikannya?”

Demikian pula satu bait puisi “Wielka Liczba—Jumlah Besar” karya Wislawa Szymborksa membuat hati dan bibirmu bertukar getar: “Di antara miliaran manusia yang melewati sejarah/hidup hanya terentang sepanjang bekas cakar kita pada pasir/Di  ujung bekas cakar itu ada garis yang putus”

Kesan di atas mengingatkan tentang betapa kecilnya Anda dan saya di hadapan upaya untuk mencari pemahaman paripurna tentang Trinitas. Sama seperti Agustinus, pekerjaan paling sulit bagi manusia, selain ketololan mengeringkan air laut dengan cara memindahkannya ke dalam sebuah lobang kecil di tepi pantai, adalah menjelaskan konsep Allah Tritunggal.

Sejarawan Etine Gilson menulis, “Seseorang yang tidak suka pada apa yang bisa diketahuinya, dan yang tak pernah berpura-pura tahu akan apa yang bisa dipercaya, dan seseorang yang iman dan pengetahuannya bertumbuh menjadi satu kesatuan organik karena keduanya berasal dari sumber ilahi yang sama.”

Berangkat dari kesulitan konsep demikian, Tertulianus menyimpulkan, “Credo quia absurdum est.” Saya percaya sebab hal itu abstrak. Abstrak bukan berarti tidak ada. Ia hanya sulit dijangkau oleh akal dan tercakup dalam lafal. Ia ada namun memilih tak hadir. Betapa terbatasnya bahasa manusia!

Tentang Trinitas, saya menduga Anselmus dari Canterbury cukup tepat ketika menulis, “fides quaerens intellectum”—iman mencari pengertian atau iman yang berusaha untuk mengerti.

Meskipun ruwet, menjelaskan pemahamanmu tentang Trinitas itu wajib. Tapi, Anda perlu mawas diri mengingat “bukti berarti kematian iman,” ujar Karl Jaspers.

Itu artinya, Anda hendaknya menghindarkan diri dari kesimpulan saintik di samping tuntutan bahwa ilmu tentang iman harus bertindak secara ilmiah. Alasannya, biarpun iman akan Allah Tritunggal tidak pernah bisa diverifikasi oleh akal budi, namun ilmu tentang iman harus mempertanggungjawabkannya di depan akal.

Mengakhiri refleksi sederhana ini, saya terkenang akan Ludwig Wittgenstein, pada periode II ketika mengajar di Cambridge. Dalam pengantarnya untuk buku “Philosophical Investigation”, ia menulis demikian:

“Aku tidak ingin agar tulisanku menjerumuskan orang lain ke dalam keresahan berpikir. Tetapi, jika mungkin untuk merangsang orang untuk berpikir sendiri.”

Tetapi berpikir saja tidak cukup. Anda perlu memahami. Itu tentu saja butuh hati. Fisikawan Prancis, Blaise Pascal menulis, “Hati punya kemampuan yang kadang tidak dikenal oleh akal budi.” Oleh karena itu, sesuaikanlah otakmu untuk bisa mengerti apa yang sudah lebih dahulu dipahami oleh hati.

Hari Minggu setelah Minggu Paskah, 19 April lalu, Gereja Katolik merayakan Pesta Kerahiman Ilahi (Dives Misericordia).

Dalam kata bahasa Latin, “Misericordia” terbentuk dari kata “miseri” yang artinya penderitaan dan “cordia” yang berarti hati. Jadi, “misericordia” dipahami sebagai hati yang tersentuh oleh penderitaan manusia. Hati yang mudah tergerak oleh derita dan kesengsaraan. Hati yang peka pada hal kecil dan yang kadang luput dari perhatian.

Tentang bagaimana menempa hati yang peka, sebuah buku berjudul “Small Miracles” karya Halberstam dan Judith Leventhal merupakan salah satu contohnya. Di situ, diceritakan bagaimana keajaiban memilih hadir dalam peristiwa yang enteng. Bahwa Allah Tritunggal yang tak terbatas itu nyata melalui pengalaman manusiawi yang terbatas atau dalam fenomena yang remeh.

Untuk bisa memahami, Anda butuh hati. Sebab, bulan bergerak tanpa berisik dan kembang mekar dalam diam. Dibahasakan secara berbeda, bukan hanya Covid-19; sehelai daun yang jatuh mestinya membuat kita terusik.

Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)