Curahan Hati Mukhtar Amin Sebelum Mengakhiri Hidup

Curahan Hati Mukhtar Amin Sebelum Bunuh Diri
©Tharyn

Jagat maya dihebohkan dengan penemuan mayat bernama Mukhtar Amin, Selasa (3/9). Mahasiswa S2 Jurusan Mikro Elektronik ITB ini ditemukan tak bernyawa lagi dalam kondisi mengenaskan: gantung diri.

Sejumlah media massa pun memberitakannya. Disebutkan bahwa ia memilih mengakhiri hidup lantaran depresi yang akut.

Setelah menelusuri jejak-jejak digitalnya yang terangkum di Novo-Vacuum, tertulis di sana bahwa Mukhtar Amin sempat mengidap gangguan jiwa. Ia mengaku mengalami perasaan hati yang kian hari makin merosot. Semuanya tertulis dalam curahan hatinya berjudul Depresi.

Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu, aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

Dari sana kemudian bisa dipastikan bahwa penyebab dirinya menutup usia dengan cara tak wajar itu adalah benar karena depresi. Meski berhasil meraih gelar Sarjana Teknik, tetap saja ia sangsi bahwa rasa depresi itu benar-benar telah sirna.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi? Bagaimana aku bisa tahu? Aku tidak tahu.

Yang Mukhtar Amin tahu kala itu hanyalah bahwa dia punya kedua orang tua yang terus mendukungnya. Ada adik-adiknya yang melihat dan menyayanginya dari jauh. Ada teman-teman dan dosen-dosennya di kampus yang mengenal dengan baik.

Selama ada mereka, mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

Kontradiksi

Mukhtar Amin juga sempat bercerita ke kedua orang tuanya bahwa dirinya tidak ingin memiliki anak. Katanya, ia tidak ingin hidup berkeluarga karena muak.

Aku tak mengatakan kenapa. Aku bersembunyi di balik alasan ingin sibuk meniti karier dan mendedikasikan hidup untuk bekerja. Sebetulnya aku mengatakan itu karena aku muak dengan drama-drama dalam keluarga. Aku juga merasa sudah terlalu banyak manusia yang ada di bumi ini kenapa ditambah lagi?

Tidak berselang lama, ia lalu mengenal seseorang yang berucap kepadanya ingin punya sepasang anak. Ia melihat fotonya berbaring dengan seorang anak yang kecil, dan terlihat bahagia. Dari situ ia sadar, seseorang yang dimaksud tersebut ingin punya anak karena merasa anak memberikan kebahagiaan.

I was flipped. Aku tidak menyangka seseorang dapat membuatku berubah pikiran tentang hal itu. Aku tidak menyangka harapan dapat disalurkan dari seseorang ke orang yang lain. Dalam diriku muncul perasaan ke orang tersebut. Perasaan yang membuatku juga menginginkan anak seperti dia.

Kontradiksi pun mulai mengalir deras di tubuhnya. Di satu sisi, ia melihat dunia tengah dilanda krisis yang begitu hebat. Sudah terlalu banyak manusia hidup di bumi ini yang bikin sesak. Di saat yang sama, ia ingin menjadi fighter, warrior, yang turut memperbaiki dunia yang penuh kesesakan ini.

Aku ingin hidupku memiliki arti.

Terhantui Rasa Takut

Akan tetapi, lagi-lagi, Mukhtar Amin dihantui rasa takut. Ia yakin betul bahwa hidup di dunia ini begitu singkat, sangat singkat.

Dalam hidupku, aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan seseorang dan ketiadaan seseorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Ia takut kalau-kalau selama ini dirinya terlalu melekat kepada orang-orang yang mengenalnya. Ia takut sendirian.

Ketika aku depresi, aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Kala ia tiba-tiba merasakan depresi, di saat itulah ia merasakan ketiadaan jauh lebih baik daripada keberadaan. Tidak ada hal lain yang ia inginkan kecuali ketiadaan.

Maka, ketika ada temannya yang juga mengalami hal serupa, depresi, ia selalu ingin berusaha membantu. Apalagi kalau teman itu adalah orang yang paling ia sayangi.

Temanku, kamu tidak perlu khawatir. Kita akan lalui ini bersama-sama. Bukankah ini menakjubkan? Aku dan kau adalah makhluk yang sangat kompleks. Namun kita dapat bertemu dalam waktu dan tempat yang dekat seperti ini! Apabila keajaiban itu ada, bukankah inilah keajaiban?

***

Pupus sudah. Ia telah pergi, meninggalkan jejak:

“Terasa hampanya hidup ini; begini-begini saja,” tulis Mukhtar Amin di curahan hatinya yang terakhir, 3 September 2019.

Meski kurang berarti, itu harus jadi pelajaran kita bersama; bahwa hidup senantiasa harus kita jalani dengan rasa peka terhadap lingkungan sekitar. Berharap ke depan tidak ada sosok-sosok seperti dirinya di antara kita.

Sebab hidup begitu berarti. Jalani dan ciptakan irama-irama secara bersama agar tiada hampa. Kita songsong hari depan dengan riang tanpa beban.

Share!