Curhatan Seorang Mantan Mahasiswa IAT

Curhatan Seorang Mantan Mahasiswa IAT
Foto: linkedin.com

Sebagai seorang mantan mahasiswa, sarjana muda (karena umur saya masih muda, di samping wajah saya yang memang terlihat selalu muda) yang pulang ke kampung halaman, saya merasa agak terasingkan. Bukan karena saya tidak pernah menyapa tetangga saat berjumpa, tetapi saya yang baru saja lulus beberapa bulan lalu mendapati suatu keadaan bisu. Bisu tak mampu mengaktualisasikan apa yang selama ini saya pelajari di kampus.

Saya sempat mikir, mungkin belum waktunya. Memangnya kapan waktunya? Toh juga sudah lulus, sudah jadi mantan mahasiswa.

Sebagai seorang yang bodoh dan masih belajar, tentu saya akan menyalahkan diri sendiri. “Kenapa nggak serius dulu waktu kuliah?”

Ah, penyesalan yang basi. Apa karena saya salah jurusan kali, ya? Atau mungkin memang ada yang salah dengan ‘sistem’. Ah, saya memang selalu menyalahkan. Tapi, mari kita coba untuk tidak simplistik.

Saya kuliah di jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT). “Waah kereen,” kata banyak teman yang biasanya nanya jurusan saat kenalan.

Keren memang. Tapi ingat, yang keren cuma jurusannya, bukan mahasiswa yang kuliah di jurusan itu. Mungkin ada sih mahasiswa yang keren, yang tiap hari tulisannya diterbitin di berbagai jurnal. Tapi, kalau mahasiswa macam saya yang keren, mungkin tampangnya saja, bukan keilmuwannya. Wkwkaka

Perlu diketahui ya, sodara, kuliah di jurusan tafsir bukan untuk belajar tafsir yang modelnya ngabsahin kitab kuning macam di pesantren. Jadi, siap-siap saja kecewa bagi yang ingin sekadar “ngaji ilmu agama” tapi masuk ke IAT. Anda ‘salah jurusan’.

Di IAT, prospeknya lebih dari itu. Belajar ulum al-Quran dan ulum al-Hadis hanya sebagai pengantar saja. Goolnya tentu saja sebagai seorang peneliti. Peniliti yang kritis dan tentunya progresif. Oleh karenanya, wajar jika yang diajarkan bukan hanya ulum al-Quran dan Hadis saja, tetapi metodologi penelitian lengkap dengan pendekatan, serta teori-teori ilmiahnya. Keren, kan?

Tetapi begini, sodara, jangan dikira jadi anak IAT itu seneng karena banyak pujian sebab keahlian dalam menafsirkan Quran. Yang masuk IAT itu tidak semuanya pernah jadi santri yang setiap hari dijejali kosa kata Arab. Banyak di antara teman-teman saya yang sama sekali buta kitab gundul. Sehingga, saat kuliah berlangsung, mereka hanya manggut-manggut saja.

Bikin makalah pun hanya pakai kitab terjemah, bahkan bikin skripsi. Sampai-sampai ada dosen menertawakan skripsi mahasiswa yang referensinya kitab terjemah.

Bayangkan! Sudah bikin skripsi berbulan-bulan, dibarengi pusing setiap hari, sampai nggak tidur semaleman (karena diselingi nonton film, eh). Belum lagi nyari referensi yang nggak bakal ditemuin di perpus yang katanya canggih itu. Lha, kok pas sidang diketawain dosen penguji? Sakiiiiit… Fahri sakiiit…

Tidak hanya itu, usai wisuda dan pulang ke kampung halaman, ditanya keluarga, “Ini hukumnya apa, le? Ini tafsirnya bagaimana, le?”.

“Eh, anu, pak dhe, saya kurang tahu e.”

“Lho, kok nggak tahu? Kamu ini gimana kuliahnya? Katanya jurusan tafsir? Kok nggak tahu? Kamu nggak kasihan apa bapakmu banting tulang dan peras darah buat kamu kuliah? Kamu ditanya gitu saja nggak tahu.”

Gimana, sodara? Nyesek, kan?

Apa cuma itu penderitaan anak IAT? Eh, siapa bilang? Perlu diketahui ya, jaman modern sekarang ini banyak orang yang kuliah karena alasan pekerjaan.

Dan, ketika saya ditanya lulusan IAT bakal kerja di mana, untuk menyenangkan hati si penanya, dengan sangat terpaksa saya jawab, “Banyaak, bro, lulusan IAT beda dengan lulusan jurusan lain. Kalau lulusan PAI, misalnya, lebih sempit prospek kerjanya, paling-paling juga jadi guru to?

Lulusan Hukum paling juga pengacara, jaksa, dan bidang hukum yang lain. Nah, kalau anak IAT peluangnya lebih banyak, bisa jadi Driver Gojek, bisa jadi tukang fotocopy, jualan martabak, jualan pulsa, bisa juga jualan seblak.” Hebat, kan, sodara?

Nggak hanya itu, sodara, saya pernah ditanya seorang cewek, “Kalau jurusan IAT ada magangnya nggak? Saya jawab saja sekenanya, “Magang jadi mufassir di Kemenag mbak.” Wkakaka.

Whatever, saya tetap bersyukur bisa kuliah di IAT, jadi mantan mahasiswa IAT sekarang. Paling tidak saya punya pilihan untuk tidak jadi alumni 212. Dan saya bisa tersenyum melihat teman sejurusan saya tertawa saat mendengar ceramah ustaz yang mengharamkan ucapan selamat Natal.

___________________

Artikel Terkait:
Muhammad Mufti Al Achsan
Muhammad Mufti Al Achsan 4 Articles
Lahir di Temanggung, Jawa Tengah. Nyantri di PP. Al-Munawwir Krapyak, Bantul. Lulusan Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2017. Hobi musik, futsal, dan nonton. Peminat kajian tafsir, filsafat, politik, dan interfaith.