Curhatan Kaum Pengkhayal

Curhatan Kaum Pengkhayal
©Blogspot

Sebelumnya, kenyataan seperti diselingkuhi adalah hal yang paling pahit di sepanjang hidupku. Efeknya melumpuhkan, dan mungkin bagi beberapa orang kehilangan nafsu makan dibuatnya. “Wanita yang kejam itu sangat lihai mengarang banyak cerita, dengan bahasa lemah lembut berusaha meyakinkanku bahwa dialah cintaku paling tulus dan setia.”

Aku sudah menaruh harapan besar kepadanya. Dan sialnya, ketika lelaki yang malang ini berharap besar kepada wanita berbisa itu, di situlah sumber rasa sakitnya. Harapan yang terlalu besar kepada seseorang dan harapan itu tak bisa tercapai atau bahkan dipatahkan, itu rasanya sesak, benar-benar sesak.

Wanita itu seperti penyihir di dalam cerita-cerita dongeng. Dia seolah meyakinkan anak-anak dengan permen bahwa dialah yang terbaik. Tak peduli seberapa manisnya senyum si anak, sebesar apa pun kepercayaan si anak terhadap dia, si penyihir tetap akan membuat si anak berakhir di dalam panci hitam yang menjijikkan. Mungkin seperti itulah wanita penipu itu, dia pintar menggoda, meyakinkan, tetapi setelah kau lengah karena terlalu percaya, di situlah pengkhianatan dimulai lalu ditusuk belati dari belakang.

Adakah yang paling sesak dari itu? Mungkin dari kita punya pendapat dan pengalaman yang berbeda, akan selalu banyak jawaban atas pertanyaan. Yang mesti kita cari adalah kesakitan yang berlangsung lama dan berdampak besar.

Diselingkuhi memang sesak dan sakit, tapi itu akan kembali normal dalam waktu satu tahun atau bahkan satu purnama. Tetapi sesak dan sakit yang ditimbulkan oleh kapitalisme jauh lebih lama, bahkan mungkin secara turun-temurun dirasakan. Artinya bukan hanya kita sekarang, tapi sampai ke anak cucu dan cicit kita nanti.

Dalam proses perburuan mencari keuntungan, ada banyak bujang, lelaki malang yang menjadi korban kehausan atas rezeki. Sebagai salah satu negara episentrum kapitalisme, Amerika Serikat acap kali terlibat dalam perburuan klaim atas minyak di Timur Tengah. Nah, dalam prosesnya ada banyak konspirasi yang dibuat seolah-olah Timur Tengah adalah sarangnya teroris. Lebih kejam dari wanita berbisa yang baru-baru ini sempat jadi pacarku.

Amerika Serikat muncul seolah dia adalah Iron Man, mendaku diri penegak kebenaran, pencipta kedamaian. Ya, mungkin wanita penipu dan Amerika Serikat ini sama, sama-sama mengarang cerita bahwa merekalah yang paling WOW.

Dengan alasan kedamaian, mereka melakukan penembakan, pengeboman di beberapa negara penghasil minyak di Timur Tengah. Terutama berhasil memantik konflik Syiriah dan Iran. Ada banyak lelaki ataupun wanita sudah tidak punya kesempatan untuk move on dari pacar yang telah menyelingkuhinya. Mungkin saja kepala dan tubuhnya sudah tidak tersambung lagi, karena tepat di atas tempat tidurnya bom dimuntahkan.

Di jalan, kau mungkin akan menemui anak-anak yang menangis tak ketulungan akibat orang tuanya mengembuskan napas secara tragis tepat di depan matanya. Di belahan dunia lain, orang mungkin terpesona dengan pidato petinggi gedung putih.

Hadirin sekalian, dunia ini benar-benar terancam oleh terorisme. Ada banyak kelompok yang senantiasa melakukan aksi kejinya di mana-mana. Tapi tenang saja. Itulah mengapa US angkat bicara. Kami berkomitmen untuk tetap terus menegakkan keadilan dan kedamaian di seluruh dunia.”

Itu terdengar indah, tetapi seperti itulah harusnya penipu, mereka memang pandai dalam mengarang cerita.

Akumulasi! Akumulasi! Akumulasi! Itu seperti tuhan yang disembah di dalam kapitalisme. Siapa pun yang menyangkal dan mencoba menghalangi itu, siap saja kau berakhir di dalam penderitaan. Hutan yang dulunya tempat di mana kita bercumbu dengan alam, membayangkan bibir pacar kita yang seksi, atau mungkin tempat di mana kawanan simpanse berkeliaran memungut kacang, sekarang sudah terancam, atau mungkin saja kondisinya mungkin sangat memprihatinkan.

Kapitalisme memang seperti itu. Penipuan dan penjarahan, sudah menjadi syarat sebelum mendapatkan nilai lebih

Salah satu ciri utama kapitalisme adalah melimpahnya produksi. Dan sumber melimpahnya produksi, diawali oleh proses komodifikasi tanah dan manusia.

Pada akhir abad 18 dan sampai awal abad 19 di Inggris, pernah sangat masif terjadi proses penjarahan tanah. Ini kemudian dilegalkan lewat aturan “bill of inclosure of commons, bill of reform dan poor law amandement”.

Di desa, rakyat yang sudah dipisahkan dari tanahnya secara sukarela harus melakukan urbanisasi untuk menjadi buruh di perusahaan yang muncul mewabah di Inggris pada waktu itu. Tidak ada pilihan lain selain menjual tenaga kerjanya walau hanya digaji sepotong roti dan beberapa buah kentang.

Di dalam proses akumulasi kapital, pada gilirannya akan melakukan ekspansi dalam hal mencari pasar baru dan tenaga produktif yang relatif murah. Ini kemudian kita sebut dengan istilah ‘imperialisme’.

Di Indonesia, sejak zaman kolonial sebenarnya sudah sangat sering terjadi proses pengkaplingan. Ini juga dilegalkan lewat peraturan. Pada tahun 1870, ada undang-undang pertanahan atau ‘agrarische wet’ yang dicetuskan oleh kalangan borjuis liberal setelah menguasai parlemen Belanda. Aturan ini berfungsi melegalkan proses komodifikasi tanah.

Marx mengistilahkan kegiatan seperti ini sebagai yang sesuatu yang awal, sebagai yang primitif dari proses akumulasi kapital itu sendiri (akumulasi primitif). Tidak ada nilai lebih kalau tidak dimulai dari proses penjarahan atau pemisahan produsen langsung dari basis produksinya. Ia bagian yang integral di dalam proses akumulasi modal kapitalis dan tidak akan pernah lepas sampai kapan pun dan di mana pun.

Jika kapitalisme itu adalah rumah, maka penjarahan, penipuan, dan pemaksaan adalah pintu. Kau tidak bisa masuk ke dalam dapur kalau tidak melewati pintu. Itulah kenyataan di dalam kapitalisme, kau tidak bisa melihat keuntungan lebih jika tidak dimulai dari sesuatu yang mengerikan.

Kau telah ditipu oleh wanita cantik yang sempat beberapa bulan berhubungan denganmu? Tak apa, hanya dengan mempersibuk diri, banyak nonton komedi, atau sesuatu yang mengalihkan pikiranmu, kau akan sedikit mendingan. Jika kau adalah seseorang tangguh, mungkin saja kau menemukan pengganti yang lebih (cantik, manis, dan sudah pasti setia) di dalam perjalananmu.

Tapi jika kau telanjur ditipu dan diisap oleh kapitalisme, itu ceritanya lebih rumit. Dampak kerusakannya jauh lebih besar dan mengerikan. Upaya menyelamatkan diri atas itu tidak semudah menonton film komedi atau sering datang ke warkop, dengan harapan ada cewe yang memberimu nomor kontak dan setiap malam siap menemanimu bercerita sesuatu yang absurd.

Untuk melepaskan diri, kau tak boleh sendiri, kau harus mengajak temanmu. Karena tak cukup oleh satu orang, tapi dia harus dilawan oleh banyak orang. Kenapa? Karena bukan hanya kamu tertipu, tetapi semua orang merasakan itu.

Rijal
Latest posts by Rijal (see all)